Sekarang Semarang : another impulsive trip.

Dek, yuk sekarang ke Semarang. Kamu yang nyetir, berani ya! ~Ibu, Liburan Natal 2013


Hah?

saya yang baru pulang ngantor naruh tas kerja sambil melongo.

Sekarang? “Iya dek, itu udah Ibu packing kopernya.”

Nyetir? “Hehe. Kamu berani ya!” (kalimat berikut berakhiran tanda seru ya anak-anak, bukan tanda tanya. Jadi, ini adalah contoh kalimat perintah dengan susunan S-P-O…)

Widih.

Naga-naganya kemampuan nyetir saya yang pernah satu tempat les mengemudi sama Paul Walker bakal diuji ulang sama emak, Sang Gymkhana. Aduh. Tarik nafas bentar, kemudian seperti yang sudah-sudah, gak pake perhitungan weton dan perhitungan tanggal baik, saya langsung bilang : BERANGKAT BUK!

dan berangkatlah kita ke keras haribaan Pantura.

tertanggal 24 Desember 2013, menjelang tengah malam, Christmas Night kali ini dihabiskan di dalam mobil oleh ibuk saya, kakak saya, dan juara bertahan lomba mirip Megan Fox yang sedang anggun bertengger di balik kemudi. Kita bertiga termangu terjebak dibalik pantat truk trailer, somewhere in the middle of Tuban.

M a c e t p a r a h.

Parah. pake banget, pake supir yang pada turun ngeluarin ember, buka baju trus nari india nyuci kaca truk. segitu macetnya! Setelah dua jam berselang, barulah kita mulai pamer paha diranjang. Padat Merayap tanPa Harapan Di antrian panJang. hus.

Udah jenuh aku mendengar manisnya kata cinta lebih baik sendiri nyetir, mata udah berat, dan saya akhirnya menyerah. Kakak, yang seharian tadi habis capek muter-muter Surabaya nganterin sang kekasih, akhirnya uda dapet cukup istirahat dan cukup fit buat gantiin.

whoosaah. masih 200-an kilometer lagi, dan waktu udah menunjukkan pukul 1 malam, dan saya bertanggung jawab sebagai navigator-obat antingantuk-tempat curhat selama total 10 jam kakak nyetir. Bukannya sekali, sering ku mencoba tapi ku gagal lagi lobang dan gelombang di aspal Pantura mengagetkan kita dan memaksa mata ini lebih awas dari sebelumnya.

adzan subuh berkumandang tepat saat mulai memasuki Kabupaten Pati, kemudian berhentilah para Kafillah dalam perjalanan ke barat ini di Masjid Agung Pati. Masjid Baitunnur.

Camera 360

Camera 360

Sudah banyak jemaah yang datang. Bapak parkir juga sudah ganteng bertugas.

baru menginjakkan kaki melewati pagar masjid, saya langsung kena culture shock. yup. My normal dose of culture shock. Setiap ke Jawa Tengah, pasti ngeVetyVerain ini. *eh. ngalamin ding. Alam, Alam ya?. bukan kakaknya. Duh.

melihat saya datang, bapak penjaga masjid langsung berdiri dari bangku kayunya, mengucap salam dan tersenyum manis, semanis padanan sarung dan baju kokonya, lalu tanpa ditanya menunjukkan arah tempat wudhu wanita dengan ibu jari, tentunya dalam bentukan bahasa Jawa yang paling halus, Krama Inggil. Dan saya, peranakan Jawa-Madura yang tidak cakap dalam bercakap Jawa ataupun Madura, dan yang masih setengah ngantuk-suntuk gara-gara perjalanan panjang barusan, hanya bisa melongo sebentar.

Butuh sepersekian detik buat otak ini mencerna gestur ramah yang overwhelming ini, sebuah gestur yang jarang sekali saya dapat di Jawa Timur. Dan respon yang keluar hanya “Hah, Oh, emm nggih pak, iya terimakasih” ditambah sedikit senyum canggung dan anggukkan kepala. Oh iyaya beneran nih udah di Jawa tengah. Ujar saya dalam hati.

and now don’t get me started with the mosque. This mosque is gr!eat Arsitekturnya, kenyamanannya, kebersihannya, suasanannya, semuanya. Entah kenapa masjid ini membuat saya merasa arrivedRasa santai dan lega yang dirasa ketika sudah sampai tujuan, saya rasakan disini, padahal tujuan saya yang sebenarnya masih berjarak beberapa jam lagi. Ah. Segala Puji BagiNya.

Camera 360

Kempling. *tempat wudhunya!

Camera 360

Sayap kiri Masjid Baitunnur yang terhubung dengan tempat wudhu wanita.

Camera 360

Suasana dalam Masjid Baitunnur yang nyaman ber-penyejuk ruangan.

Camera 360

Sang Mutakif (orang yang ber-Itikkaf)

Sehabis sholat subuh berjamaah, berlanjutlah perjalanan kami ke barat  mencari kitab suci. Sekitar pukul 7 pagi kami tiba di Kota Semarang. Venice van JavaBeuh. Keren kan julukannya? kenapa dibilang mirip kota Venesia? Bukan, bukan karena rakyatnya mancung dan pinter main bola kaya rakyat Itali. Bukan, bukan karena tukang becaknya sekarang genjot Gondola. Bukan deh bukan, pokoknya bukan. duh emang istri saya sekarang sudah bukan berapa sih, Dok? *Nah. itu BUKAAN Dir. istri sapa mau lahiran?. 

Semarang itu Venisia nya Jawa karena..

132031706410_0000149 132031723910_0000149 OLYMPUS DIGITAL CAMERA

(foto dari sini dan sinu)

karena Rob. iya, bener banget. Rob Kardashian. *tidak! eh, Robert Pattinson. *tidak! tidak! bisa babi! bisa babi!

Rob adalah banjir yang diakibatkan oleh air laut yang pasang yang menggenangi daratan, merupakan permasalahan yang terjadi di daerah yang lebih rendah dari muka air laut. (wikipedia).

Semarang kaline banjir, jok sumelang rak dipikir.. inget lagu yang sering dinyanyiin Tia AFI dulu?

Nah, tapi selama belasan lebaran saya mudik ke semarang, belum pernah tuh terganggu dengan Rob ini, mungkin karena jaman saya sudah dibangun reservoir atau penampungan air besar di depan stasiun. (emm ukuran kolam penampungan air nya besar.red).

Beside that, Semarang is an AWESOME city. Campuran yang pas antar kota metropolitan dan kota budaya. Dan yang paling saya suka adalah : SEMARANG PEOPLE LOVE TO EAT. yes. they do. kuliner disini banyak banget. tidak pandang tempat, di trotoar pinggir jalan, di rooftop hotel, di cafe di atas bukit, di mana aja, asalkan masakannya enak. pasti banyak banget yang dateng. Tips saya :

if you are looking for a place to eat in Semarang, drive downtown, look for the crowdest restaurant/cafe/warung. particularly, look where Tionghoa people are eating. I can bet that place sells good food.

yang saya suka :
mtf_KGxwZ_166??????????

NASI LIWET a.k.a NASI AYAM
sederhana, tapi enaknya bikin saya kangen ke Semarang lagi.
tempatnya di depan sekolah swasta, bukanya kalo pagi.

??????????

KUE MOCHI. ini versi originalnya. dijual dalam kotak bambu (besek) dan kata ibuk, rasanya gak pernah berubah dari ibu kecil. belinya di dekat stasiun.
g

grill and grill (?). cafe yang ada di dekat rumah sakit terkenal di Semarang ini enak buat nongkrong, suasanya cozy, desain interiornya unik banget, makanannya pun okee. lumayan lah buat yang kepingin bergaul di Semarang.

??????????

TAHU PETIS ini legendaris banget. nget. nget. warungnya buka setelah maghrib, dan kalau datang kemaleman dikit pasti nih tahu udah ludes kejual. tahunya garing crispy, dan yang seru kita bisa isi fillingnya sendiri dengan petis. Petis dengan taburan dan aroma bawang putih yang luar biasa. oh ya, jangan lupa mam nya pake cabe hijau nya ya. tempatnya di tengah kota.
??????????

NAGA. atau NASI GANDUL. jangan lewatin menu ini kalo ke Semarang. sebenarnya Naga ini asli dari Pati, tapi banyak juga yang jual di Semarang. Kuah kaldu yang ringan ditambah empal daging, telur bacem dan teman-temannya, enak banget!??????????TAHU GIMBAL. ini jajan siang favorit saya, apalagi kalo ditemenin sama dawet duren. lokasinya di dekat simpang lima, kalau gak salah Segitiga Emas nama “foodcourt” nya. Jadi Tahu Gimbal ini hampir sama seperti Tahu Tek di Sidoarjo, bedanya disini petisnya tidak terlalu kuat, dan ada GIMBAL nya. (bukan, bukan rontokkan rambut mbah Surip). Ada udang di balik Gimbal. itu. enak. pemirsa.

Sekian. sekelumit kuliner semarang favorit saya, yang di-review secara singkat, padat, dan kurang akurat. *Maaf ya, nih saya tambahin biar tambah Accurate.

Iklan

My Kind of Sundays.

Hari minggu. Hari yang paling pendek dalam seminggu.

Ya gak sih?

Cepet banget lewatnya. Kayak gebetan yang baru diprospek eh tiba tiba kirim undangan.

Well. Tapi hari-hari minggu saya di tahun 2014 ini lebih kayak celana yang sering saya lihat dipakai sama perempuan-perempuan di mall jaman sekarang. Pendek dan rawan masuk angin sih, tapi nyenengin.

Post ini ditulis sehabis ritual gosok-menggosok Minyak Ban Leng andalan ke paha kiri atas selesei. Paha kiri saya yang naas menahan berat badan waktu kepeleset di deket air terjun Cuban Baung kapan hari.

Sambil kusuk-kusuk barusan, saya tersadar. Rasanya sebulan kebelakang hari minggu saya selalu epic. Selalu.

Dan beneran. Setelah check folder foto Path dan camera 360. Iya. Setiap minggu. Tanpa jeda pariwara.

Ada aja dokumentasi saya lagi di sungai, gunung, sawah, lautan… Simpanan kejayaan. Kini ibu sedang lara. Merintih dan berdoa…. *ini lagu apa yak.

Nah. Post ini adalah tribute to my epic sundays. My kind of Sundays.

PS : sebenernya saya mau bikin post satu-satu tiap jalan-jalan yang saya jalan-jalani. Mau sih, tapi malu. Malu soalnya saya masih banyak alasan..eh urusan..eh kerjaan..eh. Yah. Pokoknya niat itu setengah dari amalan kan? Nah. Saya uda niat untuk memperpanjang caption-caption di foto-foto berikut menjadi postingan-postingan yang epic. Se-epic weekends saya. Semoga niat ini cepet terkabul a.k.a ter-tessy.

Amin.

Yah diitung aja deh ini semacam trailer posts saya kedepannya. Oke kan?. *mulai pijitin bapak supir trailer-nya.

Siaaaap?

Oke kita mulai dari Grup Dut!

P.P.S : note to self : posting bukan kehamilan Nadhira, gak perlu kamu tunda-tunda!

mtf_KGxwZ_166[1]

25 – 27 Des 2013. Long weekend.
Tempat : Semarang.
Perihal : mengunjungi nenek, kuliner di semarang, reuni teman lama, jalan-jalanin mama.
Pulangnya lewat pantura sempat mampir ke RA Kartini Jepara dan Goa Akbar Tuban

4 Jan 2013 Tempat : Restoran Apung Perihal : lunch bareng anak kantor. Biasa? Kagak. Namanya nih Apung ya? Padahal tuh resto mancep tanah. Ga ada kolam, ga ada apa-apa. Trus kita tanya yang terapung apa mas? Ke waiternya. Dia senyum. Kemudian petir menyambar. Awan hitam datang. Suasana mencekam. Hujan deras mengguyur. Kemudian? Kita terapung. *jeng jeng jeng.

4 Jan 2013
Tempat : Restoran Apung
Perihal : lunch bareng anak kantor. Biasa? Kagak. Namanya nih Apung ya? Padahal tuh resto mancep tanah. Ga ada kolam, ga ada apa-apa. Trus kita tanya yang terapung apa mas? Ke waiternya. Dia senyum. Kemudian petir menyambar. Awan hitam datang. Suasana mencekam. Hujan deras mengguyur. Kemudian? Kita terapung. *jeng jeng jeng.

mtf_KGxwZ_207

12 Januari 2014

Tempat : SIDOARJO (Alun-alun, Pemancingan Minapolitan, Bebek Kerto, Pazkul, NAV)

Perihal : Main. (aja)

Berhubung saya dianugerahi teman-teman yang agak wajar, ya begini main saya sama mereka. Kalo orang lain, sekali keluar main itu ke cafe aja, mancing aja, hunting foto aja, karaoke aja, makan-makan aja, jalan-jalan aja, main ding-dong aja, atau jaja miharja. Tapi saya dan 3 kawan karib ngelakuin SEMUANYA. Puas? Lemas.

mtf_KGxwZ_180

14 Januari 2014
Tempat: Kediaman.
Perihal : Arisan keluarga besar bahagia.
Besar. Sebesar 68 kepala. Anak-turun dari satu pasang suami-istri. Moh. Rifai (Alm.) dan Siti Honaina (Alm.). Didampingi OM (paman ya, paman. bukan Orkes melayu.red) saya menyumbangkan sebuah lagu dengan sumbang. Bintang Kehidupan oleh Nike Ardila. Sontak, semua gembira.

Camera 360

19 Januari 2014
Tempat : Sungai di Sidoarjo. Tepatnya desa Ketingan, Sidoarjo.
Perihal : NYADRAN LAUT. bisa dibaca di sini 
Berawal dari penasaran, berakhir dengan kepanasan. di sungai. bareng para nelayan. Epic loh. 15 tahun tinggal di Sidoarjo, saya belum pernah tahu ada acara tahunan ini, bahkan belum pernah nyadar kalo banyak nelayan di Sidoarjo, bahkan belum pernah ngeh kalo rumah saya itu hanya sejam dari laut lepas. *duh. maaf. *malu.

25 Januari 2014
Tempat : Kediaman Yenyen. Porong, Sidoarjo.
Perihal : Yenyen & Una’s Engagement Party.
Masih inget kawan-kawan saya yang agak wajar tadi? Nah, ini foto sebagian dari mereka, dalam versi tidak gembel, sedang mendatangi momen bahagia seorang kawan. Setelah 7 tahun berpacaran, mulai momen ini kedepannya Yenyen dan Una akan berpacaran dengan pakai cincin kembaran (bertunangan.red). Semoga cepat menikah ya. Amin. 🙂

Camera 360

31 Januari 2014
Tempat : Pamorbaya. Pantai Timur Surabaya.
Perihal : Jalan-jalan bareng mama, kakak, pacar kakak, dan makyuk the super housemaid.
Dan. Pacar kakak ternyata juga baru sadar kalo laut hanya berjarak setengah jam dari rumahnya di kawasan Rungkut. Haha. Dari jalan-jalan ini, fix saya menambahkan 1 lagi di List Harapan. Catch Sunrise on the East-est Shore of Surabaya. Isn’t it sounds great, to pack breakfast, leave home before subuh, book a boat, and enjoy the rising sun with a cup of hot coffee in hand, off shore. Memang masih banyak sampah plastik berseliweran disana-sini, dan jembatan bambu yang biasa dipakai berfoto sudah rusak dimakan usia, tapi look at the brightside, wildlife disini masih lumayan bagus, burung-burung liar yang bergerombol mencari makan, bahkan pak nahkoda kapal (ceileh) bilang kalau beruntung kita bisa lihat segerombolan monyet-monyet liar. wow. bisa-lah dicatat untuk jadi spot foto paska-wedding saya besok. oya! dan mengendarai (?) kapal itu menyenangkan! I mean, take the steering wheel (?) and drive (?) the boat is so much fun! apalagi lumayan banyak belokan di sungai yang dilewati sebelum akhirnya sampai ke laut.
oya! CP nya bisa hubungi Pak Grama 081553750700

mtf_KGxwZ_247

2 Januari 2014
Tempat : Gunung Bromo, Alun-alun kota Batu
Perihal : Pengalaman pertama membuat Open Trip
ada senangnya, ada serunya, banyak deg-deg-annya. haha. nanti deh saya ceritakan lebih lengkap tentang perjalanan saya ini. tapi the highlight is, just yesterday I enjoyed the sea breeze, the hot and bright sun off shore, dan besoknya saya sudah berada 2770 meter diatas permukaan laut! haha. kalo Weather-lag itu ada, weekend ini saya pasti sudah Weather-lag.

Camera 360

9 Januari 2014
Tempat : Tambang Pasir di Gempol, Air Terjun Cuban Baung di Pasuruan.
Perihal : Jogging Minggu Pagi. (aja.)
wajarnya minggu pagi jogging dimana sih emang? GOR, Alun-alun, atau jalanan-bebas-mobil di tengah kota. Hemm. Saya dan 5 kawan saya yang agak wajar menghabiskan minggu pagi lari-larian di tambang pasir. sounds lame? nope, if you see that this hidden place is overlooking Gunung Penanggungan, dan karena siang itu cerah banget, kita bisa lihat Gunung Gajahmungkur, dan Kompleks Gunung Arjuno di belakangnya. Kenapa saya bilang “hidden place“? karena, tempat ini dekat aja, duh kalau lancar setengah jam kali dari kamar tidur saya, dan saya baru tau ada spot se-awesome ini!. Lebih awesome-nya lagi saya juga baru tau ada “hidden waterfall” di belakang kebun raya purwodadi bernama Air Terjun Cuban Baung. Duh. Duh. dan menurut saya air terjun yang gak jauh-jauh banget dari rumah ini lebih keren dari Air Terjun Dolo di Kediri, Cuban Pelangi, Cuban Rondo, dan beberapa cuban lain yang pernah saya datangi di masa perkuliahan saya dulu. Lebih keren gimana? Ah besok yaa saya ceritakan.

<

p style=”text-align:center;”>16 Januari 2014
Tempat : Mercure Grand Mirama Hotel Surabaya
Perihal : untuk pertama kalinya saya menangkap buket bunga yang dilemparkan oleh pengantin. iya, gestur ritual di pernikahan-pernikahan yang sering kita lihat di tipi itu. “we are calling all the singles in the room to come forward”, said the MC. serta merta refleks simpatik dan motorik saya membawa badan ini maju ke depan panggung. depan sendiri, ditemani senyum di gigi, dan perasaan awkward di dalam hati. haha. 3, 2, 1, lempar! dan kemudian refleks simpatik dan motorik saya pula yang serta merta menyamber buket mawar pink yang nyaris ditangkap saingan saya cece bridesmaid di samping saya. Hap. dan hening sebentar. (mungkin karena the bride lebih kepingin sahabat karibnya mendapat buket bunga itu). dan saya hanya bisa nyengir manja.
respon ibuk : “waduh, berarti habis ini ibuk harus cepet siap-siap.”
hahaha. sebenernya sih bukan superstition itu yang bikin saya senang, tapi angpau setengah juta yang ternyata menyertainya buket ini. Hahaha. Terimakasih cece dan koko. semoga langgeng dan samara!

Detik-Detik Kepulangan. An Epic End. (part 1)

Udah eneng nya mah santai aja, banyak tuh penumpang Sukhoi yang bersyukur ketinggalan pesawat gara-gara macet di tol..” ~Bapak Penumpang Travel,2013

Monday Afternoon, December 2nd ,2013

13.45

Hujan DERES

Antri batagor Kingsley sambil googling no travel se-bandung.

Telpon cipaganti – gak bisa

telpon lagi – sibuk.

Telpon lagi – ada travel ke bandara jam 16.00 harga 195 rebu. Buru-buru tutup telepon.

Telpon city trans – gak bisa

Telpon day trans – gak bisa

cek pulsa – aduhdek! pantesan aja gak bisa. Pinjem hape Dea.

Telpon X-trans – ada travel ke bandara dari Cihampelas jam 16.30 harga 90 rebu doang. Sip. Booked.

14.30

on the way ke Lawangwangi gallery di Dago Pakar.

Berhubung gue gak tau tempat dan jarak di bandung, gue nurut aja waktu Dea ngajakin kesana.

Padahal naik jauh. Jauh. Pake macet.

15.07

baru nyampe Gallery. Tempatnya dari luar aja uda bagus, view nya keren, banyak patung-patung kontemporer. Getting excited

Mau mulai poto, diusir satpam. Ternyata senin tutup. Pak kita cuma berdua aja. SENIN TUTUP. Pak kita poto-poto di depan aja. SE-NIN-TU-TUP. Pak saya jauh jauh dari surabaya. S-E-N-I-N-T-U-T-U-P NENG. *Headline Radar Bandung keesokan hari : Seorang Satpam Ditemukan di Lembah Sekitar Dago Pakar, Ditengarai karena Amarah Pengunjung. *ngaco ih.

15.10

sedih, kedinginan, kelaperan.

Dea ngajakin ada cafe di daerah situ. Gue campuran antara gak tau jalan, gak tau waktu, dan gak tau diri mengiyakan ajakan Dea ke cafe Congo.

Puter balik. Jalannya naek. Lumayan jauh.

15.30

Cafe nya bagus, view nya bagus, masalahnya cuma waktunya gak tepat.

Gue pesen nasi ayam sama esteh 75 rebu. *dalam ati gue bisa ngerasain backpack gue kecewa sama gue, “lu backpacker bukan sih ngafe melulu??”

16.07

baru kelar dari cafe Congo. Turun ke cihampelas pool travel X-trans.

Travel gue 20 menit lagi berangkat. Jalanan Macet.

Gue liat dea, LEMPENG. *salut gue sama cara dia nyembunyiin panik nya. Gue yakin dalam hati dia panik soalnya waktu itu dia ga tau tempat pastinya X-trans dmn. (gue sempet ngelirik dia nge-line temennya di iPad).

Tangan gue mulai dingin. Berusaha buat tetep keliatan santai tapi otak gue muter terus. Entah kenapa gue tetep fokus ke apa yang bisa gue lakuin waktu itu, bukan fokus ke hal buruk apa yang bakal terjadi kalo gue ketinggalan travel, ato ketinggalan pesawat, ato lebih parah, ketinggalan jaman kayak si Doel anak Betawi Asli.

Makasih buat bung Arif Abdillah yg uda ngingetin buat web check-in air asia. Bbm situ punya peran besar di nasib gue di trip ini.

16.20

Gue teror terus pool X-trans di Cihampelas.

Berapa kali gak diangkat.

Akhirnya nyambung, dan gue melas minta tolong ditungguin. Si doi tanya posisi gue, gue bilang masih di DAGO, kemudian langsung deh gue ditolak setengah mateng, kata doi ga mungkinlah gue bisa nyampe Cihampelas 10 menit. Gue disaranin langsung ngejar ke pool di Jalan Pasteur.

16.40

baru nyampe jalan Pasteur.

Jalanan masih merambat kaya ingus yg pelan-pelan turun ke bibir kalo lagi pilek. *jijik ih

Gue waktu itu sibuk web check in, si Dea sibuk nge-line temennya, sambil nyetir, sambil nyari tulisan X-trans di kiri jalan, dan bu Ani sibuk cari objek foto, sambil mijitin pak Esbeye…

Alhasil, sampe BTC fashion mall si Dea baru nyadar kalo kita KEBABLASAN.

Kita cari puter balik. Dan JAUH.

17.02

Setelah cipika-cipiki dan ngucapain terimakasih kilat, Gue gendong backpack gue yg mulai obesitas dan mutusin untuk turun dari mobil dan jalan kaki.

Gue naik ke jembatan penyeberangan sambil nelpon pool Xtrans nanya arah. Si doske bilang masih jauh neng LURUS AJA itu 300 meter dari jembatan penyebrangan.

Nah. Logika. Traffic itu ke arah timur. Jadi kalo clue nya LURUS AJA, otomatis gue jalan ke TIMUR kan??

Jalan deh gue sambil buru-buru, beberapa pengendara motor pada noleh ngeliatin gue, mungkin gara-gara backpack gue, gue dikira titisannya Jin Kura-Kura guru nya Son Goku itu. Hahaha.

Dikit-dikit gue tanya orang, banyak yang gak tau, dan ada 2 ato 3 orang nyaranin gue LANJUT AJA ke timur.

17.20

Sampe RS Bersalin Hermina, betis gue mulai kerasa tebel, dengkul uda agak linu, feeling uda gak enak.

Gue telpon X-trans Pasteur lagi. Daaaaan feeling gue bener. Waktu gue bilang gue jalan sampe RS Hermina, si doske dengan cepet jawab, “ENENG MAH SALAH ARAH”

Jedier. Petir nyamber betis gue.

Gue langsung balik arah.

Gila.

Travel gue 10 menit lagi berangkat. Dan gue mesti jalan kaki beberapa tahun cahaya lagi.

Aaaak. Coba gue bener-bener titisan Master Roshin si gurunya Goku nah gue baru inget namanya kan gue bisa abonemen awan yg bisa antar-jemput itu.

17.45

dari jauh keliatan travel X-trans yg uda mau berangkat.

What? no. no. please. no.

Gue buru-buru lari dan gedor2 pintu travel itu. Si sopir buka jendela “mau ke kelapa gading neng?”

oh. itu bukan travel pesenan gue. Fiuh.

Wait? What?? jangan2 travel gue uda berangkat.

Langsung deh gue lari2 ke receptionist nya.

Dan ternyataaaaaaaa…

a’ak2 receptionist yg ngasi gue clue gak jelas dan bikin gue nyasar tadi cakep. Pake banget dan jambang. *bete gue berkurang beberapa persen. *salah fokus.

Setelah gue tanya doske, ternyata eh ternyataaaaaaaa…

sakit nya karena di guna-gunaaaa.

*duh. Kenapa mbah dukun yg muncul.

yaudah

Bersambung aja deh

Kayaknya gue mau kangen-kangenan sama Alam dan Vety Vera..

(( ini part 2 nya kakaak ))

Detik-Detik Kepulangan. An Epic End. (part 2)

kalau Allah memberi, tidak akan ada yang bisa mencegah. Kalau Allah mencegah, tidak akan ada yang bisa memberi” ~ungkapan Jawa.

bagian kedua dari penghujung trip yg epic ini bakalan agak lebih serius. *ceileh

Soalnya di bagian ini gue bener-bener ngerasain apa yang gue niatin cari dari awal berangkat trip.

Pelajaran Hidup.

Cliché? Norak? Terserah.

Yang jelas gue bersyukur bgt uda dikasih pelajaran berharga sama Yang Diatas.

Waktu nunjukin pukul 17.40.

dan travel yang kutunggu-kutunggu, tiada yang datang. Dan ku telah lelah berdiri-berdiri, menanti-nanti. Bila ku pergi bersama teman-temaaaaan. *dih. Katanya serius?

Emmm intinya travel gue belum dateng. Perasaan campur-campur antara deg-deg an takut gak keburu kejar pesawat gue yang take off jam 22.35 dari Bandara Soekarno Hatta, sama lega juga karena gue bisa ke bandara dan gak ketinggalan travel.

17.50 travel gue dateng ke pool pasteur.

Begitu gue naek, pak sopir langsung tanya, flight jam berapa neng? Jam 22.35 pak, bapak semangat ya! Waduh neng mungkin bisa keburu, tapi gak janji ya. Ngeliat kanan kiri kondisi pintu masuk tol Pasteur aja padet banget. Gue bisa ngerasain pak sopir travel gue cemas.

Cuma ada 2 penumpang dalam travel waktu itu. Mbak yang kerja di Bandara, sama Bapak dari Ambon yang tiap bulan jengukin anaknya di IPDN.

Pernah denger kalo dalam travelling sering kita ketemu orang-orang yang bakal kita inget terus? Nah Bapak ini salah satu dari orang-orang itu. Unik abis.

Fokus pertama gue waktu itu : TIDUR. Iya tidur. Se-tegang apapun gue, gak bakal ada yang bisa gue lakuin, besok pagi gue harus kerja, dan gue harus bersiap buat worst case scenario which is miss the flight and sleep at the airport! Jauh lebih aman dan nyaman tidur di travel ini kan daripada mushola Soetta? Jadi gue berusaha nenangin diri gue, pikiran negatif dikurangin, sholawat nabi dibanyakin. Dan gue bisa tidur. Pules. 3 jam.

Mungkin gue diem-diem disuntik Anti-anxietas sama Yang Diatas, yang jelas gue gak ngerasa apa-apa waktu udah menunjukkan 21.40 dan travel yang gue naikin masih ngantri masuk gerbang tol Halim. 35 km lagi ke bandara. Gue pasrah. Udah itu aja.

Sebenernya gue gak pingin orang rumah panik, jadi gue sengaja gak ngabarin detil yang aneh-aneh, tapi feeling gue bilang bohong sama orang tua disaat genting kayak gini will make things worse. Akhirnya gue jawab semua pertanyaan bapak ibu dengan kalem dan apa adanya. Otomatis. Sidoarjo heboh.

Di saat kaya gitu, Bapak dari Ambon yang gue sebutin tadi dengan baiknya berusaha nenangin gue. Awal-awal masih kerasa optimisme beliau, nyampe mbak, nyampe pasti, mbak tenang aja. Waktu jam udah mulai mepet dan suasana mulai tegang, puff, optimisme itu ilang, yang ada beliau berusaha ngehibur gue..dengan cerita tentang… SUKHOI JOY FLIGHT. Iya. Sukhoi. Tentang betapa bahagianya orang-orang yang terlambat naik pesawat itu gara-gara kena macet di tol. Travel seketika hening.

Gue hampir nelen aqua gelas yang lagi gue minum. Paaaaakk tulung paakk darimana cerita tentang pesawat karam bisa bikin saya tenang disituasi kayak giniii?

Tol jakarta malam itu benar-benar gak bersahabat. Macet panjang. Pak sopir gue uda berusaha secepat mungkin nyampe tanpa membahayakan penumpangnya, Bapak dari Ambon barusan ngelanjutin cerita tentang pencarian jasad korban Sukhoi, Bapak Ibu gue dirumah sibuk nyariin gue penginepan malem itu, dan gue? Gue lempeng. Gak deg-deg an. Tangan gue gak dingin. Dalam hati gue nyadar, apapun yang terjadi itu persis sesuai sama skenarioNya, dan apapun itu bakal gue ambil hikmahnya.

22.30, lima menit sebelum jadwal pesawat gue take off, gue baru nyampe terminal 3 bandara soekarno hatta. Begitu travel berhenti gue langsung pamit dan lompat turun. Lari secepet yang gue bisa. Ngelempar backpack dan tas kecil gue ke x-ray. Langsung menuju counter dengan tulisan AirAsia diatasnya. Belum sempat gue bilang apa-apa, gue langsung ditanya sama mas di counter : Sudah Check-in?. Dengan lantang gue bilang : Sudah! Pesawatnya masih ada mas? Iya. Delay 30 menit.

Jeng. Jeng. Jeng. Seketika confetti turun dari langit-langit Soetta. Muncul pelangi warna-warni. Baju satpam tiba-tiba jadi kerlap-kerlip.

SubhanaLLAH. Ini yang namanya devine intervention.

Kalo gue ketinggalan pesawat ini, gue mungkin bakal menghabiskan malam kedinginan di mushola Soetta, nguras rekenening gue buat beli tiket go-show ke surabaya, orang tua gue bakal gak percaya sama proposal trip gue kedepannya, dan bakal susah banget buat nge-trip lagi.

tapi semua itu gak terjadi. AlhamduliLLAH.

Setengah jam. Pesawat itu delay hanya setengah jam. Seakan hanya nungguin gue dateng. Huhuhu.

Gue simpatik buat mbak-mbak yang ke counter Air Asia tepat setelah gue, rupanya dia belum sempat web-check in, semena-mena mas di counternya nolak dan mbak itu langsung lemes. Gak sempet bilang apa-apa mas nya uda nyuruh gue buru-buru ke gate 5.

10 menit gue di gate 5. telpon orang rumah, ngabarin Dea host gue di Bandung, ngabarin kakak yang jemput di juanda.

Gue boarding. See you Jakarta….

Selama flight gue cuma bisa bersyukur banyak-banyak.

Dan dari kejadian malem ini gue bener-bener paham arti dari dzikir yang bapak gue ajarin dari kecil tiap keluar rumah

“Bismillahi tawakkaltu alallahi, walaa haula wala quwwata illa billah”

Bahwa tiada daya kekuatan selain daya kekuatan Nya…

Amazingly Random Date at Bandung

beneran ini Cucak Rawa? buntutnya kok biasa aja? gak banyak bulunya, gak goyang-goyang, gak panjang juga. Ah gak menarik ah.” ~Dea, 2013

Monday Morning, December 2nd ,2013

This day started off fine, rintik-rintik hujan menghiasi Jatinangor pagi itu..

Suara kalkun punya tetangga kosan teman gue yg bangunin gue. *buset aneh bgt yak suaranya? Kaya ayam Jago abis nelen pahit nya hidup. Haha. Sumpah deh, ini #pertamakali gue denger suara kalkun.

Mandi, Packing, Dandan. Semuanya kilat 15 menit jadi, gak kalah deh sama cetak foto xerox.

*Dandan dir? Ngaaapz, katanya backpacker lah, gembel lah, masa masih sok unyu pake dandan segala.

Lho jangan salaaah.

Kata para traveller kawakan, Leave nothing but footprints, Take nothing but pictures kan.

Nah mempertimbangkan gue cuma bisa ambil poto doang, gue memutuskan gak pengen keliatan bulukan dan gak upload-able kalo di poto.

Jadi deh gue berbekal “obat-obat ayu” andalan gue (yg uda dimodif supaya ringkes dan ga berat cocok bgt deh buat travelling. *ntar bakal dibahas di postingan laen. *kalo inget *kalo sempet *agak-PHP gpp ya)

Berangkat dah gue ama Dea.

Kenalin Dea, anak Hubungan Internasional UNPAD asal semarang yang manis abis ini malaikat penolong gue di Bandung. Kita kenal belasan taun lalu pas jaman SD, secara dia anak sahabatnya mama. Anaknya smart, asik, enak diajak ngobrol, daaan single loh!

Camera 360

Behind the scene syuting Iklan Buryam Zaenal.

Jam 7.00 kita berangkat dari kosan nya di Jatinangor ke Bandung buat hunting sarapan.

Apalagi yang lebih pas buat sarapan di bandung kalo gak Bubur Ayam.

Dibawalah gue ke daerah dago atas, beberapa menit setelah puter balik dari McD Dago.

Namanya Bubur Ayam Zaenal, dikiri jalan.

Camera 360

sok atuh mampir kalo lagi di Bandung. worth it.

*bukan. Bukan punya Zaenal Abidin Domba. Gue uda cek.

Image

(bukan) pemilik.

Dari depan keliatan etalase putih dengan kaca besar ala rumah makan padang,

gue sempet kaget lihat daftar harga yg ditempel disitu. Kalo ga salah kaya gini :

Bubur Ayam Biasa : 20.000

Bubur Ayam Telor : 22.000

Bubur Ayam Ati-Ampela : 22.000

Bubur Ayam Special : 24.000

what? Mahal amit.

Untung sebelum gue pesen si Dea bilang kalo porsi normal nya itu gede banget, dan bisa kok kalo mau pesen porsi kecil.

Akhirnya setelah menimbang-nimbang bayi di puskesmas terdekat, gue pesen Bubur Ayam Ati-Ampela porsi kecil. 18.000

lumayan mahal juga dibanding buryam langganan gue di Sidoarjo yg cuma 8.000

Tapi. Tapi. Tapi dek. Worth IT. Banget.

Nggak berlebihan kalo gue bilang ini bubur terenak yang pernah gue makan seumur-umur. Mulai dari jaman gue masih makan bubur bayi sampe bubur kertas. Ini yang paling enaaakkkk!

Gak pake pesen, teh anget tawar dateng ke meja gue.

Bisa dicatat, teh anget tawar gratis merupakan common courtessy di warung-warung bandung, klo lagi pingin minum yang lain, buru-buru bilang ya sebelum teh anget tawar nya dateng.

Bubur ayam gue dateng.

Mari dibahas pemerian nya dulu,

di mangkok gue ada bubur, ada ayam suwir, ada cakue, ada ati sama ampela, ditaburin bawang goreng sama daun bawang. Asap nya masih ngebul.

Camera 360

(disclaimer) yang bisa dinikmati buryam sama teh anget aja, yang dibelakangnya uda punya orang.

Sederhana bingit.

Dea uda buru-buru nambahin kecap manis, kecap ikan, sama sambel dari botol-botol di meja gue ke mangkoknya. Kayaknya Dea uda tau takaran yang paling pas sama seleranya.

Tapi gue kan belum, makanya gue cicipin dulu rasanya yang ORI.

Hemm ga usah ditambahin apa-apa ternyata uda enak banget! Asin nya ayam, gurih nya cakue, manis nya ati-Ampela ayam, nyampur bareng lembut dan hangatnya bubur.

Beda ama bubur ayam langganan gue di sidoarjo, bubur ini gak pake kuah kaldu. Jadi kering gitu.

Nah buat yang demen asin, buburnya bisa ditambahin kecap ikan (ini juga gak ada di Sidoarjo). Kalo yang demen manis ato pedes, bisa ditambahin kecap manis ato sambel. Kalo yg demen tapi cuma dianggap temen, bisa ditambahin sabar nya aja yaaaa.. *pukpuk

kalo gue pribadi emang gak suka liat makanan gue acak-acakan, jadi gue biasanya nyusun toge di pecel gue lurus-lurus sebelum gue makan. *gak gitu juga ding. Yang bener, gue gak suka ngaduk-ngaduk bubur gue sampe homogen coklat-coklat gitu, gue lebih suka bisa liat bentuk makanan yg gue masukin mulut, jadi gue bisa mastiin dari awal sampe akhir di tiap sendokan gue ada bubur, ayam, ati-ampela, sama cakue nya.

Rada freak sih. Tapi tetep imut-imut gimana gitu kan? Ya? Ya!

Perut kenyang. Hati senang.

Rencana kita lanjut ke daerah ITB. Jalan jalan di dalem ITB yang rimbun.

Tapi sayang kita ga dapet parkir..

akhirnya harus muter deh, dan lewat Kebun Binatang Bandung.

Otak gue yang rada ga meainstream langsung ngasih ide buat jalan dan poto-poto disana. Toh kalo ga seru, kita bisa langsung balik. Dea kaget sambil ketawa geli, tapi dia setuju.

Tiketnya cuma 15.500 seorang.

Waktu itu uda sekitar jam 09.30, tapi suasana Bandung lagi enak bangeeet. Apalagi di dalem Bonbin yang kayak hutan.. ampuh banget bikin pikiran fresh! *mari tarik napas dalem-dalem. Jepit. Jepiiit. Tahan. *idih ini mah senam ibu-ibu komplek.

Oya, ada semacam mentos *eh mitos yang beredar di kalangan mahasiswa-mahasiswi ITB tentang Kebun Binatang Bandung, kurang lebih kedengeran kayak gini : “Barangsiapa berkunjung ke Kebun Binatang Bandung sebelum menyelesaikan masa perkuliahan, niscaya tidak akan segera merasakan nikmatnya kelulusan.” nah lho. iya lah, orang jalan-jalan nya pas masih Ospek, ya masih lama wisudanya.

Yang gue suka dari Kebun Binatang Bandung :

  • rindang, banyak pohon.
  • Binatang nya lumayan lengkap, mulai macan sampai cucak rawa ada di sini.
  • Bisa jadi alternatif seru buat piknik bareng temen-temen.
  • Tempat nya di tengah kota. Bagus nih buat paru-paru kota Bandung.
  • Banyak yg bisa dijadiin objek foto. Cocok buat hunting.
  • Kalo rada nekat, bisa kok foto deketan ama gajah yang lagi makan tebu. Unyu banget gajahnya.
  • Camera 360

    Dhira, Dea, dan Bona Gajah Kecil Berbelalai Panjang yg sekarang udah masuk masa pubertas.

Yang rada gue sesalin dari Kebun Binatang Bandung :

  • agak jorok, banyak sampah. Tapi mungkin karena itu masih pagi jadi bapak bersih-bersih nya baru mulai kerja. (husnudzon).
  • Gak ada penunjuk jalan yang cukup. Jadi kita bisa kesasar kalo ga tanya orang. Dan ada kemungkinan gede kita ga liat beberapa jenis hewan disana karena kita gak tau jalan kekandangnya.
  • Nama binatang dan keterangan asal-muasal nya banyak yang gak ada, yang ada pun kurang menarik dan informatif.
  • Banyak binatang yang gue rasa kandangnya gak proporsional sama dia. Contohnya nih tapir yang sendirian kandangnya jauh lebih gede dari 5 beruang madu. Jadi gue kasian liat beruang-beruang itu mondar-mandir di kandangnya yang kecil kaya kesurupan.
  • Banyak binatang yang sendirian, singa, orang utan, macan dll pada keliatan lemes sendirian di kandang betonnya yang sempit. Gue ngerasa kaya liat binatang lagi dihukum penjara. Mestinya menurut gue kandang dan jumlah binatangnya mesti disesuaikan sama habitat asli dia. Kalo binatang yang hidupnya berkelompok, mestinya jumlah di Kebun Binatang Bandung ini lebih dari satu.

Dua jam kita puter-puter disana. Uda capek, kita mutusin untuk nongkrong dan nyobain jajanan khas bandung. Pilihan jatuh ke yoghurt Cisangkuy, dan Pasar Cisangkuy.

Yoghurt Cisangkuy tempatnya enak, gue pilih Lychee Special Juice seharga 18.000. emm rasanyaaa..enak kaya yoghurt leci.

Camera 360

Camera 360

suasana di kota santri. eh. di Yoghurt Cisangkuy.

abis itu kita ke Pasar Cisangkuy di sebelahnya, nih lebih mirip food court bergengsi daripada pasar. Ada yg pernah ke eat & eat di Surabaya? Nah tempatnya mirip deh. Gue pesen Lumpia Basah Ayam disana. Gak seperti lumpia yang gue bayangin, ini lebih kaya eseng-eseng kecap toge telur ma ayam, trus ditaruh diatas kulit lumpia putih. Mam nya pake sumpit. Hemm unik kan?

Camera 360

salah satu pojokan di Pasar Cisangkuy.

 

Tepat habis sholat dhuhur disana, hujan mulai turun..

waktu itu gue gak nyadar kalo trip yang seru ini sebentar lagi bakal berakhir dengan lebih seru….