My Kind of Sundays.

Hari minggu. Hari yang paling pendek dalam seminggu.

Ya gak sih?

Cepet banget lewatnya. Kayak gebetan yang baru diprospek eh tiba tiba kirim undangan.

Well. Tapi hari-hari minggu saya di tahun 2014 ini lebih kayak celana yang sering saya lihat dipakai sama perempuan-perempuan di mall jaman sekarang. Pendek dan rawan masuk angin sih, tapi nyenengin.

Post ini ditulis sehabis ritual gosok-menggosok Minyak Ban Leng andalan ke paha kiri atas selesei. Paha kiri saya yang naas menahan berat badan waktu kepeleset di deket air terjun Cuban Baung kapan hari.

Sambil kusuk-kusuk barusan, saya tersadar. Rasanya sebulan kebelakang hari minggu saya selalu epic. Selalu.

Dan beneran. Setelah check folder foto Path dan camera 360. Iya. Setiap minggu. Tanpa jeda pariwara.

Ada aja dokumentasi saya lagi di sungai, gunung, sawah, lautan… Simpanan kejayaan. Kini ibu sedang lara. Merintih dan berdoa…. *ini lagu apa yak.

Nah. Post ini adalah tribute to my epic sundays. My kind of Sundays.

PS : sebenernya saya mau bikin post satu-satu tiap jalan-jalan yang saya jalan-jalani. Mau sih, tapi malu. Malu soalnya saya masih banyak alasan..eh urusan..eh kerjaan..eh. Yah. Pokoknya niat itu setengah dari amalan kan? Nah. Saya uda niat untuk memperpanjang caption-caption di foto-foto berikut menjadi postingan-postingan yang epic. Se-epic weekends saya. Semoga niat ini cepet terkabul a.k.a ter-tessy.

Amin.

Yah diitung aja deh ini semacam trailer posts saya kedepannya. Oke kan?. *mulai pijitin bapak supir trailer-nya.

Siaaaap?

Oke kita mulai dari Grup Dut!

P.P.S : note to self : posting bukan kehamilan Nadhira, gak perlu kamu tunda-tunda!

mtf_KGxwZ_166[1]

25 – 27 Des 2013. Long weekend.
Tempat : Semarang.
Perihal : mengunjungi nenek, kuliner di semarang, reuni teman lama, jalan-jalanin mama.
Pulangnya lewat pantura sempat mampir ke RA Kartini Jepara dan Goa Akbar Tuban

4 Jan 2013 Tempat : Restoran Apung Perihal : lunch bareng anak kantor. Biasa? Kagak. Namanya nih Apung ya? Padahal tuh resto mancep tanah. Ga ada kolam, ga ada apa-apa. Trus kita tanya yang terapung apa mas? Ke waiternya. Dia senyum. Kemudian petir menyambar. Awan hitam datang. Suasana mencekam. Hujan deras mengguyur. Kemudian? Kita terapung. *jeng jeng jeng.

4 Jan 2013
Tempat : Restoran Apung
Perihal : lunch bareng anak kantor. Biasa? Kagak. Namanya nih Apung ya? Padahal tuh resto mancep tanah. Ga ada kolam, ga ada apa-apa. Trus kita tanya yang terapung apa mas? Ke waiternya. Dia senyum. Kemudian petir menyambar. Awan hitam datang. Suasana mencekam. Hujan deras mengguyur. Kemudian? Kita terapung. *jeng jeng jeng.

mtf_KGxwZ_207

12 Januari 2014

Tempat : SIDOARJO (Alun-alun, Pemancingan Minapolitan, Bebek Kerto, Pazkul, NAV)

Perihal : Main. (aja)

Berhubung saya dianugerahi teman-teman yang agak wajar, ya begini main saya sama mereka. Kalo orang lain, sekali keluar main itu ke cafe aja, mancing aja, hunting foto aja, karaoke aja, makan-makan aja, jalan-jalan aja, main ding-dong aja, atau jaja miharja. Tapi saya dan 3 kawan karib ngelakuin SEMUANYA. Puas? Lemas.

mtf_KGxwZ_180

14 Januari 2014
Tempat: Kediaman.
Perihal : Arisan keluarga besar bahagia.
Besar. Sebesar 68 kepala. Anak-turun dari satu pasang suami-istri. Moh. Rifai (Alm.) dan Siti Honaina (Alm.). Didampingi OM (paman ya, paman. bukan Orkes melayu.red) saya menyumbangkan sebuah lagu dengan sumbang. Bintang Kehidupan oleh Nike Ardila. Sontak, semua gembira.

Camera 360

19 Januari 2014
Tempat : Sungai di Sidoarjo. Tepatnya desa Ketingan, Sidoarjo.
Perihal : NYADRAN LAUT. bisa dibaca di sini 
Berawal dari penasaran, berakhir dengan kepanasan. di sungai. bareng para nelayan. Epic loh. 15 tahun tinggal di Sidoarjo, saya belum pernah tahu ada acara tahunan ini, bahkan belum pernah nyadar kalo banyak nelayan di Sidoarjo, bahkan belum pernah ngeh kalo rumah saya itu hanya sejam dari laut lepas. *duh. maaf. *malu.

25 Januari 2014
Tempat : Kediaman Yenyen. Porong, Sidoarjo.
Perihal : Yenyen & Una’s Engagement Party.
Masih inget kawan-kawan saya yang agak wajar tadi? Nah, ini foto sebagian dari mereka, dalam versi tidak gembel, sedang mendatangi momen bahagia seorang kawan. Setelah 7 tahun berpacaran, mulai momen ini kedepannya Yenyen dan Una akan berpacaran dengan pakai cincin kembaran (bertunangan.red). Semoga cepat menikah ya. Amin. 🙂

Camera 360

31 Januari 2014
Tempat : Pamorbaya. Pantai Timur Surabaya.
Perihal : Jalan-jalan bareng mama, kakak, pacar kakak, dan makyuk the super housemaid.
Dan. Pacar kakak ternyata juga baru sadar kalo laut hanya berjarak setengah jam dari rumahnya di kawasan Rungkut. Haha. Dari jalan-jalan ini, fix saya menambahkan 1 lagi di List Harapan. Catch Sunrise on the East-est Shore of Surabaya. Isn’t it sounds great, to pack breakfast, leave home before subuh, book a boat, and enjoy the rising sun with a cup of hot coffee in hand, off shore. Memang masih banyak sampah plastik berseliweran disana-sini, dan jembatan bambu yang biasa dipakai berfoto sudah rusak dimakan usia, tapi look at the brightside, wildlife disini masih lumayan bagus, burung-burung liar yang bergerombol mencari makan, bahkan pak nahkoda kapal (ceileh) bilang kalau beruntung kita bisa lihat segerombolan monyet-monyet liar. wow. bisa-lah dicatat untuk jadi spot foto paska-wedding saya besok. oya! dan mengendarai (?) kapal itu menyenangkan! I mean, take the steering wheel (?) and drive (?) the boat is so much fun! apalagi lumayan banyak belokan di sungai yang dilewati sebelum akhirnya sampai ke laut.
oya! CP nya bisa hubungi Pak Grama 081553750700

mtf_KGxwZ_247

2 Januari 2014
Tempat : Gunung Bromo, Alun-alun kota Batu
Perihal : Pengalaman pertama membuat Open Trip
ada senangnya, ada serunya, banyak deg-deg-annya. haha. nanti deh saya ceritakan lebih lengkap tentang perjalanan saya ini. tapi the highlight is, just yesterday I enjoyed the sea breeze, the hot and bright sun off shore, dan besoknya saya sudah berada 2770 meter diatas permukaan laut! haha. kalo Weather-lag itu ada, weekend ini saya pasti sudah Weather-lag.

Camera 360

9 Januari 2014
Tempat : Tambang Pasir di Gempol, Air Terjun Cuban Baung di Pasuruan.
Perihal : Jogging Minggu Pagi. (aja.)
wajarnya minggu pagi jogging dimana sih emang? GOR, Alun-alun, atau jalanan-bebas-mobil di tengah kota. Hemm. Saya dan 5 kawan saya yang agak wajar menghabiskan minggu pagi lari-larian di tambang pasir. sounds lame? nope, if you see that this hidden place is overlooking Gunung Penanggungan, dan karena siang itu cerah banget, kita bisa lihat Gunung Gajahmungkur, dan Kompleks Gunung Arjuno di belakangnya. Kenapa saya bilang “hidden place“? karena, tempat ini dekat aja, duh kalau lancar setengah jam kali dari kamar tidur saya, dan saya baru tau ada spot se-awesome ini!. Lebih awesome-nya lagi saya juga baru tau ada “hidden waterfall” di belakang kebun raya purwodadi bernama Air Terjun Cuban Baung. Duh. Duh. dan menurut saya air terjun yang gak jauh-jauh banget dari rumah ini lebih keren dari Air Terjun Dolo di Kediri, Cuban Pelangi, Cuban Rondo, dan beberapa cuban lain yang pernah saya datangi di masa perkuliahan saya dulu. Lebih keren gimana? Ah besok yaa saya ceritakan.

<

p style=”text-align:center;”>16 Januari 2014
Tempat : Mercure Grand Mirama Hotel Surabaya
Perihal : untuk pertama kalinya saya menangkap buket bunga yang dilemparkan oleh pengantin. iya, gestur ritual di pernikahan-pernikahan yang sering kita lihat di tipi itu. “we are calling all the singles in the room to come forward”, said the MC. serta merta refleks simpatik dan motorik saya membawa badan ini maju ke depan panggung. depan sendiri, ditemani senyum di gigi, dan perasaan awkward di dalam hati. haha. 3, 2, 1, lempar! dan kemudian refleks simpatik dan motorik saya pula yang serta merta menyamber buket mawar pink yang nyaris ditangkap saingan saya cece bridesmaid di samping saya. Hap. dan hening sebentar. (mungkin karena the bride lebih kepingin sahabat karibnya mendapat buket bunga itu). dan saya hanya bisa nyengir manja.
respon ibuk : “waduh, berarti habis ini ibuk harus cepet siap-siap.”
hahaha. sebenernya sih bukan superstition itu yang bikin saya senang, tapi angpau setengah juta yang ternyata menyertainya buket ini. Hahaha. Terimakasih cece dan koko. semoga langgeng dan samara!

Iklan

Detik-Detik Kepulangan. An Epic End. (part 1)

Udah eneng nya mah santai aja, banyak tuh penumpang Sukhoi yang bersyukur ketinggalan pesawat gara-gara macet di tol..” ~Bapak Penumpang Travel,2013

Monday Afternoon, December 2nd ,2013

13.45

Hujan DERES

Antri batagor Kingsley sambil googling no travel se-bandung.

Telpon cipaganti – gak bisa

telpon lagi – sibuk.

Telpon lagi – ada travel ke bandara jam 16.00 harga 195 rebu. Buru-buru tutup telepon.

Telpon city trans – gak bisa

Telpon day trans – gak bisa

cek pulsa – aduhdek! pantesan aja gak bisa. Pinjem hape Dea.

Telpon X-trans – ada travel ke bandara dari Cihampelas jam 16.30 harga 90 rebu doang. Sip. Booked.

14.30

on the way ke Lawangwangi gallery di Dago Pakar.

Berhubung gue gak tau tempat dan jarak di bandung, gue nurut aja waktu Dea ngajakin kesana.

Padahal naik jauh. Jauh. Pake macet.

15.07

baru nyampe Gallery. Tempatnya dari luar aja uda bagus, view nya keren, banyak patung-patung kontemporer. Getting excited

Mau mulai poto, diusir satpam. Ternyata senin tutup. Pak kita cuma berdua aja. SENIN TUTUP. Pak kita poto-poto di depan aja. SE-NIN-TU-TUP. Pak saya jauh jauh dari surabaya. S-E-N-I-N-T-U-T-U-P NENG. *Headline Radar Bandung keesokan hari : Seorang Satpam Ditemukan di Lembah Sekitar Dago Pakar, Ditengarai karena Amarah Pengunjung. *ngaco ih.

15.10

sedih, kedinginan, kelaperan.

Dea ngajakin ada cafe di daerah situ. Gue campuran antara gak tau jalan, gak tau waktu, dan gak tau diri mengiyakan ajakan Dea ke cafe Congo.

Puter balik. Jalannya naek. Lumayan jauh.

15.30

Cafe nya bagus, view nya bagus, masalahnya cuma waktunya gak tepat.

Gue pesen nasi ayam sama esteh 75 rebu. *dalam ati gue bisa ngerasain backpack gue kecewa sama gue, “lu backpacker bukan sih ngafe melulu??”

16.07

baru kelar dari cafe Congo. Turun ke cihampelas pool travel X-trans.

Travel gue 20 menit lagi berangkat. Jalanan Macet.

Gue liat dea, LEMPENG. *salut gue sama cara dia nyembunyiin panik nya. Gue yakin dalam hati dia panik soalnya waktu itu dia ga tau tempat pastinya X-trans dmn. (gue sempet ngelirik dia nge-line temennya di iPad).

Tangan gue mulai dingin. Berusaha buat tetep keliatan santai tapi otak gue muter terus. Entah kenapa gue tetep fokus ke apa yang bisa gue lakuin waktu itu, bukan fokus ke hal buruk apa yang bakal terjadi kalo gue ketinggalan travel, ato ketinggalan pesawat, ato lebih parah, ketinggalan jaman kayak si Doel anak Betawi Asli.

Makasih buat bung Arif Abdillah yg uda ngingetin buat web check-in air asia. Bbm situ punya peran besar di nasib gue di trip ini.

16.20

Gue teror terus pool X-trans di Cihampelas.

Berapa kali gak diangkat.

Akhirnya nyambung, dan gue melas minta tolong ditungguin. Si doi tanya posisi gue, gue bilang masih di DAGO, kemudian langsung deh gue ditolak setengah mateng, kata doi ga mungkinlah gue bisa nyampe Cihampelas 10 menit. Gue disaranin langsung ngejar ke pool di Jalan Pasteur.

16.40

baru nyampe jalan Pasteur.

Jalanan masih merambat kaya ingus yg pelan-pelan turun ke bibir kalo lagi pilek. *jijik ih

Gue waktu itu sibuk web check in, si Dea sibuk nge-line temennya, sambil nyetir, sambil nyari tulisan X-trans di kiri jalan, dan bu Ani sibuk cari objek foto, sambil mijitin pak Esbeye…

Alhasil, sampe BTC fashion mall si Dea baru nyadar kalo kita KEBABLASAN.

Kita cari puter balik. Dan JAUH.

17.02

Setelah cipika-cipiki dan ngucapain terimakasih kilat, Gue gendong backpack gue yg mulai obesitas dan mutusin untuk turun dari mobil dan jalan kaki.

Gue naik ke jembatan penyeberangan sambil nelpon pool Xtrans nanya arah. Si doske bilang masih jauh neng LURUS AJA itu 300 meter dari jembatan penyebrangan.

Nah. Logika. Traffic itu ke arah timur. Jadi kalo clue nya LURUS AJA, otomatis gue jalan ke TIMUR kan??

Jalan deh gue sambil buru-buru, beberapa pengendara motor pada noleh ngeliatin gue, mungkin gara-gara backpack gue, gue dikira titisannya Jin Kura-Kura guru nya Son Goku itu. Hahaha.

Dikit-dikit gue tanya orang, banyak yang gak tau, dan ada 2 ato 3 orang nyaranin gue LANJUT AJA ke timur.

17.20

Sampe RS Bersalin Hermina, betis gue mulai kerasa tebel, dengkul uda agak linu, feeling uda gak enak.

Gue telpon X-trans Pasteur lagi. Daaaaan feeling gue bener. Waktu gue bilang gue jalan sampe RS Hermina, si doske dengan cepet jawab, “ENENG MAH SALAH ARAH”

Jedier. Petir nyamber betis gue.

Gue langsung balik arah.

Gila.

Travel gue 10 menit lagi berangkat. Dan gue mesti jalan kaki beberapa tahun cahaya lagi.

Aaaak. Coba gue bener-bener titisan Master Roshin si gurunya Goku nah gue baru inget namanya kan gue bisa abonemen awan yg bisa antar-jemput itu.

17.45

dari jauh keliatan travel X-trans yg uda mau berangkat.

What? no. no. please. no.

Gue buru-buru lari dan gedor2 pintu travel itu. Si sopir buka jendela “mau ke kelapa gading neng?”

oh. itu bukan travel pesenan gue. Fiuh.

Wait? What?? jangan2 travel gue uda berangkat.

Langsung deh gue lari2 ke receptionist nya.

Dan ternyataaaaaaaa…

a’ak2 receptionist yg ngasi gue clue gak jelas dan bikin gue nyasar tadi cakep. Pake banget dan jambang. *bete gue berkurang beberapa persen. *salah fokus.

Setelah gue tanya doske, ternyata eh ternyataaaaaaaa…

sakit nya karena di guna-gunaaaa.

*duh. Kenapa mbah dukun yg muncul.

yaudah

Bersambung aja deh

Kayaknya gue mau kangen-kangenan sama Alam dan Vety Vera..

(( ini part 2 nya kakaak ))

Siapa Suruh Datang Jakarta? (Part 2)

Perjalanan kita berikutnya dimulai dengan nunggu busway di Halte Harmoni buat ke Halte Stasiun Kota. Guyon-guyon bentar, nyampe deh kita ke halte busway ini. Tempatnya unik, alih-alih kita menyeberang lewat jalanan diatas, kita lewat tunnel bawah tanah yang ngehubungin halte busway, ke stasiun kota, dan ke jalan Lapangan Stasiun, seberangnya Museum Bank Mandiri itu.
Tujuan pertama kita? Makan. Yaiyalah perut cuma diisi mangga sama sprite doang dari pagi. Perih nih perut periiih.

Itu ide darimana asal muasalnya, latar belakangnya, riwayat kemunculannya, gak ada yang tau, yang jelas gue inget banget ide itu datang dari Sinyo, dan tiba-tiba dia bilang : makan di Cafe Batavia oke nih!

Otomatis, terhipnotis oleh cacing-cacing di perut, kita langsung melenggang manis mencari lokasi Cafe Batavia. Padahal we know nothing about it, yang jelas namanya kedengeran keren. Batavia.

Baru jalan sebentar, kita disapa bapak-bapak dengan baju ala pemuda Jawa tahun 50an (kemeja biru tua dengan garis-garis coklat vertikal, lengkap dengan topi nyentrik, dan sepeda kumbangnya Oemar Bakrie). Kita mulai ngobrol-ngobrol seru tentang kejadian-kejadian bersejarah di Kota Tua, tentang pelabuhan Sunda Kelapa, tentang Toko Merah..

COLLECTIE_TROPENMUSEUM_Kantoor_van_de_Bank_voor_Indië_Batavia_TMnr_10015467

Toko Merah semasa Sitti Nurbaya diem-diem LDR-an sama Samsulbahri

hemm sedikit tentang Toko Merah yang ada di Kota Tua *dikutip dari berbagai sumber, mostly dari bapak yang barusan gue ajak ngobrol*:

Toko Merah ini umurnya sudah 3 abad. Dulu pernah ditinggali oleh Governor-General of the Dutch East Indies Gustaaf Willem baron van Imhoff (1743-1750) *dari namanya aja udah garang*, setelah itu sempat berganti kepemilikan beberapa kali. Kenapa kok Merah? Yah sebenernya, gara-gara dicat merah sih sama yang punya gedung. Tapi konon katanya dulu gedung itu pernah merah karena bersimbah darah gadis-gadis belia etnis Tionghoa yang disiksa dan dibantai disana. Tuh ngeri gak tuh. Terus lobang-lobang di dinding bata di luar gedung adalah bekas tembakan eksekusi mereka.. Rupanya masa lalu yang kelam itu meninggalkan kesan angker yang mendalam, hingga sekarang, dikala malam masih sering terdengar teriakan gadis-gadis itu mengucapkan salam dari dalam bangunan.. *hii

Bapak yang seru dan retro banget ini menawarkan tour naik sepeda kumbang muter-muter Kota Tua dengan harga spesial pake telor karetnya dua 40rebu yang katanya sudah diskon 30% (duh si Bapak mah gak kalah sama Matahari pake diskon segala). Waktu itu uda jam 14.30, bapaknya bilang tour terakhir diadakan satu jam lagi, jam 15.30. Yah bentar lagi dong, tapi sayang nih perut sudah tak kuasa menahan asam lambung, kita kepingin makan dulu, kita tanya bapaknya tentang posisi Cafe Batavia. Ternyata udah gak jauh lagi.. tapi (tanpa ditanya, tanpa dinyana) bapak itu bilang ada warung padang tepat di belakang Cafe Batavia. (beberapa jam kemudian kita baru sadar kalo nih bapak lagi ngasih #kode ke kita). Kita gak punya feeling apa-apa, bilang deh terimakasih, kemudian lanjut berjalan dengan semangat ke Cafe Batavia.

Sepanjang jalan banyak lapak pedagang yang seru-seru gan, mulai dari ramalan kartu tarot sampe foto bareng pejuang dan mobil lawas ada disini. Gak lama nyampe deh ke Cafe Batavia, begitu masuk, udah kerasa vibe nya oke banget, sofa-sofa gede yang nyaman, arsitektur retro yang keren, waiter dan waitress yang pakai baju kebaya dan beskap ala jaman kolonial, belum berapa lama kita masuk, petikan gitar dari acoustic band menyambut, yang dimainin lagu-lagu slow rock era 80an lagi, duh pas banget.

Setelah nemu tempat duduk yang oke (agak tertutup pilar jadi nyaman buat foto seru-seruan pake tripod, tapi masih deket ke panggung buat ngeliatin gitaris nya yang agak gondrong tapi cakep abis) kita siap order.

DSCN0109

My Travelmad. *eh Travelmates

DSCN0111

sandal jepit nya (gak sengaja) kesensor.

   Dateng deh beberapa buku menu yang keliatan lusuh. Mari buka halaman pertama anak-anak… jeng jeng jeng. Tertulis “Sparkling Mineral Water : Rp 40.000”. hah? Halaman berikutnya anak-anak.. “Tenderloin Steak : Rp 250.000” “Smoked Salmon with Caviar : Rp 220.000” wait. What?

Seketika tiga gembel ini ketawa ngakak. Hahaha. Ini nih hakikatnya orang kesasar. Bisa-bisa nya kita nongkrong cakep di Cafe kelas bule beginiii.. perasaan setengah jam yang lalu kita masih keringetan di dempet-dempetan di Busway deh.. Kasian kaaaan backpack sama sendal jepit gue, mereka ngerasa salah asuhan dan gak punya temen di tempat kayak ini. Hahaha.

Setelah beberapa waktu menelaah buku menu (pantes nih buku menu lusuh gini, pasti pengunjung yang dateng juga melakukan studi pustaka kayak gue sebelum akhirnya memutuskan order teh manis, kayak gue. Hehe). Setelah musyawarah dan mencapai mufakat, kita bertiga joinan pesen Dim Sum Mix 65rebu, sama Deep Fried Shrimp Dumpling 24rebu, minumnya 3 es teh manis, satunya 25rebu.

Camera 360

Rasanya? Biasaaaaa. Perut kenyang? Kagaaaaak. Tapi berkesaaan bingit kaaan. Hahaha.

Sejam lebih kita di cafe itu, menikmati rasanya naik lifestyle roller coaster.

Camera 360

Camera 360

Camera 360

Camera 360

Foto-foto dari film hanung bramantyo terbaru, Soekarwo.

Setelah puas foto-foto, kita siapkan mahar mental, kemudian Ku Pinang Bill dengan BismiLLAH.

wpid-C360_2013-12-01-15-23-33.jpg

Berfoto setelah dompet beberapa ratus ribu lebih ringan.

Diluar udah agak gelap, bapak tour sepeda kumbang tadi uda gak ada waktu kita cari, sebelum lanjut pulang kita nyempetin dulu foto bareng mobil tua disana, buat nambahin kenang-kenangan seru kita jalan di Kota Tua.

Nah, karena waktu itu matahari mulai tenggelam, waktunya Teletubbies berpamitan. Setelah ini langkah hidup kita masing-masing membawa kita ke tujuan yang berbeda-beda. *apa sih. Gue mesti ke pool Cipaganti di Cikini buat lanjut ke Bandung, Sinyo dan Ratih ke Bekasi tempat kosan mereka. Sarana angkutan umum yang terpilih adalah KRL dari Stasiun Kota.

424px-KAI_Commuter_Jabodetabek_Map

keliatan gak yaaa.. dari Stasiun Kota gue turun Cikini, Tubbies yang lain turun Bekasi.

Minggu sore itu Stasiun Kota penuh orang. Antrian dari loket meng-ular naga panjangnya bukan kepalang, menjalar jalar selalu kian kemari. Tapi yang gue kasih jempol, semua orang yang antri tertib banget! Dengan wajah lempeng mereka berbaris dengan seksama. Wih rasanya kalo di Stasiun Gubeng antrian panjang gini pasti bakal lebih meriah dengan saut-sautan rasa tidak sabar. Hehe.
Sinyo yang tiba-tiba baik, mau ngantriin buat kita bertiga, setelah nitip selembar 2rebuan buat tiket KRL (oh ternyata gak pake tiket, sekarang pake kartu kaya di luar negeri! Trus harus deposit 5rebu, nanti di stasiun tujuan kartunya bisa di-refund), gue ke AW buat beliin dia jajan dan bekal buat gue perjalanan ke Bandung. Perasaan antrinya gak begitu lama, 30menitan, trus KRL kita dateng.

Gue yang uda terlatih naik Komuter Sidoarjo-Surabaya, dengan gesit cari tempat duduk dan nge-jip-in tempat buat Sinyo dan Ratih. Ternyata gerbong gue Gerbong Wanita! Dipto dan bapak-bapak yang gak nyadar langsung diingetin sama petugas KRL nya. Hemm. KRL gak jauh beda sama Komuter di Sidoarjo, cuman ini pake AC, lebih murah, gerbong lebih bersih, pintunya buka tutup otomatis (gak kaya Komuter yang gak ada pintunya), jalannya kereta lebih smooth dan gak berisik. Hehe. Ini mah jauh beda ya?

Sepanjang jalan gue cerita-cerita sama Ratih tentang kerjaan. Iya kerjaan. Sahabat gue yang satu ini bukan tipe cewek yang enye-menye, julukan dia waktu kuliah Wanita Berhati Besi. Hehe. Jadi bukannya kita sedih-sedihan gara-gara gak tau kapan bisa ketemu lagi, kita malah sibuk bahas plus-minus kerjaan kita. KRL cuman berhenti sebentar di tiap stasiun, jadi begitu sudah sampe Gondangdia, gue siap-siap berdiri. Dada-dada ala Teletubbies  trus ada scene Bayi Matahari ketawa.. dan kita berpisah.

Sekarang gue sendiri di Cikini. Suasana di Stasiun Cikini agak remang-remang dan sepi, ada beberapa laki-laki nawarin jasa ojek, dan metromini. Gue inget-inget tips dari Mbak Trinity, backpacker masa kini (kenapa jadi berima kaya pantun?)

“Jangan sampe keliatan bingung di tempat asing. Meskipun gak tau arah, sebagai cewek kita harus stay cool”

Waktu itu gue gak ada ide pool Cipaganti ada dimana. Gue tanya ke petugas KAI pas refund kartu KRL, petugas dan satpam disana gak tau. Gue masuk Indomaret point disana, dan coba nelpon nomor telpon Cipaganti yang gue hubungi tadi siang, ternyata itu pool yang di Pondok Indah, dan operatornya (secara gak wajar) gak tau persis pool Cipaganti yang di Cikini dimana, dia cuma tau ada di sekitar Gedung Taman Ismail Marzuki. Oke lah. Berarti tujuan gue ke Taman Ismail Marzuki, sekarang naik apa kesana?. Tips gue :

“Penjaga kasir minimarket adalah pilihan yang baik dan aman untuk nanya arah dan informasi tentang daerah sekitar”.

Dengan logat sundanya yang kalem, mbak kasir Indomaret nyaranin naik metromini, karena deket, sebenarnya jalan kaki juga bisa. Tapi berhubung hari uda mulai magrib, gue gak berani jalan sendirian kesana, naik metromini pilihan paling aman.

Ini pengalaman pertama naik metromini, bentuknya kaya bus kecil, dengan tempat duduk kombinasi kayu dan besi karatan berkapasitas 20 orang, entah ya ini metromini yang lulus medical check-up Uji kelaikan dari Pak Jokowi Agustus kemarin atau bukan, yang jelas setelah 20 menit ngetem dan akhirnya metromini ini di stater, wow, gas buang yang hitam dan pekat dari knalpotnya langsung membumbung tinggi di pelataran Stasiun Cikini.
Bapak dengan wajah ramah duduk di sebelah gue, Tips lagi :

“saat naik kendaraan umum, dan gak yakin kapan harus berhenti, sapa dan ajak ngobrol penumpang sebelah, mereka dengan baik hati akan ngingetin kapan kamu harus berhenti”

Nah, di kasus ini gue bahkan dibayarin ongkos naek metromini nya, 3rebu. Gue maksa ganti, tapi bapaknya gak mau dengan berdalih uangnya gede dan takut si kernet gak ada kembalian. Waduh. Terimakasih. Yang Diatas yang ganti ya pak.
Ternyata Taman Ismail Marzuki dekeeet bangeeet. 5 menitan uda nyampe. Ketika turun dari metromini hari sudah gelap, dan di pelataran gedung pertunjukan ini banyak pemuda pengikut aliran Punk sedang mengadakan rapat pemilihan ketua baru *ngaco.

Masih gak tau mau kearah mana, dan agak ge-er grogi salah tingkah dilirik sama kakak-kakak pelopor P3 (Partai Punk Pembangunan), jadi gak pake liat kanan kiri, gue langsung jalan kaki ke 7-eleven terdekat, agak jauh sih 200 meteran, tapi mending daripada gue keliatan sendirian gak ada teman kebingungan gendong backpack di pinggir jalan. Sampe di 7-eleven gue langsung tanya mas Kasirnya keberadaan pool Cipaganti terdekat, dan ternyata tanpamu langit masih biru, ternyata tanpamu bungapun tak layu, ternyata dunia tak berhenti berputar walau kau bukan milikku (ah ini kan lagu Move-on gue)

yang bener, ternyata gue salah arah men.

Adzan magrib berkumandang. Waktu menunjukkan pukul 17.50. Sepuluh menit lagi travel gue berangkaaaat.. dan gue masih sibuk jalan cepat ala ibu-ibu Anlene menyusuri Jalan Cikini Raya. Tentunya masih sambil pura-pura jual mahal dan malu-malu(in) kucing sama kakak-kakak pelopor P3 tadi.

Clue yang gue dapet : pertigaan, lurus, pohon gede, indomaret! Mari kita ulangi kawan, pertigaan, lurus, pohon gede, indomaret! *jadi ngerasa kayak Dora deh. Jalan 15 menitan, sampai lah gue di pintu gerbang kemerdekaan Indonesia di pool Cipaganti yang ternyata nyelip disampingnya Indomaret dan di belakangnya pohon gede.

Meskipun suasananya kaya warnet game online area kampus yang buka 24 jam (dinding kuning meriah, tapi lampu remang-remang, lengkap dengan aroma rokok bercampur kejantanan), tapi mushola dan toilet disana bersih, gue nyempetin bersih-bersih disana (cuci muka, cuci kaki, cuci tangan bukan nyapu ngepel -red), trus di imam-i pak Supir, gue magriban disana.

Akhirnya dengan tiket travel di tangan dan dua Salonpas di puser, gue bertolak ke Bandung.. Rasanya gak sabar mencari apa yang aku cari, merangkai rindunya hatiku, dua hati satu tujuan melangkah bersama, cinta hadir bawa diriku menyentuh indahnya.. (Duh mbak Ikke apa kabaaaar? tambah cantik deh *cipika-cipiki) *kebiasaan random maaf*

Thanks Jakarta, today was epic.. Besok main lagi yaa..