10 Cara Menikmati Pawai Budaya

Banyak cara dapat dilakukan untuk melestarikan budaya suatu daerah, salah satunya dengan mengadakan Pawai Budaya tahunan. Seperti yang diselenggarakan oleh Dinas Pemuda, Olahraga, Kebudayaan dan Pariwisata (Disporabudpar) Kabupaten Sidoarjo untuk memperingati hari ulang tahun daerahnya, Februari lalu, yang tertangkap oleh kamera saya.

Tapi, bagaimana sebenarnya cara kita menikmati Pawai Budaya itu? Nah. Here is 10 ways to enjoy a cultural parade. My version :

1. Enjoy the opening ceremony. Upacara pembukaan suatu pawai biasanya dihiasi dengan para pejabat yang necis dan datang terlambat, pidato pembukaan, pemukulan gong, dll. Tapi yang paling worth it untuk dinanti adalah berbagai macam pertunjukkan kebudayaan yang tampil setelah prosesi-prosesi barusan. Mulai dari tari tradisional, reog, hingga marching band yang memainkan lagu pembukaan.

Tips : Early bird gets the worm. Early spectator gets the best view! Lebih baik berangkat 1-2 jam sebelum parade dimulai, selain untuk menghindari kemacetan, juga untuk memastikan kita dapat spot yang bagus untuk menikmati upacara pembukaan.

5

Pembuka Pawai

2. Join the parade. Bila cuaca dan suasana mendukung, mengekor iring-iringan pawai budaya adalah pilihan yang seru. Baik dengan berjalan kaki bersama para peserta, atau dengan sepeda motor, kita bisa menikmati suasana pawai dari mata para peserta.

Tips : Comfort shoes and outfit is the key. Mari bersimpati dan membiarkan pakaian berlapis, aksesoris kepala, hak tinggi, dan make-up tebal itu dipakai oleh para peserta saja.

3

Simpati

3. Sit back and relax. Tidak jarang pihak penyelenggara pawai menyediakan tribun untuk para penonton. Selain aman dan tidak menguras tenaga, keuntungan lain adalah terkadang para peserta pawai melakukan atraksi spesial ketika melewati tribun penonton.

Tips : Geared yourself up with portable fan and umbrella. Suhu negara tropis yang panas dan lembab serta sengatan matahari dapat secara signifikan mengurangi kenyamanan menonton pawai.

4

Detailed Art.

4. Stand up with the crowd. Pilih trotoar paling nyaman, dan nikmati suasana. Simple.

Tips : Park your vehicle nicely. Bisa diparkir di lapangan parkir terdekat, atau sedimikian rupa sehingga tidak menghalangi jalannya parade. And pay attention to road sign. adakah tanda S atau P dicoret?

222

Jaranmu inggirno sik.

5. Take different point of view, take pedestrian bridgeNah, this is my personal favorite. Dari atas jembatan penyeberangan, kita bisa melihat suasana pawai secara keseluruhan.

Tips : Keep your personal belongings safe. Saya pribadi mengulang frase ini dalam hati : ” Dompet, Hape, Kamera”, ketika bepergian ke tempat yang rawan pencopetan untuk memastikan barang-barang tersebut masih tersimpan aman di dalam tas. Please don’t put anything on your pocket, kecuali beberapa lembar uang ribuan untuk membeli minuman dingin. Ingat Pesan Bang Napi: “Kejahatan bisa terjadi bukan saja karena ada niat pelakunya , tapi juga karena ada kesempatan. Waspadalah, waspadalah!”

22

Dijaga Bang Napi.

6. Take some epic selfies. Foto bersama para peserta dengan berbagai konstum seru dapat menjadi kenang-kenangan tersendiri. Ah. Yuk minta duduk diatas kepala reog!

Tips : Take selfies BEFORE the parade starts, ketika make-up dan mood para peserta masih terjaga dengan baik.

6

Senyum tipis, masih manis.

7. Go people watching, you people watcher! Beberapa mungkin belum familiar dengan istilah “People Watching”, tapi saya yakin semua sudah pernah melakukan sebelumnya. Menurut wikipediaPeople watching or crowd watching is the act of observing people and their interactions, usually without their knowledge. Duduk santai dan menikmati perilaku orang-orang disekitar itu menyenangkan bagi saya. Dari situ saya menebak-nebak latar belakang mereka, hubungan yang mereka miliki dengan orang disampingnya dan lain-lain. Beberapa berakhir jadi inspirasi dari cerita pendek yang saya buat.

Tips : Eavesdrooping is not necessary. Cukuplah Bu Ani yang disadap pembicaraannya, tidak perlu kita ikut menguping pembicaraan orang tak dikenal.

1

I wonder, what are you wondering?

8. Enjoy the culinary experiences. Ada gula, pasti ada semut. Jika ada crowd, pasti ada penjual makanan disekitarnya. Hemm. Apa yang lebih enak dari Rujak Manis setelah panas-panas menonton pawai?

Tips : Sanitize your hands, please. Oke, tips ini datang dari saya, seorang apoteker yang beberapa kali terserang Demam Typhoid. Believe me, I‘ve learned to sanitize my hands the hard way. Mungkin karena tangan saya terlihat bersih, sehingga menepukkan tangan satu dua kali ke bagian belakang celana jeans sambil membaca Basmalah saya rasa sudah cukup untuk mulai menikmati hidangan. Tapi saya salah, begitu banyak bakteri berdiam di tangan kita, dari uang lembaran, dari stang sepeda motor, dari bersalaman, dari mana saja, karena itu saya sarankan untuk membawa hand sanitizer yang dapat dibeli di convenient store terdekat. Berikut cara pakainya yang benar menurut World Health Organization : (lakukan semua langkahnya dalam waktu 15 detik ya, karena lebih dari itu alkoholnya akan menguap.)

Ingin sehat dan selamat, cuci tangan. Telungkupkan dua tangan bergantian. Megatup dan mengunci, lalu putar ibu jari. terakhir gosok-gosok ujung jari. *ini ada lagunya

9. Let’s hunt some photoBerburu foto adalah cara yang mengasyikkan untuk menikmati pawai budaya suatu daerah. Foto-foto diatas ditangkap oleh kamera amatir saya Februari 2014 lalu di Alun-alun Sidoarjo.

Begitu banyak obyek dan angle menarik yang bisa ditangkap oleh kamera, contohnya :

-suasana pawai (letak penonton terhadap iring-iringan pawai, cuaca ketika pawai berlangsung),
-ekspresi peserta pawai (ekspresi senang, atau bahkan ekspresi bosan menunggu mulainya pawai),
-persiapan peserta (misal ibu yang mengahpus keringat dari putri cantiknya yang sudah full make-up, atau guru yang sedang briefing regu drumbandnya),
-detil keunikan kostum (kostum secara keseluruhan, atau fokus ke pernik kecil yang menarik perhatian),
-kendaraan pawai,
-para pejabat pembuka pawai,
-gerakan dinamis gitapati, dll

Oh, and did I mentioned that sometimes carrying camera around and looking sharp when taking pictures give us some advantages? Keuntungan kelihatan seperti wartawan antara lain : dipersilahkan maju kedepan untuk dapat spot yang oke, para peserta willingly pose and smile for us, diajak kenalan sama para wartawan lain.

Tips : Get your weapons ready, hunters! Baterai kamera yang sudah fully charged, memori kamera yang memadai, tripod, dll.

12

A camera is a save button for minds eye.

10. Just enjoy the parade with loved ones. Lebih baik rempong bersama-sama, daripada senang-senang tapi sendiri. Ya kan? Ajak orang tua, saudara, tetangga, sahabat, atau gebetan masing-masing untuk meng-apresiasi budaya sendiri. Kalau bukan kita, siapa lagi?

11

And when it rains on your parade, look up rather than down. Without the rain, there would be no rainbow. ~Gilbert K. Chesterton

Iklan

My Kind of Sundays.

Hari minggu. Hari yang paling pendek dalam seminggu.

Ya gak sih?

Cepet banget lewatnya. Kayak gebetan yang baru diprospek eh tiba tiba kirim undangan.

Well. Tapi hari-hari minggu saya di tahun 2014 ini lebih kayak celana yang sering saya lihat dipakai sama perempuan-perempuan di mall jaman sekarang. Pendek dan rawan masuk angin sih, tapi nyenengin.

Post ini ditulis sehabis ritual gosok-menggosok Minyak Ban Leng andalan ke paha kiri atas selesei. Paha kiri saya yang naas menahan berat badan waktu kepeleset di deket air terjun Cuban Baung kapan hari.

Sambil kusuk-kusuk barusan, saya tersadar. Rasanya sebulan kebelakang hari minggu saya selalu epic. Selalu.

Dan beneran. Setelah check folder foto Path dan camera 360. Iya. Setiap minggu. Tanpa jeda pariwara.

Ada aja dokumentasi saya lagi di sungai, gunung, sawah, lautan… Simpanan kejayaan. Kini ibu sedang lara. Merintih dan berdoa…. *ini lagu apa yak.

Nah. Post ini adalah tribute to my epic sundays. My kind of Sundays.

PS : sebenernya saya mau bikin post satu-satu tiap jalan-jalan yang saya jalan-jalani. Mau sih, tapi malu. Malu soalnya saya masih banyak alasan..eh urusan..eh kerjaan..eh. Yah. Pokoknya niat itu setengah dari amalan kan? Nah. Saya uda niat untuk memperpanjang caption-caption di foto-foto berikut menjadi postingan-postingan yang epic. Se-epic weekends saya. Semoga niat ini cepet terkabul a.k.a ter-tessy.

Amin.

Yah diitung aja deh ini semacam trailer posts saya kedepannya. Oke kan?. *mulai pijitin bapak supir trailer-nya.

Siaaaap?

Oke kita mulai dari Grup Dut!

P.P.S : note to self : posting bukan kehamilan Nadhira, gak perlu kamu tunda-tunda!

mtf_KGxwZ_166[1]

25 – 27 Des 2013. Long weekend.
Tempat : Semarang.
Perihal : mengunjungi nenek, kuliner di semarang, reuni teman lama, jalan-jalanin mama.
Pulangnya lewat pantura sempat mampir ke RA Kartini Jepara dan Goa Akbar Tuban

4 Jan 2013 Tempat : Restoran Apung Perihal : lunch bareng anak kantor. Biasa? Kagak. Namanya nih Apung ya? Padahal tuh resto mancep tanah. Ga ada kolam, ga ada apa-apa. Trus kita tanya yang terapung apa mas? Ke waiternya. Dia senyum. Kemudian petir menyambar. Awan hitam datang. Suasana mencekam. Hujan deras mengguyur. Kemudian? Kita terapung. *jeng jeng jeng.

4 Jan 2013
Tempat : Restoran Apung
Perihal : lunch bareng anak kantor. Biasa? Kagak. Namanya nih Apung ya? Padahal tuh resto mancep tanah. Ga ada kolam, ga ada apa-apa. Trus kita tanya yang terapung apa mas? Ke waiternya. Dia senyum. Kemudian petir menyambar. Awan hitam datang. Suasana mencekam. Hujan deras mengguyur. Kemudian? Kita terapung. *jeng jeng jeng.

mtf_KGxwZ_207

12 Januari 2014

Tempat : SIDOARJO (Alun-alun, Pemancingan Minapolitan, Bebek Kerto, Pazkul, NAV)

Perihal : Main. (aja)

Berhubung saya dianugerahi teman-teman yang agak wajar, ya begini main saya sama mereka. Kalo orang lain, sekali keluar main itu ke cafe aja, mancing aja, hunting foto aja, karaoke aja, makan-makan aja, jalan-jalan aja, main ding-dong aja, atau jaja miharja. Tapi saya dan 3 kawan karib ngelakuin SEMUANYA. Puas? Lemas.

mtf_KGxwZ_180

14 Januari 2014
Tempat: Kediaman.
Perihal : Arisan keluarga besar bahagia.
Besar. Sebesar 68 kepala. Anak-turun dari satu pasang suami-istri. Moh. Rifai (Alm.) dan Siti Honaina (Alm.). Didampingi OM (paman ya, paman. bukan Orkes melayu.red) saya menyumbangkan sebuah lagu dengan sumbang. Bintang Kehidupan oleh Nike Ardila. Sontak, semua gembira.

Camera 360

19 Januari 2014
Tempat : Sungai di Sidoarjo. Tepatnya desa Ketingan, Sidoarjo.
Perihal : NYADRAN LAUT. bisa dibaca di sini 
Berawal dari penasaran, berakhir dengan kepanasan. di sungai. bareng para nelayan. Epic loh. 15 tahun tinggal di Sidoarjo, saya belum pernah tahu ada acara tahunan ini, bahkan belum pernah nyadar kalo banyak nelayan di Sidoarjo, bahkan belum pernah ngeh kalo rumah saya itu hanya sejam dari laut lepas. *duh. maaf. *malu.

25 Januari 2014
Tempat : Kediaman Yenyen. Porong, Sidoarjo.
Perihal : Yenyen & Una’s Engagement Party.
Masih inget kawan-kawan saya yang agak wajar tadi? Nah, ini foto sebagian dari mereka, dalam versi tidak gembel, sedang mendatangi momen bahagia seorang kawan. Setelah 7 tahun berpacaran, mulai momen ini kedepannya Yenyen dan Una akan berpacaran dengan pakai cincin kembaran (bertunangan.red). Semoga cepat menikah ya. Amin. 🙂

Camera 360

31 Januari 2014
Tempat : Pamorbaya. Pantai Timur Surabaya.
Perihal : Jalan-jalan bareng mama, kakak, pacar kakak, dan makyuk the super housemaid.
Dan. Pacar kakak ternyata juga baru sadar kalo laut hanya berjarak setengah jam dari rumahnya di kawasan Rungkut. Haha. Dari jalan-jalan ini, fix saya menambahkan 1 lagi di List Harapan. Catch Sunrise on the East-est Shore of Surabaya. Isn’t it sounds great, to pack breakfast, leave home before subuh, book a boat, and enjoy the rising sun with a cup of hot coffee in hand, off shore. Memang masih banyak sampah plastik berseliweran disana-sini, dan jembatan bambu yang biasa dipakai berfoto sudah rusak dimakan usia, tapi look at the brightside, wildlife disini masih lumayan bagus, burung-burung liar yang bergerombol mencari makan, bahkan pak nahkoda kapal (ceileh) bilang kalau beruntung kita bisa lihat segerombolan monyet-monyet liar. wow. bisa-lah dicatat untuk jadi spot foto paska-wedding saya besok. oya! dan mengendarai (?) kapal itu menyenangkan! I mean, take the steering wheel (?) and drive (?) the boat is so much fun! apalagi lumayan banyak belokan di sungai yang dilewati sebelum akhirnya sampai ke laut.
oya! CP nya bisa hubungi Pak Grama 081553750700

mtf_KGxwZ_247

2 Januari 2014
Tempat : Gunung Bromo, Alun-alun kota Batu
Perihal : Pengalaman pertama membuat Open Trip
ada senangnya, ada serunya, banyak deg-deg-annya. haha. nanti deh saya ceritakan lebih lengkap tentang perjalanan saya ini. tapi the highlight is, just yesterday I enjoyed the sea breeze, the hot and bright sun off shore, dan besoknya saya sudah berada 2770 meter diatas permukaan laut! haha. kalo Weather-lag itu ada, weekend ini saya pasti sudah Weather-lag.

Camera 360

9 Januari 2014
Tempat : Tambang Pasir di Gempol, Air Terjun Cuban Baung di Pasuruan.
Perihal : Jogging Minggu Pagi. (aja.)
wajarnya minggu pagi jogging dimana sih emang? GOR, Alun-alun, atau jalanan-bebas-mobil di tengah kota. Hemm. Saya dan 5 kawan saya yang agak wajar menghabiskan minggu pagi lari-larian di tambang pasir. sounds lame? nope, if you see that this hidden place is overlooking Gunung Penanggungan, dan karena siang itu cerah banget, kita bisa lihat Gunung Gajahmungkur, dan Kompleks Gunung Arjuno di belakangnya. Kenapa saya bilang “hidden place“? karena, tempat ini dekat aja, duh kalau lancar setengah jam kali dari kamar tidur saya, dan saya baru tau ada spot se-awesome ini!. Lebih awesome-nya lagi saya juga baru tau ada “hidden waterfall” di belakang kebun raya purwodadi bernama Air Terjun Cuban Baung. Duh. Duh. dan menurut saya air terjun yang gak jauh-jauh banget dari rumah ini lebih keren dari Air Terjun Dolo di Kediri, Cuban Pelangi, Cuban Rondo, dan beberapa cuban lain yang pernah saya datangi di masa perkuliahan saya dulu. Lebih keren gimana? Ah besok yaa saya ceritakan.

<

p style=”text-align:center;”>16 Januari 2014
Tempat : Mercure Grand Mirama Hotel Surabaya
Perihal : untuk pertama kalinya saya menangkap buket bunga yang dilemparkan oleh pengantin. iya, gestur ritual di pernikahan-pernikahan yang sering kita lihat di tipi itu. “we are calling all the singles in the room to come forward”, said the MC. serta merta refleks simpatik dan motorik saya membawa badan ini maju ke depan panggung. depan sendiri, ditemani senyum di gigi, dan perasaan awkward di dalam hati. haha. 3, 2, 1, lempar! dan kemudian refleks simpatik dan motorik saya pula yang serta merta menyamber buket mawar pink yang nyaris ditangkap saingan saya cece bridesmaid di samping saya. Hap. dan hening sebentar. (mungkin karena the bride lebih kepingin sahabat karibnya mendapat buket bunga itu). dan saya hanya bisa nyengir manja.
respon ibuk : “waduh, berarti habis ini ibuk harus cepet siap-siap.”
hahaha. sebenernya sih bukan superstition itu yang bikin saya senang, tapi angpau setengah juta yang ternyata menyertainya buket ini. Hahaha. Terimakasih cece dan koko. semoga langgeng dan samara!

Sidoarjo Fishermen

Sidoarjo Fishermen

Young fishermens are waiting for the annual ceremony of “Nyadran Laut” at Kepetingan, Sidoarjo, East Java, Indonesia. It is a traditional ceremony and ancient custom of Sidoarjo’s Fishing Village. Passed through generations, today Nyadran Laut is a large, annual festival where the community get together and celebrate the day by offering gifts, such as food and natural products, and float it to the sea, followed by gathering and praying at Dewi Sekardadu’s cemetery, a princess from the old Blambangan Kingdom of Banyuwangi whom also the mother of Sunan Giri, one of nine Java’s first moslem missionaries.