Meja Segilima : Pemilihan Umum

Sore ini cafe ku ramai sekali. Para pemain golf papan atas Republik-ku sedang mengadakan pertandingan persahabatan di lapangan sebelah, sedang aku disini sibuk mencatat pesanan para perempuan muda istri para golfer itu.

Tidak mudah memang menjawab semua pertanyaan mereka. “Coffee ini ada cafein-nya?” Iya, Bu. “Latte ini berapa kalorinya?” Belum saya hitung, Bu. “Saya hanya minum skimmed milk. Ini susu apa?” Sapi, Bu.

Tapi yang kusuka dari kehebohan mereka adalah mereka terlihat cantik dengan semua pernak-pernik itu. Anjing Poodle di tangan kiri, telepon genggam canggih di tangan kanan, kemudian selang beberapa saat mengambil potret diri yang sambil menyeruput kopi atau sambil memandang jauh ke lapangan golf. Ah. Moleknya.

Tiba-tiba anjing kecil putih itu menggeram. Sontak pemiliknya kaget. Sesuatu telah membuat anjing itu gusar. Kulihat seorang lelaki baru saja memasuki cafe ku. Oh, pantas saja. Aki datang.

Aki terlihat lebih necis hari ini. Jas beludru coklat muda berpadu dengan kaos hitam tampa kerah. Siapa yang menyangka dukun ini bisa begitu stylish?

Seperti biasa, dia mengambil tempat di meja segilima di ujung ruangan. Menunggu kroni-kroni nya mengisi sisa empat kursi yang kosong. Sebentar. Dia melambai padaku.

1 Skinny Cinnamon Dolce Latte. 1 Americano. 1 Espresso Machiato. Semua untuk 15 menit lagi. Dan 1 Sumatra untuknya. Kemudian dia menyodorkan kartu kredit emas dengan limit selangit-nya kepadaku.

Aku bertepuk-tangan dalam hati. Dia bahkan sudah tahu apa yang akan dipesan oleh yang lain dan kapan mereka akan datang. Tapi kenapa hanya 4 kopi ya?

Tepat 15 menit kemudian Pak Buaya, Engkong, dan wanita berkerudung pujaan ku datang bersamaan. Oh. Hari ini pria dengan logat batak itu tidak datang. Hemm aneh sekali. Jarang mereka memulai rapat kecil mereka jika belum lengkap lima kursi di meja itu terisi. Mungkin ada sesuatu yang rumit akan dibahas kali ini.

Aku penasaran apa yang mereka perbincangkan. Lebih baik segera kuantarkan kopi-kopi yang sudah dipesankan Aki tadi.

Pembicaraan serius mereka terhenti ketika aku mendekat untuk menyajikan kopi di meja segilima itu. Sekilas mimik kaget kulihat di wajah mereka, seakan menanyakan bagaimana kutahu apa yang ingin mereka pesan. Aku hanya tersenyum dan melirik si Aki. Dia tersenyum balik.

Aku kembali ke belakang counter dan kembali menerka-nerka lanjutan pembicaraan mereka. Terkadang suara mereka meninggi. Tapi apa yang mereka bicarakan aku tetap tak bisa mengerti.

Mereka membicarakan angka-angka. Apakah itu koordinat? jumlah suara? nomor partai? Aha! Ini pasti ada hubungannya dengan Pemilihan Umum esok hari. Aku semakin bersemangat mengamati percakapan ini.

Diantara 5 kepala yang biasanya berhadap-hadapan di meja segilima, Pak Buaya yang punya andil dalam ketatanegaraan. Kalian lihat itu yang diacung-acungkan tangan kanannya. Itu termometer suhu politik Republik-ku. Kurasa Pak Buaya lebih sibuk akhir-akhir ini. Dia nampak tidak serapi biasanya, kaos berkerah bergambar buaya favoritnya itu kisut disana-sini. Yah. Bagaimanapun tidak mudah mengatur belasan partai di Republik.

Aku masih membantu mengambil gambar para istri pemain golf ini, ketika kulihat Pak Buaya bergegas keluar cafe dengan bersungut-sungut. Sejurus kemudian tiga orang yang tesisa di Meja Segilima itu menyusulnya.

Apa yang barusan terjadi? Ku bertanya pada bibir dan telinga cangkir mereka.

Tidak seperti biasa, selisih pendapat terjadi diantara mereka. Engkong mengajukan nama yang dapat memperbaiki Republik dari segi ekonomi. Namun, nama tersebut dinilai memiliki aura yang kurang baik menurut Aki. Sang dukun memiliki penerawangan tersediri terhadap siapa yang akan membawa Republik ini menjadi sebuah negara maju. Kemudian nama-nama tersebut disanggah habis-habisan oleh wanita berhijab sang Ratu Media, menurutnya akan susah mengembalikan citra politikus-politikus tadi dimata masyarakat, masa lalunya dinilai terlalu kelam.

Sebenarnya, semua keputusan mengenai politik akan dikembalikan lagi ke Pak Buaya, namun dia sendiri juga bimbang. Padahal jumlah suara yang diinginkan tinggal dipesan, tapi permasalahannya kandidat yang mumpuni tidak dia temukan. Agaknya dia mulai frustasi memegang kemudi politik Republik ini.

Akhirnya setelah perdebatan intens, ditemukanlah suatu titik tengah. Sebuah nama yang dapat memajukan perekonomian Republik, disukai masyarakat, dan memiliki kharisma. Tapi memang perlu banyak usaha untuk memenangkannya, karena itu mereka berempat segera membagi tugas dan melaksanakan bagian masing-masing.

Oh. Susah juga ya. Ngomong-ngomong besok aku nyoblos siapa ya.. Hemm. Apa ini? Secarik kertas tipis terjatuh dibawah meja segilima. Ada sebuah nama tertulis disana. Nah! Mungkin ini yang akan memenangkan pemilihan umum besok!

.

Hah. Tapi mana mungkin. Presiden ini sudah mati. Apa maksud ditulisnya nama ini? Apa antek beliau yang akan jadi Presiden? Atau seorang yang diam-diam berhubungan dengan beliau? Atau jangan-jangan sebenarnya beliau belum mati? Pemikiranku sudah kemana-mana. Aku tahu tidak ada yang tidak mungkin bila berurusan dengan orang-orang di Meja Segilima.

Ah. tunggu ada tulisan kecil dibalik kertas ini.

Ini namaku. Kenapa mereka mencoblos namaku?

Seketika kurasakan perih menusuk tengkukku. Seketika semua gelap. Hal terakhir yang kudengar adalah dentang cangkir yang kupegang jatuh ke lantai, dan sebuah bisikan pelan,

“Kamu sudah tahu terlalu banyak.”

Iklan

Meja Segilima (bersambung)

Pernah dengar Republik-ku?

iya Republik anu,

Republik yang banyak rakyatnya, banyak pejabatnya, dan banyak masalahnya. tapi, apa pernah tahu kalau tidak terlalu banyak kepala yang dibutuhkan untuk mengaturnya? cukup lima saja. lima kepala. saling berhadapan di meja segilima.

meja di cafe ku ini memang bentuknya nyeleneh-nyeleneh. Tidak ada yang melingkar atau menyegi-empat. Kebanyakan seginya tiga, lima, atau tujuh. Ganjil. memang.

mungkin karena bentuk mejaku, lima orang itu memilih kesini dan minum kopi. mungkin karena kopiku, mereka merapat disini. kurang jelas. yang jelas aku tahu ada masalah yang lebih besar dibalik kerut di dahi mereka ketika menyeruput kopi. masalah yang caffeine tidak bisa bantu selesaikan. masalah yang bahkan heroin tidak bisa enyahkan.

iya, masalah Republik-ku.

bagaimana aku bisa tahu? karena aku ini bukan cuma pencuri dengar. aku ini barista. lihat telinga cangkir itu? itu telingaku. Biji-biji kopi yang kugiling ini biji-biji mataku. Bibirku bibir cangkir yang mereka cumbu ditiap sesap kopi itu.

aku dengar semua, aku lihat semua, aku rasakan mereka.

sebenarnya harinya tidak tentu, kadang saat terang purnama menerpa padang golf di sebelah cafe-ku, kadang siang bolong ketika cafe ku sedang ramai-ramainya. mereka berlima berhadap-hadapan, dan berbicara. hei jangan kau kira aku mengerti benar pembicaraan mereka. mereka berbicara angka, dan aku hanya menerka-nerka.

tampilan mereka sederhana. wajar dan biasa. dua orang terlihat seperti bapak-bapak yang sering kita temui sedang duduk sabar menanti istri di dalam gerai sebuah pusat perbelanjaan, dua orang lagi berpakaian santai seperti pulang berkebun atau memancing, dan satu wanita berhijab dengan masker selalu menutupi sebagian besar wajahnya.

dari yang kudengar. bapak dengan kaos kerah bergambar buaya, Pak Buaya aku menamainya, adalah orang politik. tapi yang kutahu dia bukan konstituen, bukan kader, bukan legislator. Dia seorang wirausahawan alat kesehatan. Produsen termometer sepertinya, karena dia yang paling lihai memainkan termometer suhu politik Republik. Kadang diangin-anginkan agar dingin, kadang dibiarkan saja agar stabil. Tapi dari apa yang kudengar di percakapan awal tahun mereka kemarin, tahun ini termometer itu akan diselipkan diantara ketiaknya. Biar memanas, katanya. Oh. Pemilu.

kemudian ada Engkong. aku memanggilnya seperti itu karena jika dulu aku lahir di keluarga Tionghoa, aku yakin kakek-ku akan tampak seperti dia. Senyum hangat yang tinggal empat selalu menyertai order Americano tanpa gula-nya. Hei, mungkin aku tidak boleh menceritakan ini kepadamu, tapi kurasa dialah laki-laki yang sering menghimbau kita mencintai produk-produk dalam negeri. Pertama aku merasa ragu, tidak mungkin pria sekaya itu berwujud seperti ini, seperti Engkong yang baru selesai merapikan kebun tetangga. Oh, dan sudahkah kubercerita bahwa dia selalu diantar becak langganannya? meskipun dengan penampilannya yang sederhana, aku yakin aku sempat mengintip dompet negara menyembul di saku belakang celananya.

Pasar. Dia penguasanya. Harga kebutuhan pokok dimainkan semudah dia memainkan rokok klobot kulit jagungnya. Bahan bakar minyak, cabai, daging sapi, semua yang bisa dijual, semua yang dapat dibeli, diaturnya sesuka hati.

Namun, wanita berhijab itu selalu menarik perhatianku, maskernya sekilas membuat ku terkecoh. tapi dari kerling di matanya, lengkung busur sulaman alisnya, aku tahu aku mengenalinya. entah dimana. dia wanita cantik yang belum pernah kulihat kecantikannya. berulang kali aku berusaha membuat percakapan dengannya, tapi dia selalu menunduk dan diam saja, namun sekali dulu pernah kudengar dia berkata sesuatu, detik itulah kutahu penyanyi favoritku sedang bersembunyi dibalik hijab dan masker itu.

Media adalah taman bermainnya. baik yang tercetak dan yang elektronik. sadarkah kamu betapa mudahnya opini masyarakat Republik terbentuk oleh apa yang dibaca dan ditonton sehari-hari? nah, karena itulah menurutku perempuan ini yang terhebat diantara lima orang ini. siapa dan bagaimana ingin di-citra-kan, kapan dan kenapa harus diberitakan, semua dia yang tentukan. kalian pikir siapa yang akhir-akhir ini membuat kita jadi lebih simpati terhadap komodo yang mati daripada saudara-saudara yang hampir enam bulan mengungsi? atau jadi lebih ambil pusing soal komentar Instagram bu Ani daripada isu penyadapan dari negara tetangga?

sosok lelaki dengan kaos polo berkerah berwarna cerah, dan celana khaki selutut, ku berani bertaruh kamu tidak akan mengenalinya. penampilannya necis, wangi parfum eropa yang sering dipakai pelanggan-pelanggan VIP-ku. potongan rambut yang rapi serta bulu-bulu wajah yang tercukur bersih. laki-laki ini tampak sangat smart, tampak ber-mil-mil jauhnya dari aroma menyan, rambut gondrong, brewok panjang dan aura angker yang biasa menyertainya, bahkan lebih jauh lagi dari penggilan akrabnya.

Aki ini, begitu aku memanggilnya, bertanggung jawab terhadap hal-hal yang tidak dapat dipertanggung jawabkan siapa-siapa, mengatur hal-hal yang dulunya aku pikir tidak dapat diatur. entah siapa atau apa yang merewanginya, setahuku dia-lah yang menambah dan mengurangi titik banjir di Jakarta, dan yang bikin aku sedih, kemarin kudengar dia membuat masalah dengan Sang Batara Kala, dan hari ini abu turun di kotaku.

yang terakhir, seorang laki-laki dengan aksen kental yang tidak mampu dia tutupi. seorang laki-laki yang berurusan dengan masalah hukum selama dia hidup. tahukah kamu dimana buku undang-undang itu berdasar? buku harian masa kecilnya. hukum Republik bisa dia tegakkan, maupun dia bengkokkan. dia kembangkan, dia hapuskan. dia jalankan, atau dia runtuhkan. di pihaknya-lah pihak kepolisian, pihak pengadilan, dan pihak kejaksaan Republik ini. siapa harus di-bui? siapa diberi remisi? siapa perlu ditinjau kembali? semua tergantung ujung obrolan di dasar cangkir kopi. ah. tunggu sebentar. berbicara tentang cangkir. sudah bertumpuk cangkir kopi menungguku untuk dicuci. sebentar.

sebentar. besok akan kuceritakan lagi…

OB

Pagi ini Ambar memandangi mug putih di meja kerjanya dengan berbinar. Garis hitam kopi kemarin masih menghiasi mug itu. “Ah, ini belum dicuci, berarti gue belum terlambat, nggak sia-sia ngebut membuntuti iringan kawalan pejabat di Tol tadi”, ujarnya dalam hati sembari membenarkan rambut lurusnya yang sedikit berantakan.

Jam kerja masih 45 menit lagi, namun Ambar sudah duduk manis di hadapan monitor komputernya. Belum, monitor itu belum dinyalakan, Ambar masih tidak ingin melihat pekerjaan, alih-alih layar kaca 15 inchi itu disalahgunakan sebagai cermin dadakan. Kurang jelas memang, tapi cukup untuk membantunya memperbaiki penampilannya pagi ini.

Kantornya di kawasan Rasuna Said, Jakarta Pusat masih sepi. Supervisor dan co-workers di departemennya belum datang. Namun, tidak berapa lama, terdengar 3 ketukan pelan di pintu kantornya. Ah itu dia datang!, buru-buru Ambar menegakkan duduknya, merapikan bawahan hitamnya, melihat sekilas ke cermin dadakannya.

Mas Pri, panggilannya. Lelaki tegap asal Banyuwangi ini baru 3 bulan bekerja sebagai Office Boy di kantor Ambar, dan selama 3 bulan itu juga dia selalu rajin bermain di pikiran Ambar. “Assalamualaikum”, suara berat dibarengi dengan senyuman manis itu membuyarkan fokus Ambar dari bulu-bulu halus yang hari ini ramai menghiasi wajah Mas Pri. “Ah, em, iya wa’alaikumsalam Mas”, balas Ambar kaget, malu dengan apa yang barusan lewat dipikirannya.

Seperti hari-hari sebelumnya, Mas Pri dengan sopan menundukkan pandangannya sambil mengambil mug-mug di atas meja-meja kerja untuk dicuci. Ambar mengamatinya dengan seksama. Kenapa dia selalu menunduk? Kenapa dia tidak pernah memandang wajahku? Apa aku tidak menarik? Ambar selalu bertanya-tanya dalam hati. Paras keturunan Padang-Jerman ini bukan paras yang jarang mengundang pujian, hidung mancung  yang menjulang menemani kedua mata coklat tua yang indah, belum lagi bibir tipisnya yang selalu dihiasi senyum, rasanya jarang orang hanya melihat satu kali.

Sengaja, Ambar memegangi mug putih miliknya. Tidak dia minum, karena memang tidak ada isinya, hanya dia pegang dengan dua tangan di pangkuannya. “Maaf, gelasnya”, ujar Mas Pri pelan. Sengaja, Ambar diam saja. Mas Pri mengulangi, “Emm, maaf gelasnya saya cuci atau..”, “Atau apa?” Balas Ambar cepat dengan nada sok ketus. Ekspresi takut dan kaget Mas Pri kontan membuat Ambar tertawa. Hahaha polosnya orang ini, ujar Ambar dalam hati.

Kesederhanaan Mas Pri-lah yang semula menarik hati Ambar. Jauh berbeda dengan pria-pria yang lalu-lalang di kehidupannya. Ambar selalu merasa lelaki sekarang terlalu banyak aksesori, dan memang dia selalu punya soft spot  buat laki-laki yang tidak neko-neko seperti Mas Pri. Ditambah lagi ada perasaan janggal di hati Ambar setiap berada di dekat lelaki itu. Dia ingat sekali, perasaan itu mulai tumbuh hari pertama Mas Pri bekerja.

Masih jelas di ingatan Ambar, hari itu hujan deras sepanjang hari, dan Ambar tahu jalanan Ibukota akan sangat macet dan melelahkan. Dia sengaja berlama-lama bersantai di Mushola kantornya yang nyaman ketika tidak terasa sayup-sayup terdengar adzan maghrib mulai berkumandang. Tidak berapa lama datanglah seorang lelaki dengan wajah dan tangan yang basah dengan air wudhu, tersenyum ke arah Ambar yang sedang bersiap sholat. “Mari berjamaah”, ujarnya dengan lembut.

Mushola magrib itu sepi, hanya Ambar dan imam yang belum dikenalnya ini. Wajahnya asing, sepertinya bukan orang kantor sini, mungkin tamu. Seketika ada perasaan hangat merasuk ke dada Ambar semenjak mendengar takbir. Bacaan Al-Fatihah yang fasih dan tenang membuat hati Ambar terhanyut dalam khusyuknya sholat berjamaah malam itu. Salam telah diucapkan, puji-pujian kepada Rasul sudah dipanjatkan, dan Ambar dengan rasa penasaran langsung membuka percakapan.

Maghrib itu, disusul maghrib-maghrib berikutnya. Perbincangan santai diselingi sedikit canda selalu mengalir begitu saja. Mas Pri bagai mentor untuk Ambar. Dari Mas Pri-lah Ambar mendapatkan jawaban dari pertanyaan-pertanyaannya mengenai agama. Pertanyaan-pertanyaan yang selama ini tidak dia tahu dimana jawabannya. Jawaban yang didapat selalu jauh dari kesan menggurui apalagi menghakimi. “Saya hanya berbagi”, selalu begitu ujar Mas Pri.

3 bulan ini terasa cepat sekali, Ambar sekarang lebih bersemangat kerja, datang paling pagi, dan pulang terakhir sendiri, semua hanya karena Mas Pri.

Rasanya sekarang Ambar hampir tidak bisa menahan perasaan lagi. Rasa yang semula hanya sebuah titik hangat di ulu hati, semakin lama semakin meluas, memanas, mengeras, kemudian mengganas. “Duh, kalau dilanjutin begini terus bisa-bisa gue nggak waras”,  ucap Ambar dalam hati malam itu sambil berbaring mengusap-usap dadanya yang sesak. Berusaha keras untuk  tidur namun selalu gagal. “Kenapa..Mas Ambar insomnia lagi?”, tanya istrinya.

Ibuk, Aku Gagal.

rasa apa ini? seperti logam cair dari kerongkonganku.

ah tunggu? dimana kakiku?


sore menjelang malam. terang siang perlahan menghilang ketika kulangkahkan kaki-kaki layu ku di sepanjang jalan itu.

jalan itulah tempat lahirku. tepat dibawah rindang Trembesi, di balik kekar akarnya yang sibuk berpanco dengan aspal, disitu aku pertama membuka mata.

kulihat ada ibuk. ada 3 saudara kandung. tidak kulihat bapak. haha. dulu, fakta itu selalu menggelitik jiwa muda ku yang penasaran.

buk, bapak kemana buk? tanyaku pada ibuk yang sibuk membersihkan diri. waktu itu ibuk acuh.

buk, bapakku yang mana buk? itu bapak buk? bapak itu buk? buk, itu bapak bukan buk? buk? buk?

Risih. ibuk pun mengindahkan. ah. masih jelas di ingatan kata-kata ibuk yang di-tegas-tegaskan.

dengarkan ibuk ya le. bapak kamu bukan yang loyo, bukan yang lapar, bukan yang lunglai, bukan yang berpenampilan lemes kayak gitu. bapak kamu itu pejantan tangguh. bapak kamu itu PERKASA. inget itu.

ha. iya buk, terlalu perkasa untuk setia. ujarku dalam hati.

kata orang memang bapakku itu adalah pejantan alfa. punya kekuatan. punya modal. punya penampilan. punya semuanya. siapa coba yang berani melawannya? betina mana coba yang tidak nyah-nyoh ke dia setiap musimnya tiba?

Duh gusti. musim itu sudah dekat.

hormon jantan di nadi-nadi ini sudah dawuh untuk segera bertindak. kulihat dimana-mana semua sudah pasang kuda-kuda. sibuk pagari teritori. saling lirik-melirik kanan-kiri. mengecek siapa yang paling birahi.

lha aku kudu piye? 

pejantan lesu macam aku mustahil dapet jatah kursi. disikut sedikit aku sudah benjut. dicakar sedikit aku takut. digertak sedikit saja nyaliku mengkerut.

hey Alam! mungkin nggak sih aku lolos seleksimu? Seleksimu itu terlalu ketat! rasanya lebih ketat dari celana perempuan sekarang. Buat aku yang seperti ini merasakan kenikmatan itu rasanya cuma mimpi, lebih-lebih meneruskan keturunan. Duh! lama-lama hati ini konstipasi.

yasudahlah, aku sudah lelah. Lebih baik kulanjutkan saja perjalanku menuju haribaan Trembesi kesayangan.

nah itu dia berdiri gagah di pinggir perempatan. angin malam menggoyang dahannya seakan melambaiku untuk segera menyeberang. ah. ibuk aku pulang.

eh. sinar terang apa itu dari sisi kiriku?

.

.

kelopak mataku berat. tapi kuberusaha keras membukanya. apa itu tadi? apa yang barusan terjadi? kenapa aku tidak bisa berdiri? kenapa lidahku terasa seperti logam?

kulihat ke atas, manusia yang sering tidur siang di bawah Trembesi-ku berjalan mendekati. kenapa dia terlihat terganggu? untuk apa koran itu?

ditutupinya aku dengan koran, diangkatnya aku dari tengah jalan. hei tunggu sebentar, dimana kaki ku?

berhenti dulu. berhenti! apa aku ini sudah mati?

lho. aku belum puas hidup cuma begini. belum habis kususuri jalanan kota ini. kenapa? kenapa sekarang? apa gara-gara buluku belang tiga yang bawa sial ini?

yah, buk. aku gagal. aku mati. disini, lobang dangkal dibalik akar Trembesi.