Yogyakarta 1D1N? BISA!

Pulang ke kotamu..
Ada setangkup haru dalam rindu..
Masih seperti dulu..
Tiap sudut menyapaku bersahabat, penuh selaksa makna..
Terhanyut aku akan nostalgi..

Belum selesai pengamen reguler Stasiun Gubeng itu mendendangkan Yogyakarta-nya Kla Project, petugas PPKA sudah menghimbau saya dan penumpang Sancaka Sore lain untuk bersiap-siap disekitar Jalur 6.

Sabtu itu, ditemani daypack enteng dan tas selempang kecil, saya berangkat ke Yogya untuk pulang keesokan harinya. Iya, cuma sehari disitu, disitu itu, kota yang katanya terbuat oleh rindu, yang suasananya, nuansanya, dan orang-orangnya selalu bikin kangen buat kembali.

Emang cukup cuma sehari, Dhir? Lagian kenapa kok bentar amat?

Hemm sebenernya, semua ini karena kata Ayah dia tidak bekerja, sehingga ku tak boleh berpacaran dengannya  Mati Akuu, Ayahku Tau .. *eh, bentar *ngecilin Suara Giri FM. Hemm. Jadi, sebenernya rencana awal adalah, berangkat jumat sore, dan pulang minggu malam, kemudian senin pagi sampai di Sidoarjo langsung mandi dan kerja. 2D2N (dua hari dua malam), pasti cukup buat muterin Yogya. Tapi sayang, sirkumsisi memaksa saya memotong dan memendekkan lama perjalanan jadi tinggal 1D1N (sehari semalam). Dhir, “sirkumstansi” gak sih harusnya? *ssssttt *sambil naruh jari telunjuk di bibir kamuh.

Yah. Jadi pendek deh (jalan-jalannya). Tapi, jangan sedih. Saya….. Nadhira Subiyanto, Ketua Asosiasi Pejalan Nyasar Seluruh Indonesia, akan membagikan tips bagi barangsiapa yang ingin menghabiskan akhir pekan di Yogyakarta. Karena, bagi Saya… Nadhira Subiyanto. Hidup adalah Perebahan. *teeeet. pre-memory. Langsung ke intinya aja, kakaaaak…

  • Kalo suka yang kalem-kalem aja?coba deh PDKT sama Teh Ninih. Eh. Tenang, atuh Aa’ Gym. Jalan-jalan di pusat kota Yogyakarta itu sama sekali gak ngebosenin, kok! Seandainya Aa’ 1D1N aja di Yogya, ini yang bisa Aa’ pilih :
    • Sabtu sore : HUNTING BAKPIA. kenapa hunting? karena lupa pake pengaman. Huss. Bukan. “Hunting” disini karena bakpia yang dicari itu bukan sembarang bakpia. Bakpia yang satu ini sering sukses membuat banyak pengunjung patah hati karena stock yang ga ready sis. BAKPIA KURNIA SARI. iya. belum pernah denger? seringnya kita dioleh-olehin bakpia yang ada nomornya kan, 145, 175, 75, 25, 35, 38, 55, 67, 99. Entah darimana asal nomor-nomor itu, mungkin itu misteri Da Pia Code. Tapi Bakpia kurnia sari ini beda for a reason. Soal rasa berani diadu, bongkar kebiasaan lama! Diameter bakpia nya lebih besar, kulitnya begitu tipis, begitu lembut, begitu kuat. Rasa kejunya itu lho, gurih banget. Enak deh! Enak sampai butuh order minimal 3 hari sebelumnya kalau mau nyicipin kenikmatannya. Ngerik. Mungkin nih ya, mungkin sang pemilik bakpia kurnia sari ingin menjaga keberlangsungan dari pengusaha-pengusaha bakpia lain atau gimana, yang saya tau, sebanyak apapun permintaan, pabrik bakpia beliau tidak akan memproduksi bakpia lebih dari kuota yang ditentukan. Jadi mau gak mau, hanya ada dua cara, menurut Saya…..Nadhira Subiyanto, Ketua Asosiasi Pejajan Pasar Seluruh Indonesia, untuk mencoba Bakpia Kurnia Sari :
        1. Pesan terlebih dahulu. 2-3 hari sebelum keberangkatan, gak ada salahnya telepon ke nomor-nomor dibawah, untuk sistem pembayarannya bagaimana, saya kurang tahu, untuk harganya sekitar 25ribuan. Coba di tanyakan sendiri.— Ruko Permai Pogung Lor No 6. Jln Ringroad Utara Jogjakarta (sebelah ahmad dhani school rock of music). Telp (0274) 625279. — Jln Glagah Sari 91C Jogjakarta. Telp. (0274) 380502 — Jln Glagah Sari 112 Jogjakarta Telp (0274) 375030 (seberangan sama cabang yang satunya. dan iya, kalau disana habis, disini juga.)
        2. Datanglah ke cabang-cabang tersebut pada Jam 07.00 pagi, atau 15.00 sore karena itu adalah waktu-waktu yang mustajabah untuk membeli bakpia. Pada jam tersebut pengantaran bakpia dari pabrik ke counter dilakukan. Kalo akhir pekan, 1-2 jam setelah itu? stock bakal habis, sis.

    Don’t judge Bakpia by its Box.

     

    • Sabtu malam : Nikmati Bersama Suasana Yogya. Santai-santai keliling kota, just soak up the ambeien , dude! Eh. Duh. Typo yang gawat. I mean, ambience yah, suasana. yaelah Dhir, siapa juga yang mau ngisep wasir. Oke *telan Ambeven. Berikut adalah list pilihan enaknya kemana aja Sabtu malam di Yogyakarta :
    1. TUGU JOGJA. Nah. Rasanya gak afdol kalau belum kemari. Monumen setinggi 15 meter yang berdiri tegak di tengah perempatan Jalan Pangeran Mangkubumi, Jalan Jendral Soedirman, Jalan A.M Sangaji dan Jalan Diponegoro ini sudah berusia hampir 3 abad, lho! Dibangun oleh Sri Sultan Hamengkubuwono I, tugu ini selain sebagai simbol persatuan Raja, rakyatnya, dan Yang Maha Kuasa, juga diperuntukkan sebagai patokan arah ketika para raja ingin bersemedi menghadap gunung merapi. Did you know? bila ditarik suatu garis imajiner, Gunung Merapi di Utara, Tugu Jogja di tengah, dan Pantai Selatan membentuk garis lurus. Keren ya? Iya.

      Sudah Tegak Berdiri 3 Abad yang lalu.

    2. MALIOBORO. Iyaa laah. Masih seperti dulu, tiap sudut menyapamu bersahabat. Toko oleh-oleh, tempat nongkrong, semuanya ada di jalan ini. Yang lebih menarik, dan membuat suasana Jalan Malioboro ini lebih hidup, apalagi kalo bukan ‘para musisi jalanan’-nya. Ada yang bermain akustik, ada yang membawa gamelan, ada yang main perkusi kaya Safari Duo, ada yang membawa stereo lengkap dengan penari transeksualnya. Eh, tapi, trust me, they’re really entertaining! Nggak seperti pengamen yang biasa saya lihat di Sidoarjo, pengamen-pengamen disini had some serious skills. Penari banci yang saya ceritakan tadi? seru banget tariannya! Must see!
      Malioboro street

      Suasana di Kota Santri MALIOBORO

       

    • Sabtu malam banget : THE HOUSE OF RAMINTEN. Wajib. Kesini. Why? Tempatnya nyaman, makanannya enak, pelayanannya cepat, dan harganya murah! “Raminten” adalah nama tokoh di seri sitcom Pengkolan yang diperankan oleh Hamzah HS, sang owner. Mengusung tema “unique, antique, elegant”, menurut saya dapet feel yogya-nya! Karena banyaknya pengunjung yang datang ke restoran 24 jam ini, di bagian depan restoran disediakan tempat duduk berderet untuk menunggu meja kosong. Dan. Antriannya panjaang. Gilaa. Saya belum pernah nungguin meja hampir setengah jam untuk makan Sego Kucing seharga seribu rupiah. Tapi, worth it banget! Saya pasti akan kembali kesini lagi untuk coba Ayam Koteka dan Es Perawan Tancep yang sudah ludes habis waktu itu!
      raminten-2

      Foto Raminten dan Yati Pesek di Ruang Tunggu.

      Akhirnya dapat tempat duduk. Zaisu chair ala Jepang nya nyaman banget.

      Akhirnya dapat tempat duduk. Zaisu chair ala Jepang nya nyaman banget.

      Della nya Laper :(

      Della Travellmate saya uda Laper 😦 di depannya udah ada Nasi Gudeg Komplit, Sego Kucing Single Pakte (Pake Telur=2ribu), Sate Usus, Mendoan, Wedang Serai dan Jus Purworukmi

       

    • Minggu Pagi: Jalan-jalan ke Sunmor UGM. Cuci mata! juga cuci tangan sampai siku dengan air mengalir, kemudian jangan lupa membasuh muka, kepala, telinga, dan kaki. Nah. Setelah suci dari hadas kecil, marilah berjalan-jalan santai ke pasar dadakan disekitar lembah Universitas Gajah Mada ini, yaitu di Jalan Notonegoro yang memisahkan antara kampus UGM dengan wilayah Kampus UNY. Jogging tipis-tipis disambi nyemil dan belanja. Mulai dari pernak-pernik aksesoris, kuliner khas jogja, sampai penjual binatang peliharaan semua ada disini.

      Sunday Morning

       

    • Minggu Siang: Jalan-jalan Seru di Taman Sari. Dari Malioboro, situs bekas taman istana Keraton Yogyakarta ini bisa dicapai dengan becak. Mungkin perlu beberapa kali take adegan tawar-menawar yang agak alot. Yah, emang gitu, para tukang becak sekarang suka jual mahal. Yaiyalah, masa’ dideketin dikit, kitanya langsung iya-iya aja? nanti malah kita dikira murahan lagi, dia dong yang usaha deketin kita dulu, kalo emang dia serius, pasti nggak bakal cari yang lain kok. Kan kalo jodoh nggak kemana? EH. Ini kenapa si bapak malah curcol? *bentar, mau puk-puk Pak Becaknya. Nah, balik lagi ke Taman Sari. Saya…….. Nadhira Subiyanto, Ketua Asosiasi Penikmat Cagar Budaya Seluruh Indonesia, akan membagikan tips untuk menikmati Taman Sari :
      1. Datanglah waktu Taman Sari udah buka (antara jam 09.00 – 15.30 WIB). Iyalah say, nanti kamuh dikira abdi dalem..
      2. Kenakan busana yang sopan dan tertutup. Nanti kamuh masuk angin, sayang. Kesehatanmu, loh..
      3. Bawa minuman dingin, pake topi dan sublock. Jangan ampe lupa yah, beib. Akuh takut kamuh kepanasan disana..
      4. Pake GUIDE. Rp 30.000 per orang, mungkin bisa lebih murah kalo mau ditawar dulu. Ini penting. Supaya kita disana nggak muter-muter foto-foto aja, tapi juga bisa bener-bener mengerti dan menghargai situs sejarah ini. Lagian akuh nggak mau kamuh kesasar disana, cinta. Pake guide yah..
      5. Jangan lupa baca postingan berikutnya, “Fakta Unik Taman Sari” yang sekarang masih tahap penggodokan.

        Seperti kata pepatah. Tak Kenal, Maka Ta’aruf. Yuk ta’aruf sama budaya sendiri

    • Minggu Sore : Wisata Kuliner di SENTRA GUDEG. Yogya dikenal juga sebagai “The Big Jackfruit” menyaingi “The Big Apple” New York. Kenapa disebut begitu? Karena kata orang, dia tidak bekerja, sehingga ku tak boleh, berpacaran dengannya! Mati Aku.. Ayahku Tau… *huuus. kok lagu ini lagi sih?? Yah. pokoknya, yogya disebut nangka besar karena kuliner khas yang satu ini. Dibuat dari nangka muda, nangkanya para remaja, yang dibersihkan getahnya sedemikian rupa, kemudian dimasak dalam santan dan rempah-rempah dalam waktu yang lama. Did you know? ada banyak jenis Gudeg. Kalau menurut saya, secara garis besar sih dibagi jadi Gudeg Basah dan Gudeg Kering. Saya lebih menyukai Gudeg Basah, iya, yang ada santan nyemek-nyemek diatasnya. Menurut saya Gudeg Basah tidak terlalu manis dan lebih gurih, cocok untuk lidah Jawa Timur saya, tapi sayang, gudeg jenis ini tidak bertahan lama bila dibawa sebagai oleh-oleh. Biasanya, untuk buah tangan, Jenis Gudeg Kering lebih sering dipilih, karena sudah dimasak dalam waktu yang lebih lama sehingga bisa awet hingga 24 jam, lebih lama lagi kalau masuk lemari es.

      Gudeg Basah. Favorit saya. Entah kenapa, lebih susah dicari di Jogja adanya di Jalan Kaliurang kawasan Barek, Gudeg Batas Kota (Jl. Adisucipto depan Saphir Square) atau mbok-mbok penjual gudeg di pasar-pasar tradisional.

      Gudeg Kering. Lebih Manis. Yang enak di Gudeg Yu Djum (Jl. Wijilan 31) atau Gudeg Bu Slamet (Jl. Wijilan 17)

       

  • Minggu Malem : Masangin di Alun-alun Kidul. Masangin? Minum Tolak Angin Dhir. BUKAN. Masangin adalah singkatan dari MASUK DUA BERINGIN. Jadi, di Keraton Yogyakarta terdapat dua alun-alun, di utara dan di selatan. Alun-alun Kidul (Selatan) ini istimewa, letaknya dibelakang Keraton, tapi dibuat semirip mungkin dengan Alun-Alun Lor (Utara) di bagian depan Keraton. Kenapa? karena kata orang, dia tidak bekerja, sehingga ku tak boleh… *BRAKK. *banting radio. Whoosah. sampai mana tadi? Oh. Dibuat mirip dengan bagian depan Keraton karena sungkan, tidak ingin membelakangi Pantai Selatan yang dijaga oleh Nyi Roro Kidul. Apa hubungan Nyi Roro Kidul dengan Keraton Ngayogyakarta? Nantikan di postingan berikutnya!. OYA. kembali ke MASANGIN, caranya berjalan dengan mata tertutup dimulai sekitar 20 meter didepan kedua pohon beringin dengan tujuan melewati tengah-tengahnya. Kedengaran gampang? Coba sendiri! Konon ada rajah di antara kedua beringin tersebut untuk menolak bala yang akan mendatangi Keraton Yogyakarta. Sehingga, katanya, hanya orang yang bersih hati dan tak berniat buruk yang bisa lolos. Untuk mencoba permainan ini, kita bisa menyewa penutup mata seharga Rp 5.000. Selain itu, suasana Alun-alun ini begitu meriah di malam hari, saya sendiri suka sekali melihat kerlip-kerlip mainan kitiran yang menyala berputar-putar jika dilemparkan keatas. Buat bakar kalori dari kekenyangan makan gudeg, bisa coba naik becak-becak hias memutari Alun-alun Kidul. Muat digenjot 6 orang, becak ini bisa disewa Rp 25.000- 50.000 untuk 2-4 kali putaran. Jangan takut bosen, di becaknya sudah ada built-in speaker dengan jack standar 3.5 mm yang bisa langsung di-cep-kan ke HP untuk mendengar lagu favorit. Sarannya? Yogyakarta-KLA project dong!

    Recommended Activity di Alun-alun Kidul : Masangin Anastasia.

    Cara Seru Nikmatin Alun-alun Kidul : Gowes sambil Nyanyi Rame-Rame

     


Waduh. udah 1780 words. Post ini panjang banget! Ini aja baru share tentang jalan-jalan di pusat kota Jogja buat yang suka jalan-jalan kalem. Padahal masih ada itinerary liburan di Jogja 1D1N buat yang lebih suka jalan-jalan nggak mainstream. Tapi itu di post berikutnya aja ya?

Terimakasih sudah membaca..

PS : Maaf kemarin nggak banyak ambil foto. Semua foto diatas, kecuali yang di RAMINTEN, adalah pinjaman dari blog-blog lain, monggo silahkan klik di fotonya untuk tersambung ke blog ybs.

Matur nuwun 🙂

 

 

Iklan

Parade Budaya dan Bunga Surabaya 2014

Mendung gelap yang menggelayut di atas pusat kota Surabaya sore itu, Minggu (4/5/2014), tidak mengurungkan niat tiga orang wanita untuk berlari-lari kecil menyeberangi Jalan Basuki Rahmat. Hujan rintik-rintik itu seketika menjadi jauh lebih deras, ketika rombongan tiga wanita itu, Ibuk, Mbak Nadia dan saya, sampai di depan Hotel Citihub untuk menonton Parade Budaya dan Bunga 2014.

Rupanya determinasi Ibuk untuk menonton pawai meskipun cuaca tidak mendukung juga dimiliki oleh ratusan warga Surabaya lainnya. Suasana waktu itu agak absurd menurut saya, ratusan orang berjejer untuk menunggu pawai dengan senyum yang sedikit dipaksakan, kegirangan tapi kehujanan. “Lhoalah, udan rek“, ujar ibu disamping saya sambil memakaikan tas plastik ke kepalanya dan anak balita nya. Iya, kebanyakan dari kami tidak memiliki kenikmatan berteduh di bawah payung. Helm, jas hujan, bahkan koran dijadikan pelindung dari hujan sore itu.

Pawai yang dinantikan datang, kendaraan-kendaraan pawai yang megah dan bertabur bunga itu kebanyakan ditutup oleh terpal agar alat-alat elektronik di dalamnya tidak rusak, para penari yang sudah berdandan cantik itu berjalan beriringan sambil menggunakan payung, gitapati dengan hak tinggi dan baju gemerlap itupun memandu orkes barisan dibelakangnya dengan tertunduk. But, the show must go on.

Setelah menemukan sapu tangan untuk menutupi bagian atas lensa fix Canon 50 mm f/1.8 yang saya bawa, saya buru-buru memburu foto, berikut suasana Pawai Budaya Dan Bunga Surabaya 2014 yang tertangkap oleh kamera saya..

Behind The Scene.

Behind The Scene.

Please Spread My Wings.

Please Spread My Wings.

The Anticipation.

The Anticipation.

Happy Birthday, Surabaya.

Happy Birthday, My City.

Udan, Rek.

Udan, Rek.

Cuma Senyum yang Belum Luntur.

Senyum yang Belum Luntur.

Please, don't rain on my parade..

Please, don’t rain on my parade..

The Thirsty Eagle.

The Thirsty Eagle.

The Face of Parade.

The Face of Parade.

The Blower Father.

The Blower Father.

The Dancing Daughters.

The Dancing Daughters.

The Fishermen.

The Fishermen.

The Wifes.

The Wifes.

The Kingly Smile.

The Kingly Smile.

The Queen.

The Queen.

The Drag Queen.

The Drag Queen.

The Other Drag Queen.

The Other Drag Queen.

The Amused Crowd.

The Amused Crowd.

The Dancer.

The Dancer.

The Flirty Monkey.

The Flirty Monkey.

The Ferocious Lion.

The Ferocious Lion.

The Strength.

The Strength.

Penonton Setia.

The Loyal Audience,

10 Cara Menikmati Pawai Budaya

Banyak cara dapat dilakukan untuk melestarikan budaya suatu daerah, salah satunya dengan mengadakan Pawai Budaya tahunan. Seperti yang diselenggarakan oleh Dinas Pemuda, Olahraga, Kebudayaan dan Pariwisata (Disporabudpar) Kabupaten Sidoarjo untuk memperingati hari ulang tahun daerahnya, Februari lalu, yang tertangkap oleh kamera saya.

Tapi, bagaimana sebenarnya cara kita menikmati Pawai Budaya itu? Nah. Here is 10 ways to enjoy a cultural parade. My version :

1. Enjoy the opening ceremony. Upacara pembukaan suatu pawai biasanya dihiasi dengan para pejabat yang necis dan datang terlambat, pidato pembukaan, pemukulan gong, dll. Tapi yang paling worth it untuk dinanti adalah berbagai macam pertunjukkan kebudayaan yang tampil setelah prosesi-prosesi barusan. Mulai dari tari tradisional, reog, hingga marching band yang memainkan lagu pembukaan.

Tips : Early bird gets the worm. Early spectator gets the best view! Lebih baik berangkat 1-2 jam sebelum parade dimulai, selain untuk menghindari kemacetan, juga untuk memastikan kita dapat spot yang bagus untuk menikmati upacara pembukaan.

5

Pembuka Pawai

2. Join the parade. Bila cuaca dan suasana mendukung, mengekor iring-iringan pawai budaya adalah pilihan yang seru. Baik dengan berjalan kaki bersama para peserta, atau dengan sepeda motor, kita bisa menikmati suasana pawai dari mata para peserta.

Tips : Comfort shoes and outfit is the key. Mari bersimpati dan membiarkan pakaian berlapis, aksesoris kepala, hak tinggi, dan make-up tebal itu dipakai oleh para peserta saja.

3

Simpati

3. Sit back and relax. Tidak jarang pihak penyelenggara pawai menyediakan tribun untuk para penonton. Selain aman dan tidak menguras tenaga, keuntungan lain adalah terkadang para peserta pawai melakukan atraksi spesial ketika melewati tribun penonton.

Tips : Geared yourself up with portable fan and umbrella. Suhu negara tropis yang panas dan lembab serta sengatan matahari dapat secara signifikan mengurangi kenyamanan menonton pawai.

4

Detailed Art.

4. Stand up with the crowd. Pilih trotoar paling nyaman, dan nikmati suasana. Simple.

Tips : Park your vehicle nicely. Bisa diparkir di lapangan parkir terdekat, atau sedimikian rupa sehingga tidak menghalangi jalannya parade. And pay attention to road sign. adakah tanda S atau P dicoret?

222

Jaranmu inggirno sik.

5. Take different point of view, take pedestrian bridgeNah, this is my personal favorite. Dari atas jembatan penyeberangan, kita bisa melihat suasana pawai secara keseluruhan.

Tips : Keep your personal belongings safe. Saya pribadi mengulang frase ini dalam hati : ” Dompet, Hape, Kamera”, ketika bepergian ke tempat yang rawan pencopetan untuk memastikan barang-barang tersebut masih tersimpan aman di dalam tas. Please don’t put anything on your pocket, kecuali beberapa lembar uang ribuan untuk membeli minuman dingin. Ingat Pesan Bang Napi: “Kejahatan bisa terjadi bukan saja karena ada niat pelakunya , tapi juga karena ada kesempatan. Waspadalah, waspadalah!”

22

Dijaga Bang Napi.

6. Take some epic selfies. Foto bersama para peserta dengan berbagai konstum seru dapat menjadi kenang-kenangan tersendiri. Ah. Yuk minta duduk diatas kepala reog!

Tips : Take selfies BEFORE the parade starts, ketika make-up dan mood para peserta masih terjaga dengan baik.

6

Senyum tipis, masih manis.

7. Go people watching, you people watcher! Beberapa mungkin belum familiar dengan istilah “People Watching”, tapi saya yakin semua sudah pernah melakukan sebelumnya. Menurut wikipediaPeople watching or crowd watching is the act of observing people and their interactions, usually without their knowledge. Duduk santai dan menikmati perilaku orang-orang disekitar itu menyenangkan bagi saya. Dari situ saya menebak-nebak latar belakang mereka, hubungan yang mereka miliki dengan orang disampingnya dan lain-lain. Beberapa berakhir jadi inspirasi dari cerita pendek yang saya buat.

Tips : Eavesdrooping is not necessary. Cukuplah Bu Ani yang disadap pembicaraannya, tidak perlu kita ikut menguping pembicaraan orang tak dikenal.

1

I wonder, what are you wondering?

8. Enjoy the culinary experiences. Ada gula, pasti ada semut. Jika ada crowd, pasti ada penjual makanan disekitarnya. Hemm. Apa yang lebih enak dari Rujak Manis setelah panas-panas menonton pawai?

Tips : Sanitize your hands, please. Oke, tips ini datang dari saya, seorang apoteker yang beberapa kali terserang Demam Typhoid. Believe me, I‘ve learned to sanitize my hands the hard way. Mungkin karena tangan saya terlihat bersih, sehingga menepukkan tangan satu dua kali ke bagian belakang celana jeans sambil membaca Basmalah saya rasa sudah cukup untuk mulai menikmati hidangan. Tapi saya salah, begitu banyak bakteri berdiam di tangan kita, dari uang lembaran, dari stang sepeda motor, dari bersalaman, dari mana saja, karena itu saya sarankan untuk membawa hand sanitizer yang dapat dibeli di convenient store terdekat. Berikut cara pakainya yang benar menurut World Health Organization : (lakukan semua langkahnya dalam waktu 15 detik ya, karena lebih dari itu alkoholnya akan menguap.)

Ingin sehat dan selamat, cuci tangan. Telungkupkan dua tangan bergantian. Megatup dan mengunci, lalu putar ibu jari. terakhir gosok-gosok ujung jari. *ini ada lagunya

9. Let’s hunt some photoBerburu foto adalah cara yang mengasyikkan untuk menikmati pawai budaya suatu daerah. Foto-foto diatas ditangkap oleh kamera amatir saya Februari 2014 lalu di Alun-alun Sidoarjo.

Begitu banyak obyek dan angle menarik yang bisa ditangkap oleh kamera, contohnya :

-suasana pawai (letak penonton terhadap iring-iringan pawai, cuaca ketika pawai berlangsung),
-ekspresi peserta pawai (ekspresi senang, atau bahkan ekspresi bosan menunggu mulainya pawai),
-persiapan peserta (misal ibu yang mengahpus keringat dari putri cantiknya yang sudah full make-up, atau guru yang sedang briefing regu drumbandnya),
-detil keunikan kostum (kostum secara keseluruhan, atau fokus ke pernik kecil yang menarik perhatian),
-kendaraan pawai,
-para pejabat pembuka pawai,
-gerakan dinamis gitapati, dll

Oh, and did I mentioned that sometimes carrying camera around and looking sharp when taking pictures give us some advantages? Keuntungan kelihatan seperti wartawan antara lain : dipersilahkan maju kedepan untuk dapat spot yang oke, para peserta willingly pose and smile for us, diajak kenalan sama para wartawan lain.

Tips : Get your weapons ready, hunters! Baterai kamera yang sudah fully charged, memori kamera yang memadai, tripod, dll.

12

A camera is a save button for minds eye.

10. Just enjoy the parade with loved ones. Lebih baik rempong bersama-sama, daripada senang-senang tapi sendiri. Ya kan? Ajak orang tua, saudara, tetangga, sahabat, atau gebetan masing-masing untuk meng-apresiasi budaya sendiri. Kalau bukan kita, siapa lagi?

11

And when it rains on your parade, look up rather than down. Without the rain, there would be no rainbow. ~Gilbert K. Chesterton

Sekarang Semarang : another impulsive trip.

Dek, yuk sekarang ke Semarang. Kamu yang nyetir, berani ya! ~Ibu, Liburan Natal 2013


Hah?

saya yang baru pulang ngantor naruh tas kerja sambil melongo.

Sekarang? “Iya dek, itu udah Ibu packing kopernya.”

Nyetir? “Hehe. Kamu berani ya!” (kalimat berikut berakhiran tanda seru ya anak-anak, bukan tanda tanya. Jadi, ini adalah contoh kalimat perintah dengan susunan S-P-O…)

Widih.

Naga-naganya kemampuan nyetir saya yang pernah satu tempat les mengemudi sama Paul Walker bakal diuji ulang sama emak, Sang Gymkhana. Aduh. Tarik nafas bentar, kemudian seperti yang sudah-sudah, gak pake perhitungan weton dan perhitungan tanggal baik, saya langsung bilang : BERANGKAT BUK!

dan berangkatlah kita ke keras haribaan Pantura.

tertanggal 24 Desember 2013, menjelang tengah malam, Christmas Night kali ini dihabiskan di dalam mobil oleh ibuk saya, kakak saya, dan juara bertahan lomba mirip Megan Fox yang sedang anggun bertengger di balik kemudi. Kita bertiga termangu terjebak dibalik pantat truk trailer, somewhere in the middle of Tuban.

M a c e t p a r a h.

Parah. pake banget, pake supir yang pada turun ngeluarin ember, buka baju trus nari india nyuci kaca truk. segitu macetnya! Setelah dua jam berselang, barulah kita mulai pamer paha diranjang. Padat Merayap tanPa Harapan Di antrian panJang. hus.

Udah jenuh aku mendengar manisnya kata cinta lebih baik sendiri nyetir, mata udah berat, dan saya akhirnya menyerah. Kakak, yang seharian tadi habis capek muter-muter Surabaya nganterin sang kekasih, akhirnya uda dapet cukup istirahat dan cukup fit buat gantiin.

whoosaah. masih 200-an kilometer lagi, dan waktu udah menunjukkan pukul 1 malam, dan saya bertanggung jawab sebagai navigator-obat antingantuk-tempat curhat selama total 10 jam kakak nyetir. Bukannya sekali, sering ku mencoba tapi ku gagal lagi lobang dan gelombang di aspal Pantura mengagetkan kita dan memaksa mata ini lebih awas dari sebelumnya.

adzan subuh berkumandang tepat saat mulai memasuki Kabupaten Pati, kemudian berhentilah para Kafillah dalam perjalanan ke barat ini di Masjid Agung Pati. Masjid Baitunnur.

Camera 360

Camera 360

Sudah banyak jemaah yang datang. Bapak parkir juga sudah ganteng bertugas.

baru menginjakkan kaki melewati pagar masjid, saya langsung kena culture shock. yup. My normal dose of culture shock. Setiap ke Jawa Tengah, pasti ngeVetyVerain ini. *eh. ngalamin ding. Alam, Alam ya?. bukan kakaknya. Duh.

melihat saya datang, bapak penjaga masjid langsung berdiri dari bangku kayunya, mengucap salam dan tersenyum manis, semanis padanan sarung dan baju kokonya, lalu tanpa ditanya menunjukkan arah tempat wudhu wanita dengan ibu jari, tentunya dalam bentukan bahasa Jawa yang paling halus, Krama Inggil. Dan saya, peranakan Jawa-Madura yang tidak cakap dalam bercakap Jawa ataupun Madura, dan yang masih setengah ngantuk-suntuk gara-gara perjalanan panjang barusan, hanya bisa melongo sebentar.

Butuh sepersekian detik buat otak ini mencerna gestur ramah yang overwhelming ini, sebuah gestur yang jarang sekali saya dapat di Jawa Timur. Dan respon yang keluar hanya “Hah, Oh, emm nggih pak, iya terimakasih” ditambah sedikit senyum canggung dan anggukkan kepala. Oh iyaya beneran nih udah di Jawa tengah. Ujar saya dalam hati.

and now don’t get me started with the mosque. This mosque is gr!eat Arsitekturnya, kenyamanannya, kebersihannya, suasanannya, semuanya. Entah kenapa masjid ini membuat saya merasa arrivedRasa santai dan lega yang dirasa ketika sudah sampai tujuan, saya rasakan disini, padahal tujuan saya yang sebenarnya masih berjarak beberapa jam lagi. Ah. Segala Puji BagiNya.

Camera 360

Kempling. *tempat wudhunya!

Camera 360

Sayap kiri Masjid Baitunnur yang terhubung dengan tempat wudhu wanita.

Camera 360

Suasana dalam Masjid Baitunnur yang nyaman ber-penyejuk ruangan.

Camera 360

Sang Mutakif (orang yang ber-Itikkaf)

Sehabis sholat subuh berjamaah, berlanjutlah perjalanan kami ke barat  mencari kitab suci. Sekitar pukul 7 pagi kami tiba di Kota Semarang. Venice van JavaBeuh. Keren kan julukannya? kenapa dibilang mirip kota Venesia? Bukan, bukan karena rakyatnya mancung dan pinter main bola kaya rakyat Itali. Bukan, bukan karena tukang becaknya sekarang genjot Gondola. Bukan deh bukan, pokoknya bukan. duh emang istri saya sekarang sudah bukan berapa sih, Dok? *Nah. itu BUKAAN Dir. istri sapa mau lahiran?. 

Semarang itu Venisia nya Jawa karena..

132031706410_0000149 132031723910_0000149 OLYMPUS DIGITAL CAMERA

(foto dari sini dan sinu)

karena Rob. iya, bener banget. Rob Kardashian. *tidak! eh, Robert Pattinson. *tidak! tidak! bisa babi! bisa babi!

Rob adalah banjir yang diakibatkan oleh air laut yang pasang yang menggenangi daratan, merupakan permasalahan yang terjadi di daerah yang lebih rendah dari muka air laut. (wikipedia).

Semarang kaline banjir, jok sumelang rak dipikir.. inget lagu yang sering dinyanyiin Tia AFI dulu?

Nah, tapi selama belasan lebaran saya mudik ke semarang, belum pernah tuh terganggu dengan Rob ini, mungkin karena jaman saya sudah dibangun reservoir atau penampungan air besar di depan stasiun. (emm ukuran kolam penampungan air nya besar.red).

Beside that, Semarang is an AWESOME city. Campuran yang pas antar kota metropolitan dan kota budaya. Dan yang paling saya suka adalah : SEMARANG PEOPLE LOVE TO EAT. yes. they do. kuliner disini banyak banget. tidak pandang tempat, di trotoar pinggir jalan, di rooftop hotel, di cafe di atas bukit, di mana aja, asalkan masakannya enak. pasti banyak banget yang dateng. Tips saya :

if you are looking for a place to eat in Semarang, drive downtown, look for the crowdest restaurant/cafe/warung. particularly, look where Tionghoa people are eating. I can bet that place sells good food.

yang saya suka :
mtf_KGxwZ_166??????????

NASI LIWET a.k.a NASI AYAM
sederhana, tapi enaknya bikin saya kangen ke Semarang lagi.
tempatnya di depan sekolah swasta, bukanya kalo pagi.

??????????

KUE MOCHI. ini versi originalnya. dijual dalam kotak bambu (besek) dan kata ibuk, rasanya gak pernah berubah dari ibu kecil. belinya di dekat stasiun.
g

grill and grill (?). cafe yang ada di dekat rumah sakit terkenal di Semarang ini enak buat nongkrong, suasanya cozy, desain interiornya unik banget, makanannya pun okee. lumayan lah buat yang kepingin bergaul di Semarang.

??????????

TAHU PETIS ini legendaris banget. nget. nget. warungnya buka setelah maghrib, dan kalau datang kemaleman dikit pasti nih tahu udah ludes kejual. tahunya garing crispy, dan yang seru kita bisa isi fillingnya sendiri dengan petis. Petis dengan taburan dan aroma bawang putih yang luar biasa. oh ya, jangan lupa mam nya pake cabe hijau nya ya. tempatnya di tengah kota.
??????????

NAGA. atau NASI GANDUL. jangan lewatin menu ini kalo ke Semarang. sebenarnya Naga ini asli dari Pati, tapi banyak juga yang jual di Semarang. Kuah kaldu yang ringan ditambah empal daging, telur bacem dan teman-temannya, enak banget!??????????TAHU GIMBAL. ini jajan siang favorit saya, apalagi kalo ditemenin sama dawet duren. lokasinya di dekat simpang lima, kalau gak salah Segitiga Emas nama “foodcourt” nya. Jadi Tahu Gimbal ini hampir sama seperti Tahu Tek di Sidoarjo, bedanya disini petisnya tidak terlalu kuat, dan ada GIMBAL nya. (bukan, bukan rontokkan rambut mbah Surip). Ada udang di balik Gimbal. itu. enak. pemirsa.

Sekian. sekelumit kuliner semarang favorit saya, yang di-review secara singkat, padat, dan kurang akurat. *Maaf ya, nih saya tambahin biar tambah Accurate.

My Kind of Sundays.

Hari minggu. Hari yang paling pendek dalam seminggu.

Ya gak sih?

Cepet banget lewatnya. Kayak gebetan yang baru diprospek eh tiba tiba kirim undangan.

Well. Tapi hari-hari minggu saya di tahun 2014 ini lebih kayak celana yang sering saya lihat dipakai sama perempuan-perempuan di mall jaman sekarang. Pendek dan rawan masuk angin sih, tapi nyenengin.

Post ini ditulis sehabis ritual gosok-menggosok Minyak Ban Leng andalan ke paha kiri atas selesei. Paha kiri saya yang naas menahan berat badan waktu kepeleset di deket air terjun Cuban Baung kapan hari.

Sambil kusuk-kusuk barusan, saya tersadar. Rasanya sebulan kebelakang hari minggu saya selalu epic. Selalu.

Dan beneran. Setelah check folder foto Path dan camera 360. Iya. Setiap minggu. Tanpa jeda pariwara.

Ada aja dokumentasi saya lagi di sungai, gunung, sawah, lautan… Simpanan kejayaan. Kini ibu sedang lara. Merintih dan berdoa…. *ini lagu apa yak.

Nah. Post ini adalah tribute to my epic sundays. My kind of Sundays.

PS : sebenernya saya mau bikin post satu-satu tiap jalan-jalan yang saya jalan-jalani. Mau sih, tapi malu. Malu soalnya saya masih banyak alasan..eh urusan..eh kerjaan..eh. Yah. Pokoknya niat itu setengah dari amalan kan? Nah. Saya uda niat untuk memperpanjang caption-caption di foto-foto berikut menjadi postingan-postingan yang epic. Se-epic weekends saya. Semoga niat ini cepet terkabul a.k.a ter-tessy.

Amin.

Yah diitung aja deh ini semacam trailer posts saya kedepannya. Oke kan?. *mulai pijitin bapak supir trailer-nya.

Siaaaap?

Oke kita mulai dari Grup Dut!

P.P.S : note to self : posting bukan kehamilan Nadhira, gak perlu kamu tunda-tunda!

mtf_KGxwZ_166[1]

25 – 27 Des 2013. Long weekend.
Tempat : Semarang.
Perihal : mengunjungi nenek, kuliner di semarang, reuni teman lama, jalan-jalanin mama.
Pulangnya lewat pantura sempat mampir ke RA Kartini Jepara dan Goa Akbar Tuban

4 Jan 2013 Tempat : Restoran Apung Perihal : lunch bareng anak kantor. Biasa? Kagak. Namanya nih Apung ya? Padahal tuh resto mancep tanah. Ga ada kolam, ga ada apa-apa. Trus kita tanya yang terapung apa mas? Ke waiternya. Dia senyum. Kemudian petir menyambar. Awan hitam datang. Suasana mencekam. Hujan deras mengguyur. Kemudian? Kita terapung. *jeng jeng jeng.

4 Jan 2013
Tempat : Restoran Apung
Perihal : lunch bareng anak kantor. Biasa? Kagak. Namanya nih Apung ya? Padahal tuh resto mancep tanah. Ga ada kolam, ga ada apa-apa. Trus kita tanya yang terapung apa mas? Ke waiternya. Dia senyum. Kemudian petir menyambar. Awan hitam datang. Suasana mencekam. Hujan deras mengguyur. Kemudian? Kita terapung. *jeng jeng jeng.

mtf_KGxwZ_207

12 Januari 2014

Tempat : SIDOARJO (Alun-alun, Pemancingan Minapolitan, Bebek Kerto, Pazkul, NAV)

Perihal : Main. (aja)

Berhubung saya dianugerahi teman-teman yang agak wajar, ya begini main saya sama mereka. Kalo orang lain, sekali keluar main itu ke cafe aja, mancing aja, hunting foto aja, karaoke aja, makan-makan aja, jalan-jalan aja, main ding-dong aja, atau jaja miharja. Tapi saya dan 3 kawan karib ngelakuin SEMUANYA. Puas? Lemas.

mtf_KGxwZ_180

14 Januari 2014
Tempat: Kediaman.
Perihal : Arisan keluarga besar bahagia.
Besar. Sebesar 68 kepala. Anak-turun dari satu pasang suami-istri. Moh. Rifai (Alm.) dan Siti Honaina (Alm.). Didampingi OM (paman ya, paman. bukan Orkes melayu.red) saya menyumbangkan sebuah lagu dengan sumbang. Bintang Kehidupan oleh Nike Ardila. Sontak, semua gembira.

Camera 360

19 Januari 2014
Tempat : Sungai di Sidoarjo. Tepatnya desa Ketingan, Sidoarjo.
Perihal : NYADRAN LAUT. bisa dibaca di sini 
Berawal dari penasaran, berakhir dengan kepanasan. di sungai. bareng para nelayan. Epic loh. 15 tahun tinggal di Sidoarjo, saya belum pernah tahu ada acara tahunan ini, bahkan belum pernah nyadar kalo banyak nelayan di Sidoarjo, bahkan belum pernah ngeh kalo rumah saya itu hanya sejam dari laut lepas. *duh. maaf. *malu.

25 Januari 2014
Tempat : Kediaman Yenyen. Porong, Sidoarjo.
Perihal : Yenyen & Una’s Engagement Party.
Masih inget kawan-kawan saya yang agak wajar tadi? Nah, ini foto sebagian dari mereka, dalam versi tidak gembel, sedang mendatangi momen bahagia seorang kawan. Setelah 7 tahun berpacaran, mulai momen ini kedepannya Yenyen dan Una akan berpacaran dengan pakai cincin kembaran (bertunangan.red). Semoga cepat menikah ya. Amin. 🙂

Camera 360

31 Januari 2014
Tempat : Pamorbaya. Pantai Timur Surabaya.
Perihal : Jalan-jalan bareng mama, kakak, pacar kakak, dan makyuk the super housemaid.
Dan. Pacar kakak ternyata juga baru sadar kalo laut hanya berjarak setengah jam dari rumahnya di kawasan Rungkut. Haha. Dari jalan-jalan ini, fix saya menambahkan 1 lagi di List Harapan. Catch Sunrise on the East-est Shore of Surabaya. Isn’t it sounds great, to pack breakfast, leave home before subuh, book a boat, and enjoy the rising sun with a cup of hot coffee in hand, off shore. Memang masih banyak sampah plastik berseliweran disana-sini, dan jembatan bambu yang biasa dipakai berfoto sudah rusak dimakan usia, tapi look at the brightside, wildlife disini masih lumayan bagus, burung-burung liar yang bergerombol mencari makan, bahkan pak nahkoda kapal (ceileh) bilang kalau beruntung kita bisa lihat segerombolan monyet-monyet liar. wow. bisa-lah dicatat untuk jadi spot foto paska-wedding saya besok. oya! dan mengendarai (?) kapal itu menyenangkan! I mean, take the steering wheel (?) and drive (?) the boat is so much fun! apalagi lumayan banyak belokan di sungai yang dilewati sebelum akhirnya sampai ke laut.
oya! CP nya bisa hubungi Pak Grama 081553750700

mtf_KGxwZ_247

2 Januari 2014
Tempat : Gunung Bromo, Alun-alun kota Batu
Perihal : Pengalaman pertama membuat Open Trip
ada senangnya, ada serunya, banyak deg-deg-annya. haha. nanti deh saya ceritakan lebih lengkap tentang perjalanan saya ini. tapi the highlight is, just yesterday I enjoyed the sea breeze, the hot and bright sun off shore, dan besoknya saya sudah berada 2770 meter diatas permukaan laut! haha. kalo Weather-lag itu ada, weekend ini saya pasti sudah Weather-lag.

Camera 360

9 Januari 2014
Tempat : Tambang Pasir di Gempol, Air Terjun Cuban Baung di Pasuruan.
Perihal : Jogging Minggu Pagi. (aja.)
wajarnya minggu pagi jogging dimana sih emang? GOR, Alun-alun, atau jalanan-bebas-mobil di tengah kota. Hemm. Saya dan 5 kawan saya yang agak wajar menghabiskan minggu pagi lari-larian di tambang pasir. sounds lame? nope, if you see that this hidden place is overlooking Gunung Penanggungan, dan karena siang itu cerah banget, kita bisa lihat Gunung Gajahmungkur, dan Kompleks Gunung Arjuno di belakangnya. Kenapa saya bilang “hidden place“? karena, tempat ini dekat aja, duh kalau lancar setengah jam kali dari kamar tidur saya, dan saya baru tau ada spot se-awesome ini!. Lebih awesome-nya lagi saya juga baru tau ada “hidden waterfall” di belakang kebun raya purwodadi bernama Air Terjun Cuban Baung. Duh. Duh. dan menurut saya air terjun yang gak jauh-jauh banget dari rumah ini lebih keren dari Air Terjun Dolo di Kediri, Cuban Pelangi, Cuban Rondo, dan beberapa cuban lain yang pernah saya datangi di masa perkuliahan saya dulu. Lebih keren gimana? Ah besok yaa saya ceritakan.

<

p style=”text-align:center;”>16 Januari 2014
Tempat : Mercure Grand Mirama Hotel Surabaya
Perihal : untuk pertama kalinya saya menangkap buket bunga yang dilemparkan oleh pengantin. iya, gestur ritual di pernikahan-pernikahan yang sering kita lihat di tipi itu. “we are calling all the singles in the room to come forward”, said the MC. serta merta refleks simpatik dan motorik saya membawa badan ini maju ke depan panggung. depan sendiri, ditemani senyum di gigi, dan perasaan awkward di dalam hati. haha. 3, 2, 1, lempar! dan kemudian refleks simpatik dan motorik saya pula yang serta merta menyamber buket mawar pink yang nyaris ditangkap saingan saya cece bridesmaid di samping saya. Hap. dan hening sebentar. (mungkin karena the bride lebih kepingin sahabat karibnya mendapat buket bunga itu). dan saya hanya bisa nyengir manja.
respon ibuk : “waduh, berarti habis ini ibuk harus cepet siap-siap.”
hahaha. sebenernya sih bukan superstition itu yang bikin saya senang, tapi angpau setengah juta yang ternyata menyertainya buket ini. Hahaha. Terimakasih cece dan koko. semoga langgeng dan samara!

Sidoarjo Fishermen

Sidoarjo Fishermen

Young fishermens are waiting for the annual ceremony of “Nyadran Laut” at Kepetingan, Sidoarjo, East Java, Indonesia. It is a traditional ceremony and ancient custom of Sidoarjo’s Fishing Village. Passed through generations, today Nyadran Laut is a large, annual festival where the community get together and celebrate the day by offering gifts, such as food and natural products, and float it to the sea, followed by gathering and praying at Dewi Sekardadu’s cemetery, a princess from the old Blambangan Kingdom of Banyuwangi whom also the mother of Sunan Giri, one of nine Java’s first moslem missionaries.

Detik-Detik Kepulangan. An Epic End. (part 1)

Udah eneng nya mah santai aja, banyak tuh penumpang Sukhoi yang bersyukur ketinggalan pesawat gara-gara macet di tol..” ~Bapak Penumpang Travel,2013

Monday Afternoon, December 2nd ,2013

13.45

Hujan DERES

Antri batagor Kingsley sambil googling no travel se-bandung.

Telpon cipaganti – gak bisa

telpon lagi – sibuk.

Telpon lagi – ada travel ke bandara jam 16.00 harga 195 rebu. Buru-buru tutup telepon.

Telpon city trans – gak bisa

Telpon day trans – gak bisa

cek pulsa – aduhdek! pantesan aja gak bisa. Pinjem hape Dea.

Telpon X-trans – ada travel ke bandara dari Cihampelas jam 16.30 harga 90 rebu doang. Sip. Booked.

14.30

on the way ke Lawangwangi gallery di Dago Pakar.

Berhubung gue gak tau tempat dan jarak di bandung, gue nurut aja waktu Dea ngajakin kesana.

Padahal naik jauh. Jauh. Pake macet.

15.07

baru nyampe Gallery. Tempatnya dari luar aja uda bagus, view nya keren, banyak patung-patung kontemporer. Getting excited

Mau mulai poto, diusir satpam. Ternyata senin tutup. Pak kita cuma berdua aja. SENIN TUTUP. Pak kita poto-poto di depan aja. SE-NIN-TU-TUP. Pak saya jauh jauh dari surabaya. S-E-N-I-N-T-U-T-U-P NENG. *Headline Radar Bandung keesokan hari : Seorang Satpam Ditemukan di Lembah Sekitar Dago Pakar, Ditengarai karena Amarah Pengunjung. *ngaco ih.

15.10

sedih, kedinginan, kelaperan.

Dea ngajakin ada cafe di daerah situ. Gue campuran antara gak tau jalan, gak tau waktu, dan gak tau diri mengiyakan ajakan Dea ke cafe Congo.

Puter balik. Jalannya naek. Lumayan jauh.

15.30

Cafe nya bagus, view nya bagus, masalahnya cuma waktunya gak tepat.

Gue pesen nasi ayam sama esteh 75 rebu. *dalam ati gue bisa ngerasain backpack gue kecewa sama gue, “lu backpacker bukan sih ngafe melulu??”

16.07

baru kelar dari cafe Congo. Turun ke cihampelas pool travel X-trans.

Travel gue 20 menit lagi berangkat. Jalanan Macet.

Gue liat dea, LEMPENG. *salut gue sama cara dia nyembunyiin panik nya. Gue yakin dalam hati dia panik soalnya waktu itu dia ga tau tempat pastinya X-trans dmn. (gue sempet ngelirik dia nge-line temennya di iPad).

Tangan gue mulai dingin. Berusaha buat tetep keliatan santai tapi otak gue muter terus. Entah kenapa gue tetep fokus ke apa yang bisa gue lakuin waktu itu, bukan fokus ke hal buruk apa yang bakal terjadi kalo gue ketinggalan travel, ato ketinggalan pesawat, ato lebih parah, ketinggalan jaman kayak si Doel anak Betawi Asli.

Makasih buat bung Arif Abdillah yg uda ngingetin buat web check-in air asia. Bbm situ punya peran besar di nasib gue di trip ini.

16.20

Gue teror terus pool X-trans di Cihampelas.

Berapa kali gak diangkat.

Akhirnya nyambung, dan gue melas minta tolong ditungguin. Si doi tanya posisi gue, gue bilang masih di DAGO, kemudian langsung deh gue ditolak setengah mateng, kata doi ga mungkinlah gue bisa nyampe Cihampelas 10 menit. Gue disaranin langsung ngejar ke pool di Jalan Pasteur.

16.40

baru nyampe jalan Pasteur.

Jalanan masih merambat kaya ingus yg pelan-pelan turun ke bibir kalo lagi pilek. *jijik ih

Gue waktu itu sibuk web check in, si Dea sibuk nge-line temennya, sambil nyetir, sambil nyari tulisan X-trans di kiri jalan, dan bu Ani sibuk cari objek foto, sambil mijitin pak Esbeye…

Alhasil, sampe BTC fashion mall si Dea baru nyadar kalo kita KEBABLASAN.

Kita cari puter balik. Dan JAUH.

17.02

Setelah cipika-cipiki dan ngucapain terimakasih kilat, Gue gendong backpack gue yg mulai obesitas dan mutusin untuk turun dari mobil dan jalan kaki.

Gue naik ke jembatan penyeberangan sambil nelpon pool Xtrans nanya arah. Si doske bilang masih jauh neng LURUS AJA itu 300 meter dari jembatan penyebrangan.

Nah. Logika. Traffic itu ke arah timur. Jadi kalo clue nya LURUS AJA, otomatis gue jalan ke TIMUR kan??

Jalan deh gue sambil buru-buru, beberapa pengendara motor pada noleh ngeliatin gue, mungkin gara-gara backpack gue, gue dikira titisannya Jin Kura-Kura guru nya Son Goku itu. Hahaha.

Dikit-dikit gue tanya orang, banyak yang gak tau, dan ada 2 ato 3 orang nyaranin gue LANJUT AJA ke timur.

17.20

Sampe RS Bersalin Hermina, betis gue mulai kerasa tebel, dengkul uda agak linu, feeling uda gak enak.

Gue telpon X-trans Pasteur lagi. Daaaaan feeling gue bener. Waktu gue bilang gue jalan sampe RS Hermina, si doske dengan cepet jawab, “ENENG MAH SALAH ARAH”

Jedier. Petir nyamber betis gue.

Gue langsung balik arah.

Gila.

Travel gue 10 menit lagi berangkat. Dan gue mesti jalan kaki beberapa tahun cahaya lagi.

Aaaak. Coba gue bener-bener titisan Master Roshin si gurunya Goku nah gue baru inget namanya kan gue bisa abonemen awan yg bisa antar-jemput itu.

17.45

dari jauh keliatan travel X-trans yg uda mau berangkat.

What? no. no. please. no.

Gue buru-buru lari dan gedor2 pintu travel itu. Si sopir buka jendela “mau ke kelapa gading neng?”

oh. itu bukan travel pesenan gue. Fiuh.

Wait? What?? jangan2 travel gue uda berangkat.

Langsung deh gue lari2 ke receptionist nya.

Dan ternyataaaaaaaa…

a’ak2 receptionist yg ngasi gue clue gak jelas dan bikin gue nyasar tadi cakep. Pake banget dan jambang. *bete gue berkurang beberapa persen. *salah fokus.

Setelah gue tanya doske, ternyata eh ternyataaaaaaaa…

sakit nya karena di guna-gunaaaa.

*duh. Kenapa mbah dukun yg muncul.

yaudah

Bersambung aja deh

Kayaknya gue mau kangen-kangenan sama Alam dan Vety Vera..

(( ini part 2 nya kakaak ))

Detik-Detik Kepulangan. An Epic End. (part 2)

kalau Allah memberi, tidak akan ada yang bisa mencegah. Kalau Allah mencegah, tidak akan ada yang bisa memberi” ~ungkapan Jawa.

bagian kedua dari penghujung trip yg epic ini bakalan agak lebih serius. *ceileh

Soalnya di bagian ini gue bener-bener ngerasain apa yang gue niatin cari dari awal berangkat trip.

Pelajaran Hidup.

Cliché? Norak? Terserah.

Yang jelas gue bersyukur bgt uda dikasih pelajaran berharga sama Yang Diatas.

Waktu nunjukin pukul 17.40.

dan travel yang kutunggu-kutunggu, tiada yang datang. Dan ku telah lelah berdiri-berdiri, menanti-nanti. Bila ku pergi bersama teman-temaaaaan. *dih. Katanya serius?

Emmm intinya travel gue belum dateng. Perasaan campur-campur antara deg-deg an takut gak keburu kejar pesawat gue yang take off jam 22.35 dari Bandara Soekarno Hatta, sama lega juga karena gue bisa ke bandara dan gak ketinggalan travel.

17.50 travel gue dateng ke pool pasteur.

Begitu gue naek, pak sopir langsung tanya, flight jam berapa neng? Jam 22.35 pak, bapak semangat ya! Waduh neng mungkin bisa keburu, tapi gak janji ya. Ngeliat kanan kiri kondisi pintu masuk tol Pasteur aja padet banget. Gue bisa ngerasain pak sopir travel gue cemas.

Cuma ada 2 penumpang dalam travel waktu itu. Mbak yang kerja di Bandara, sama Bapak dari Ambon yang tiap bulan jengukin anaknya di IPDN.

Pernah denger kalo dalam travelling sering kita ketemu orang-orang yang bakal kita inget terus? Nah Bapak ini salah satu dari orang-orang itu. Unik abis.

Fokus pertama gue waktu itu : TIDUR. Iya tidur. Se-tegang apapun gue, gak bakal ada yang bisa gue lakuin, besok pagi gue harus kerja, dan gue harus bersiap buat worst case scenario which is miss the flight and sleep at the airport! Jauh lebih aman dan nyaman tidur di travel ini kan daripada mushola Soetta? Jadi gue berusaha nenangin diri gue, pikiran negatif dikurangin, sholawat nabi dibanyakin. Dan gue bisa tidur. Pules. 3 jam.

Mungkin gue diem-diem disuntik Anti-anxietas sama Yang Diatas, yang jelas gue gak ngerasa apa-apa waktu udah menunjukkan 21.40 dan travel yang gue naikin masih ngantri masuk gerbang tol Halim. 35 km lagi ke bandara. Gue pasrah. Udah itu aja.

Sebenernya gue gak pingin orang rumah panik, jadi gue sengaja gak ngabarin detil yang aneh-aneh, tapi feeling gue bilang bohong sama orang tua disaat genting kayak gini will make things worse. Akhirnya gue jawab semua pertanyaan bapak ibu dengan kalem dan apa adanya. Otomatis. Sidoarjo heboh.

Di saat kaya gitu, Bapak dari Ambon yang gue sebutin tadi dengan baiknya berusaha nenangin gue. Awal-awal masih kerasa optimisme beliau, nyampe mbak, nyampe pasti, mbak tenang aja. Waktu jam udah mulai mepet dan suasana mulai tegang, puff, optimisme itu ilang, yang ada beliau berusaha ngehibur gue..dengan cerita tentang… SUKHOI JOY FLIGHT. Iya. Sukhoi. Tentang betapa bahagianya orang-orang yang terlambat naik pesawat itu gara-gara kena macet di tol. Travel seketika hening.

Gue hampir nelen aqua gelas yang lagi gue minum. Paaaaakk tulung paakk darimana cerita tentang pesawat karam bisa bikin saya tenang disituasi kayak giniii?

Tol jakarta malam itu benar-benar gak bersahabat. Macet panjang. Pak sopir gue uda berusaha secepat mungkin nyampe tanpa membahayakan penumpangnya, Bapak dari Ambon barusan ngelanjutin cerita tentang pencarian jasad korban Sukhoi, Bapak Ibu gue dirumah sibuk nyariin gue penginepan malem itu, dan gue? Gue lempeng. Gak deg-deg an. Tangan gue gak dingin. Dalam hati gue nyadar, apapun yang terjadi itu persis sesuai sama skenarioNya, dan apapun itu bakal gue ambil hikmahnya.

22.30, lima menit sebelum jadwal pesawat gue take off, gue baru nyampe terminal 3 bandara soekarno hatta. Begitu travel berhenti gue langsung pamit dan lompat turun. Lari secepet yang gue bisa. Ngelempar backpack dan tas kecil gue ke x-ray. Langsung menuju counter dengan tulisan AirAsia diatasnya. Belum sempat gue bilang apa-apa, gue langsung ditanya sama mas di counter : Sudah Check-in?. Dengan lantang gue bilang : Sudah! Pesawatnya masih ada mas? Iya. Delay 30 menit.

Jeng. Jeng. Jeng. Seketika confetti turun dari langit-langit Soetta. Muncul pelangi warna-warni. Baju satpam tiba-tiba jadi kerlap-kerlip.

SubhanaLLAH. Ini yang namanya devine intervention.

Kalo gue ketinggalan pesawat ini, gue mungkin bakal menghabiskan malam kedinginan di mushola Soetta, nguras rekenening gue buat beli tiket go-show ke surabaya, orang tua gue bakal gak percaya sama proposal trip gue kedepannya, dan bakal susah banget buat nge-trip lagi.

tapi semua itu gak terjadi. AlhamduliLLAH.

Setengah jam. Pesawat itu delay hanya setengah jam. Seakan hanya nungguin gue dateng. Huhuhu.

Gue simpatik buat mbak-mbak yang ke counter Air Asia tepat setelah gue, rupanya dia belum sempat web-check in, semena-mena mas di counternya nolak dan mbak itu langsung lemes. Gak sempet bilang apa-apa mas nya uda nyuruh gue buru-buru ke gate 5.

10 menit gue di gate 5. telpon orang rumah, ngabarin Dea host gue di Bandung, ngabarin kakak yang jemput di juanda.

Gue boarding. See you Jakarta….

Selama flight gue cuma bisa bersyukur banyak-banyak.

Dan dari kejadian malem ini gue bener-bener paham arti dari dzikir yang bapak gue ajarin dari kecil tiap keluar rumah

“Bismillahi tawakkaltu alallahi, walaa haula wala quwwata illa billah”

Bahwa tiada daya kekuatan selain daya kekuatan Nya…

Siapa Suruh Datang Jakarta? (Part 1)

“kok bisa sih Dir kamu nyampe sini, yaudah gapapa dinikmatin aja mumpung belum ada anak-suami” ~Mbak Oktrie, 2013.

Sunday, December 1st ,2013

Pagi di Jatibening, Jakarta Barat.

Mikirin itinerary sambil sibuk ngeringin rambut di rumah sepupu gue yang masih sepi. Sekitar jam 06.10 gue uda mandi, tidak lupa menggosok gigi, habis mandi ku tolong ibu membersihkan tempat tidurku. Eh..

pokoknya gue uda rapi jali. Gue cek grup WA yang isinya calon-calon partner-in-crime gue menjelajah Jakarta Raya hari ini, Ratih penari Bali yang kece sekali, Sinyo cowok jangkung berperut cembung, sama Aria lelaki metroseksual asli Kediri. Kita namain grup ini Buruh Ceria. Haha. Karena emang kita semua kebetulan bekerja di perusahaan-perusahaan farmasi terkemuka di Indonesia *ceileh.

Nah, grup buruh ceria pagi ini masih sepi, feeling gue semua masih pada tidur, terutama si Sinyo yang baru nyampe Cengkareng tengah malem tadi. Sedangkan gue, masih berusaha figure out itinerary gue hari ini. Hemm trip gue yang impulsif ini bener-bener burem itinerary nya. Note to self : Lain kali, duduk dan luangkan waktu untuk nyusun itinerary. Going where the wind blows itu cuma oke kalo kita punya banyak waktu dan tenaga, bukan short trip 2D3N gini..

Hemm, banyak pertanyaan muncul di kepala, nanti jadi ke Bandung ga ya, naik kereta ato travel ya ke Bandungnya, di Bandung emang mau kemana aja, temen gue di Bandung mau ga ya nampung gue, kalo nggak gue mau tinggal dimana ya, trus Angelina Sondakh kira-kira lagi ngapain ya, ah.

First things first, dimana enaknya gue ketemuan sama Sinyo pagi ini? Posisi dia kan lagi di Anyer, dan gue di Jakarta. Kisah cinta tiga malaaam, kan kuingat selamanyaaaaaa, antaraa …. Tet! Antara Anyer dan Jakarta, Atiek CB! Selamat 100 poin buat Grup Dut! *duh apaan tuh? Keterusan kan. Bukan. Bukan. Bukan. Sinyo lagi di Pondok Bambu, deket aja sama Jatibening tempat gue sekarang.

Gak lama mbak Ike, pembantu sepupu gue, bangun dan masakin ponakan gue yang masih bayi sarapan, akhirnya gue nanya dia naek apa enaknya kalo mau ke monas, iya gue niat mau ke MONUMEN NASIONAL. Kata internet sih ada festival Layang-Layang Internasional kemarin sabtu sampe hari minggu ini. Kan seru tuh, bayangan gue bakal ada banyak layang-layang gede, banyak bule-bule trus kita hunting poto sambil seru-seruan disana.. *angan-angan nya sih kaya gitu.

Berbekal pengetahuan tata cara ber busway dari Mbak Ike, gue pamit, nyiumin Nathan sampe mewek,

DSCN0031

ciumin Nathan cupliz.

trus ngangkut backpack gue dan berangkat dianter sama sepupu dan ipar gue (makasih Mbak Oktrie dan Mas Haryo *kecup basah), ketemuan sama Sinyo di perempatan Kalimalang – Pondok Bambu. Ahahay dari jauh gue uda bisa mem-spot perut cembungnya yang songong nongkrong di pinggir jalan.

Tempat pertemuan kita nih strategis, dimana-mana banyak angkot seliweran, PERMASALAHANNYA : kita gak tau mau naek angkot yang mana. In fact, 20 menit pertama dari pertemuan ini kita habisin buat dorong-dorongan pukul-pukulan kejar-kejaran kayak anak desa yang girang ketemu temen desanya di kota besar. Hehehe. Setelah tenang, akhirnya kita duduk di pager taman yang udah bosen makan tanaman sekitar, dan kemudian kita berfikir. Gimana cara kita ke Kampung Melayu?

Halte Busway Kampung Melayu, rencana kita ketemu Ratih disana. Tanya ke Pak Becak : naek 52 dek. Kita ke pangkalan angkot terdekat, ga ada tuh yang nomor 52?. tanya ke Mang warung Padang : naek 24 tapi nyegatnya di seberang sono, jauh. Hah? Kok beda banget clue nya? hemm pasrah kita ikutin clue terbaru aja.

DSCN0035

ini juga bukan 52?!

Gak lama kita uda di dalem angkot 24, harap-harap cemas moga kita ngikutin clue yang bener. Dan AlhamduliLLAH emang bener. Ditengah-tengah perdebatan sengit kita mengenai perbedaan Comro sama Misro, tau-tau kita uda nyampe aja di Halte Busway Kampung Melayu.

Camera 360

Comro vs Misro.

Seperti sebagian besar Ibukota, halte ini sibuk, hiruk pikuk, dan semrawut. Disini pertama kali gue liat para supir angkot unjuk kebolehan nyetir mundur dengan kecepatan tinggi, dan pertama kali gue gunain toilet jongkok sambil gendong backpack *bukan ide bagus, lain kali jangan diulangi ya nak. *bersihin sandal dari air.

Ratih agak terlambat, dan dia bawa kabar Aria yang tampan nan rupawan itu gak dibolehin sama kakaknya naek kendaraan umum dari Bintaro. Yah wajar, mungkin takut diciduk aparat dikira imigran gelap dari korea. Utara. Setelah puas kangen-kangenan, dan setelah tanya kanan-kiri, kita mutusin buat naek busway ke Senen, trus oper buat ke Harmoni. Nah halte Harmoni ini udah deket banget sama Monas.

rute busway

haha. gak keliatan ya? Pokoknya gue dari Kampung Melayu ke Senen Sentral trus pindah jalur ke Harmoni.

Turun dari Busway sekitar jam 10.30. liat kanan-kiri, perasaan ada yang janggal. Hemmm tapi apa ya. Udah, jalan-jalan ke Monas aje kiteeee.. Nyampe monas, super PANAS. Nyempetin beli mangga dingin, trus beli sprite dingin. Sumpah deh seger. Pake banget.

Camera 360

“belum ngerti nikmatnya mangga kalo belum kepanasan, belum ngerti nikmatnya rumah kalo belum jalan-jalan”

asek.

Lanjut poto-poto deeeh cyinnn.

DSCN0042

dari Kiri ke Kanan: Monas, Sinyo, Ratih, Figuran, Nadhira

DSCN0068

Wajah Monas 2014.

eh. Bentar. Bentar. Ngobrol-ngobrol LAYANGAN MANE LAYANGAAAN? Katanya festival layangan nasional? Eh INTERNASIONAL? Kok sepi banget? Nih satu-satunya layangan yang gue temuin

DSCN0072

Ah Jomblo lu. *kenapa captionnya nylekit gini?

Aaakk. mungkin kita kesiangan? Ato kepagian? Ato ke-kece-an? Haha. Yah, berarti mungkin emang blum jodoh ya. *Aaaakk ama layangan aja kita blum jodoohhh apalagi sama bapaknya anak-anak. Aaaakk. *disambit tukang Otak-Otak gara-gara berisik gak jelas.

Masih sibuk menertawakan nasib, adzan dhuhur berkumandang. Yuk mari sholat dhuhur di Masjid Istiqlal.

Ini nih fakta seru tentang Masjid Istiqlal from wikipedia:

Istiqlal dalam bahasa Arab berarti Merdeka! Masjid ini mulai dibangun 6 tahun setelah proklamasi kemerdekaan dan dibawah supervisi langsung dari Presiden Soekarno. Nah waktu itu diadakan sayembara untuk menentukan calon suami dari Putri Matantya yang cantik jelita rancangan bangunan masjid, pemenangnya adalah arsitek beragama kristiani dari Sumatera Utara, Bapak F. Silaban, beliau berhasil membawa pulang 75 gram emas dan uang 25rebu! Hehe seru kan.

Pertama kali masuk masjid terbesar se Asia Tenggara ini, ada rasa familiar yang hangat di hati. Rasanya seperti pulang kerumah. Mungkin karena keseringan lihat tayangan Live sholat dan ceramah dari Istiqlal di TVRI sejak kecil, mungkin juga karena melihat orang disekitar saya bersama berbondong-bondong sholat berjamaah. Rasanya seperti saya sudah sering datang ke masjid ini. Oya dan satu yang paling kerasa, sepanjang jalan dari Monas ke Istiqlal tuh suasananya sangat panas dan ditambahi bising lalu lalang orang di jalanan, tapi begitu saya menginjakkan kaki melewati pagar hijau Istiqlal, rasa dingin dan tenang langsung menyambut, sangat jauuuh beda dengan suasana diluar barusan, bukan hanya saya, Ratih dan Sinyo juga merasa yang sama. Maha Besar Allah.

Setelah sholat dhuhur berjamaah bersama-sama dengan peserta manasik haji dan anak-anak SMP rombongan darmawisata, kemudian Jama’ takdim Ashar, dan saya langsung keluar, tidak sempat mendengarkan ceramah karena sungkan ditunggu Ratih yang memeluk agama Hindu diluar.

*eh kenapa jadi “saya” ya? Duh pencitraan gue kelewatan. Maaf. Maaf. *gosok-gosok Citra Body Lotion Teh Hijau.

DSCN0104

Sedekah dulu.

Pelataran masjid ini nyaman banget, akhirnya gue nyempetin tiduran di atas keramiknya yang dingin sambil mikirin itinerary. Jadi, gue harus ke Bandung sore ini, harus. Opsinya ada kereta Parahyangan jam 15.35 dari Gambir turun stasiun Bandung. Pro : tiket 100rebu aja, berangkat deket dari Gambir, dan view sepanjang perjalanan dari jakarta bandung via kereta api itu oke banget! Mendaki gunung lewati lembah, sungai mengalir indah ke samudera, bersama teman berpetualang *ninja Hatori dong. Duh. Tapi sayang contra-nya banyak : jadwal keberangkatan yang gak sampe 3 jam lagi, padahal ini masih mau jalan-jalan ke kota tua, dan stasiun Bandung tuh jauh bingit dari tujuan gue di Jatinangor.

Opsi berikutnya naek Travel. Gue coba telpon travel Cipaganti, ternyata ada yang agak malem ke Bandung nya sekitar jam 6sore, berangkat dari pool Cikini dan turun di pool Gede Bage. Agak lebih mahal sih 135rebu, tapi bagusnya pool Gede Bage nih lumayan deket sama Jatinangor. Jadi okelah. Sip. Booked.

Hati sudah nyaman, soalnya travel sudah dipesan.Tapi cacing di perut mulai rumpi, soalnya belum makan dari pagi. Yuk ah kita jalan lagi, lama-lama dikira gembel disini. Orang kita nunggu Busway nya aja belum, kalo kelamaan nanti Kota Tua keburu Almarhum.

*Nah anak-anak, ini adalah contoh kalimat random dengan sajak a-a-b-b.. Sekarang, bisa dibaca post selanjutnya ya..

  • Memberi salam! Selamat Siang Bu Guru..

  • Berbaris trus salim Bu Guru satu-satu..

  • Pulang beli pentol dulu buat dimakan di dalem antar-jemput

  • Seragam belepotan merah, Ibu marah, anak kandung direndem Bayclin.

Aduh biyung. Keterusan.

Siapa Suruh Datang Jakarta? (Part 2)

Perjalanan kita berikutnya dimulai dengan nunggu busway di Halte Harmoni buat ke Halte Stasiun Kota. Guyon-guyon bentar, nyampe deh kita ke halte busway ini. Tempatnya unik, alih-alih kita menyeberang lewat jalanan diatas, kita lewat tunnel bawah tanah yang ngehubungin halte busway, ke stasiun kota, dan ke jalan Lapangan Stasiun, seberangnya Museum Bank Mandiri itu.
Tujuan pertama kita? Makan. Yaiyalah perut cuma diisi mangga sama sprite doang dari pagi. Perih nih perut periiih.

Itu ide darimana asal muasalnya, latar belakangnya, riwayat kemunculannya, gak ada yang tau, yang jelas gue inget banget ide itu datang dari Sinyo, dan tiba-tiba dia bilang : makan di Cafe Batavia oke nih!

Otomatis, terhipnotis oleh cacing-cacing di perut, kita langsung melenggang manis mencari lokasi Cafe Batavia. Padahal we know nothing about it, yang jelas namanya kedengeran keren. Batavia.

Baru jalan sebentar, kita disapa bapak-bapak dengan baju ala pemuda Jawa tahun 50an (kemeja biru tua dengan garis-garis coklat vertikal, lengkap dengan topi nyentrik, dan sepeda kumbangnya Oemar Bakrie). Kita mulai ngobrol-ngobrol seru tentang kejadian-kejadian bersejarah di Kota Tua, tentang pelabuhan Sunda Kelapa, tentang Toko Merah..

COLLECTIE_TROPENMUSEUM_Kantoor_van_de_Bank_voor_Indië_Batavia_TMnr_10015467

Toko Merah semasa Sitti Nurbaya diem-diem LDR-an sama Samsulbahri

hemm sedikit tentang Toko Merah yang ada di Kota Tua *dikutip dari berbagai sumber, mostly dari bapak yang barusan gue ajak ngobrol*:

Toko Merah ini umurnya sudah 3 abad. Dulu pernah ditinggali oleh Governor-General of the Dutch East Indies Gustaaf Willem baron van Imhoff (1743-1750) *dari namanya aja udah garang*, setelah itu sempat berganti kepemilikan beberapa kali. Kenapa kok Merah? Yah sebenernya, gara-gara dicat merah sih sama yang punya gedung. Tapi konon katanya dulu gedung itu pernah merah karena bersimbah darah gadis-gadis belia etnis Tionghoa yang disiksa dan dibantai disana. Tuh ngeri gak tuh. Terus lobang-lobang di dinding bata di luar gedung adalah bekas tembakan eksekusi mereka.. Rupanya masa lalu yang kelam itu meninggalkan kesan angker yang mendalam, hingga sekarang, dikala malam masih sering terdengar teriakan gadis-gadis itu mengucapkan salam dari dalam bangunan.. *hii

Bapak yang seru dan retro banget ini menawarkan tour naik sepeda kumbang muter-muter Kota Tua dengan harga spesial pake telor karetnya dua 40rebu yang katanya sudah diskon 30% (duh si Bapak mah gak kalah sama Matahari pake diskon segala). Waktu itu uda jam 14.30, bapaknya bilang tour terakhir diadakan satu jam lagi, jam 15.30. Yah bentar lagi dong, tapi sayang nih perut sudah tak kuasa menahan asam lambung, kita kepingin makan dulu, kita tanya bapaknya tentang posisi Cafe Batavia. Ternyata udah gak jauh lagi.. tapi (tanpa ditanya, tanpa dinyana) bapak itu bilang ada warung padang tepat di belakang Cafe Batavia. (beberapa jam kemudian kita baru sadar kalo nih bapak lagi ngasih #kode ke kita). Kita gak punya feeling apa-apa, bilang deh terimakasih, kemudian lanjut berjalan dengan semangat ke Cafe Batavia.

Sepanjang jalan banyak lapak pedagang yang seru-seru gan, mulai dari ramalan kartu tarot sampe foto bareng pejuang dan mobil lawas ada disini. Gak lama nyampe deh ke Cafe Batavia, begitu masuk, udah kerasa vibe nya oke banget, sofa-sofa gede yang nyaman, arsitektur retro yang keren, waiter dan waitress yang pakai baju kebaya dan beskap ala jaman kolonial, belum berapa lama kita masuk, petikan gitar dari acoustic band menyambut, yang dimainin lagu-lagu slow rock era 80an lagi, duh pas banget.

Setelah nemu tempat duduk yang oke (agak tertutup pilar jadi nyaman buat foto seru-seruan pake tripod, tapi masih deket ke panggung buat ngeliatin gitaris nya yang agak gondrong tapi cakep abis) kita siap order.

DSCN0109

My Travelmad. *eh Travelmates

DSCN0111

sandal jepit nya (gak sengaja) kesensor.

   Dateng deh beberapa buku menu yang keliatan lusuh. Mari buka halaman pertama anak-anak… jeng jeng jeng. Tertulis “Sparkling Mineral Water : Rp 40.000”. hah? Halaman berikutnya anak-anak.. “Tenderloin Steak : Rp 250.000” “Smoked Salmon with Caviar : Rp 220.000” wait. What?

Seketika tiga gembel ini ketawa ngakak. Hahaha. Ini nih hakikatnya orang kesasar. Bisa-bisa nya kita nongkrong cakep di Cafe kelas bule beginiii.. perasaan setengah jam yang lalu kita masih keringetan di dempet-dempetan di Busway deh.. Kasian kaaaan backpack sama sendal jepit gue, mereka ngerasa salah asuhan dan gak punya temen di tempat kayak ini. Hahaha.

Setelah beberapa waktu menelaah buku menu (pantes nih buku menu lusuh gini, pasti pengunjung yang dateng juga melakukan studi pustaka kayak gue sebelum akhirnya memutuskan order teh manis, kayak gue. Hehe). Setelah musyawarah dan mencapai mufakat, kita bertiga joinan pesen Dim Sum Mix 65rebu, sama Deep Fried Shrimp Dumpling 24rebu, minumnya 3 es teh manis, satunya 25rebu.

Camera 360

Rasanya? Biasaaaaa. Perut kenyang? Kagaaaaak. Tapi berkesaaan bingit kaaan. Hahaha.

Sejam lebih kita di cafe itu, menikmati rasanya naik lifestyle roller coaster.

Camera 360

Camera 360

Camera 360

Camera 360

Foto-foto dari film hanung bramantyo terbaru, Soekarwo.

Setelah puas foto-foto, kita siapkan mahar mental, kemudian Ku Pinang Bill dengan BismiLLAH.

wpid-C360_2013-12-01-15-23-33.jpg

Berfoto setelah dompet beberapa ratus ribu lebih ringan.

Diluar udah agak gelap, bapak tour sepeda kumbang tadi uda gak ada waktu kita cari, sebelum lanjut pulang kita nyempetin dulu foto bareng mobil tua disana, buat nambahin kenang-kenangan seru kita jalan di Kota Tua.

Nah, karena waktu itu matahari mulai tenggelam, waktunya Teletubbies berpamitan. Setelah ini langkah hidup kita masing-masing membawa kita ke tujuan yang berbeda-beda. *apa sih. Gue mesti ke pool Cipaganti di Cikini buat lanjut ke Bandung, Sinyo dan Ratih ke Bekasi tempat kosan mereka. Sarana angkutan umum yang terpilih adalah KRL dari Stasiun Kota.

424px-KAI_Commuter_Jabodetabek_Map

keliatan gak yaaa.. dari Stasiun Kota gue turun Cikini, Tubbies yang lain turun Bekasi.

Minggu sore itu Stasiun Kota penuh orang. Antrian dari loket meng-ular naga panjangnya bukan kepalang, menjalar jalar selalu kian kemari. Tapi yang gue kasih jempol, semua orang yang antri tertib banget! Dengan wajah lempeng mereka berbaris dengan seksama. Wih rasanya kalo di Stasiun Gubeng antrian panjang gini pasti bakal lebih meriah dengan saut-sautan rasa tidak sabar. Hehe.
Sinyo yang tiba-tiba baik, mau ngantriin buat kita bertiga, setelah nitip selembar 2rebuan buat tiket KRL (oh ternyata gak pake tiket, sekarang pake kartu kaya di luar negeri! Trus harus deposit 5rebu, nanti di stasiun tujuan kartunya bisa di-refund), gue ke AW buat beliin dia jajan dan bekal buat gue perjalanan ke Bandung. Perasaan antrinya gak begitu lama, 30menitan, trus KRL kita dateng.

Gue yang uda terlatih naik Komuter Sidoarjo-Surabaya, dengan gesit cari tempat duduk dan nge-jip-in tempat buat Sinyo dan Ratih. Ternyata gerbong gue Gerbong Wanita! Dipto dan bapak-bapak yang gak nyadar langsung diingetin sama petugas KRL nya. Hemm. KRL gak jauh beda sama Komuter di Sidoarjo, cuman ini pake AC, lebih murah, gerbong lebih bersih, pintunya buka tutup otomatis (gak kaya Komuter yang gak ada pintunya), jalannya kereta lebih smooth dan gak berisik. Hehe. Ini mah jauh beda ya?

Sepanjang jalan gue cerita-cerita sama Ratih tentang kerjaan. Iya kerjaan. Sahabat gue yang satu ini bukan tipe cewek yang enye-menye, julukan dia waktu kuliah Wanita Berhati Besi. Hehe. Jadi bukannya kita sedih-sedihan gara-gara gak tau kapan bisa ketemu lagi, kita malah sibuk bahas plus-minus kerjaan kita. KRL cuman berhenti sebentar di tiap stasiun, jadi begitu sudah sampe Gondangdia, gue siap-siap berdiri. Dada-dada ala Teletubbies  trus ada scene Bayi Matahari ketawa.. dan kita berpisah.

Sekarang gue sendiri di Cikini. Suasana di Stasiun Cikini agak remang-remang dan sepi, ada beberapa laki-laki nawarin jasa ojek, dan metromini. Gue inget-inget tips dari Mbak Trinity, backpacker masa kini (kenapa jadi berima kaya pantun?)

“Jangan sampe keliatan bingung di tempat asing. Meskipun gak tau arah, sebagai cewek kita harus stay cool”

Waktu itu gue gak ada ide pool Cipaganti ada dimana. Gue tanya ke petugas KAI pas refund kartu KRL, petugas dan satpam disana gak tau. Gue masuk Indomaret point disana, dan coba nelpon nomor telpon Cipaganti yang gue hubungi tadi siang, ternyata itu pool yang di Pondok Indah, dan operatornya (secara gak wajar) gak tau persis pool Cipaganti yang di Cikini dimana, dia cuma tau ada di sekitar Gedung Taman Ismail Marzuki. Oke lah. Berarti tujuan gue ke Taman Ismail Marzuki, sekarang naik apa kesana?. Tips gue :

“Penjaga kasir minimarket adalah pilihan yang baik dan aman untuk nanya arah dan informasi tentang daerah sekitar”.

Dengan logat sundanya yang kalem, mbak kasir Indomaret nyaranin naik metromini, karena deket, sebenarnya jalan kaki juga bisa. Tapi berhubung hari uda mulai magrib, gue gak berani jalan sendirian kesana, naik metromini pilihan paling aman.

Ini pengalaman pertama naik metromini, bentuknya kaya bus kecil, dengan tempat duduk kombinasi kayu dan besi karatan berkapasitas 20 orang, entah ya ini metromini yang lulus medical check-up Uji kelaikan dari Pak Jokowi Agustus kemarin atau bukan, yang jelas setelah 20 menit ngetem dan akhirnya metromini ini di stater, wow, gas buang yang hitam dan pekat dari knalpotnya langsung membumbung tinggi di pelataran Stasiun Cikini.
Bapak dengan wajah ramah duduk di sebelah gue, Tips lagi :

“saat naik kendaraan umum, dan gak yakin kapan harus berhenti, sapa dan ajak ngobrol penumpang sebelah, mereka dengan baik hati akan ngingetin kapan kamu harus berhenti”

Nah, di kasus ini gue bahkan dibayarin ongkos naek metromini nya, 3rebu. Gue maksa ganti, tapi bapaknya gak mau dengan berdalih uangnya gede dan takut si kernet gak ada kembalian. Waduh. Terimakasih. Yang Diatas yang ganti ya pak.
Ternyata Taman Ismail Marzuki dekeeet bangeeet. 5 menitan uda nyampe. Ketika turun dari metromini hari sudah gelap, dan di pelataran gedung pertunjukan ini banyak pemuda pengikut aliran Punk sedang mengadakan rapat pemilihan ketua baru *ngaco.

Masih gak tau mau kearah mana, dan agak ge-er grogi salah tingkah dilirik sama kakak-kakak pelopor P3 (Partai Punk Pembangunan), jadi gak pake liat kanan kiri, gue langsung jalan kaki ke 7-eleven terdekat, agak jauh sih 200 meteran, tapi mending daripada gue keliatan sendirian gak ada teman kebingungan gendong backpack di pinggir jalan. Sampe di 7-eleven gue langsung tanya mas Kasirnya keberadaan pool Cipaganti terdekat, dan ternyata tanpamu langit masih biru, ternyata tanpamu bungapun tak layu, ternyata dunia tak berhenti berputar walau kau bukan milikku (ah ini kan lagu Move-on gue)

yang bener, ternyata gue salah arah men.

Adzan magrib berkumandang. Waktu menunjukkan pukul 17.50. Sepuluh menit lagi travel gue berangkaaaat.. dan gue masih sibuk jalan cepat ala ibu-ibu Anlene menyusuri Jalan Cikini Raya. Tentunya masih sambil pura-pura jual mahal dan malu-malu(in) kucing sama kakak-kakak pelopor P3 tadi.

Clue yang gue dapet : pertigaan, lurus, pohon gede, indomaret! Mari kita ulangi kawan, pertigaan, lurus, pohon gede, indomaret! *jadi ngerasa kayak Dora deh. Jalan 15 menitan, sampai lah gue di pintu gerbang kemerdekaan Indonesia di pool Cipaganti yang ternyata nyelip disampingnya Indomaret dan di belakangnya pohon gede.

Meskipun suasananya kaya warnet game online area kampus yang buka 24 jam (dinding kuning meriah, tapi lampu remang-remang, lengkap dengan aroma rokok bercampur kejantanan), tapi mushola dan toilet disana bersih, gue nyempetin bersih-bersih disana (cuci muka, cuci kaki, cuci tangan bukan nyapu ngepel -red), trus di imam-i pak Supir, gue magriban disana.

Akhirnya dengan tiket travel di tangan dan dua Salonpas di puser, gue bertolak ke Bandung.. Rasanya gak sabar mencari apa yang aku cari, merangkai rindunya hatiku, dua hati satu tujuan melangkah bersama, cinta hadir bawa diriku menyentuh indahnya.. (Duh mbak Ikke apa kabaaaar? tambah cantik deh *cipika-cipiki) *kebiasaan random maaf*

Thanks Jakarta, today was epic.. Besok main lagi yaa..

Amazingly Random Date at Bandung

beneran ini Cucak Rawa? buntutnya kok biasa aja? gak banyak bulunya, gak goyang-goyang, gak panjang juga. Ah gak menarik ah.” ~Dea, 2013

Monday Morning, December 2nd ,2013

This day started off fine, rintik-rintik hujan menghiasi Jatinangor pagi itu..

Suara kalkun punya tetangga kosan teman gue yg bangunin gue. *buset aneh bgt yak suaranya? Kaya ayam Jago abis nelen pahit nya hidup. Haha. Sumpah deh, ini #pertamakali gue denger suara kalkun.

Mandi, Packing, Dandan. Semuanya kilat 15 menit jadi, gak kalah deh sama cetak foto xerox.

*Dandan dir? Ngaaapz, katanya backpacker lah, gembel lah, masa masih sok unyu pake dandan segala.

Lho jangan salaaah.

Kata para traveller kawakan, Leave nothing but footprints, Take nothing but pictures kan.

Nah mempertimbangkan gue cuma bisa ambil poto doang, gue memutuskan gak pengen keliatan bulukan dan gak upload-able kalo di poto.

Jadi deh gue berbekal “obat-obat ayu” andalan gue (yg uda dimodif supaya ringkes dan ga berat cocok bgt deh buat travelling. *ntar bakal dibahas di postingan laen. *kalo inget *kalo sempet *agak-PHP gpp ya)

Berangkat dah gue ama Dea.

Kenalin Dea, anak Hubungan Internasional UNPAD asal semarang yang manis abis ini malaikat penolong gue di Bandung. Kita kenal belasan taun lalu pas jaman SD, secara dia anak sahabatnya mama. Anaknya smart, asik, enak diajak ngobrol, daaan single loh!

Camera 360

Behind the scene syuting Iklan Buryam Zaenal.

Jam 7.00 kita berangkat dari kosan nya di Jatinangor ke Bandung buat hunting sarapan.

Apalagi yang lebih pas buat sarapan di bandung kalo gak Bubur Ayam.

Dibawalah gue ke daerah dago atas, beberapa menit setelah puter balik dari McD Dago.

Namanya Bubur Ayam Zaenal, dikiri jalan.

Camera 360

sok atuh mampir kalo lagi di Bandung. worth it.

*bukan. Bukan punya Zaenal Abidin Domba. Gue uda cek.

Image

(bukan) pemilik.

Dari depan keliatan etalase putih dengan kaca besar ala rumah makan padang,

gue sempet kaget lihat daftar harga yg ditempel disitu. Kalo ga salah kaya gini :

Bubur Ayam Biasa : 20.000

Bubur Ayam Telor : 22.000

Bubur Ayam Ati-Ampela : 22.000

Bubur Ayam Special : 24.000

what? Mahal amit.

Untung sebelum gue pesen si Dea bilang kalo porsi normal nya itu gede banget, dan bisa kok kalo mau pesen porsi kecil.

Akhirnya setelah menimbang-nimbang bayi di puskesmas terdekat, gue pesen Bubur Ayam Ati-Ampela porsi kecil. 18.000

lumayan mahal juga dibanding buryam langganan gue di Sidoarjo yg cuma 8.000

Tapi. Tapi. Tapi dek. Worth IT. Banget.

Nggak berlebihan kalo gue bilang ini bubur terenak yang pernah gue makan seumur-umur. Mulai dari jaman gue masih makan bubur bayi sampe bubur kertas. Ini yang paling enaaakkkk!

Gak pake pesen, teh anget tawar dateng ke meja gue.

Bisa dicatat, teh anget tawar gratis merupakan common courtessy di warung-warung bandung, klo lagi pingin minum yang lain, buru-buru bilang ya sebelum teh anget tawar nya dateng.

Bubur ayam gue dateng.

Mari dibahas pemerian nya dulu,

di mangkok gue ada bubur, ada ayam suwir, ada cakue, ada ati sama ampela, ditaburin bawang goreng sama daun bawang. Asap nya masih ngebul.

Camera 360

(disclaimer) yang bisa dinikmati buryam sama teh anget aja, yang dibelakangnya uda punya orang.

Sederhana bingit.

Dea uda buru-buru nambahin kecap manis, kecap ikan, sama sambel dari botol-botol di meja gue ke mangkoknya. Kayaknya Dea uda tau takaran yang paling pas sama seleranya.

Tapi gue kan belum, makanya gue cicipin dulu rasanya yang ORI.

Hemm ga usah ditambahin apa-apa ternyata uda enak banget! Asin nya ayam, gurih nya cakue, manis nya ati-Ampela ayam, nyampur bareng lembut dan hangatnya bubur.

Beda ama bubur ayam langganan gue di sidoarjo, bubur ini gak pake kuah kaldu. Jadi kering gitu.

Nah buat yang demen asin, buburnya bisa ditambahin kecap ikan (ini juga gak ada di Sidoarjo). Kalo yang demen manis ato pedes, bisa ditambahin kecap manis ato sambel. Kalo yg demen tapi cuma dianggap temen, bisa ditambahin sabar nya aja yaaaa.. *pukpuk

kalo gue pribadi emang gak suka liat makanan gue acak-acakan, jadi gue biasanya nyusun toge di pecel gue lurus-lurus sebelum gue makan. *gak gitu juga ding. Yang bener, gue gak suka ngaduk-ngaduk bubur gue sampe homogen coklat-coklat gitu, gue lebih suka bisa liat bentuk makanan yg gue masukin mulut, jadi gue bisa mastiin dari awal sampe akhir di tiap sendokan gue ada bubur, ayam, ati-ampela, sama cakue nya.

Rada freak sih. Tapi tetep imut-imut gimana gitu kan? Ya? Ya!

Perut kenyang. Hati senang.

Rencana kita lanjut ke daerah ITB. Jalan jalan di dalem ITB yang rimbun.

Tapi sayang kita ga dapet parkir..

akhirnya harus muter deh, dan lewat Kebun Binatang Bandung.

Otak gue yang rada ga meainstream langsung ngasih ide buat jalan dan poto-poto disana. Toh kalo ga seru, kita bisa langsung balik. Dea kaget sambil ketawa geli, tapi dia setuju.

Tiketnya cuma 15.500 seorang.

Waktu itu uda sekitar jam 09.30, tapi suasana Bandung lagi enak bangeeet. Apalagi di dalem Bonbin yang kayak hutan.. ampuh banget bikin pikiran fresh! *mari tarik napas dalem-dalem. Jepit. Jepiiit. Tahan. *idih ini mah senam ibu-ibu komplek.

Oya, ada semacam mentos *eh mitos yang beredar di kalangan mahasiswa-mahasiswi ITB tentang Kebun Binatang Bandung, kurang lebih kedengeran kayak gini : “Barangsiapa berkunjung ke Kebun Binatang Bandung sebelum menyelesaikan masa perkuliahan, niscaya tidak akan segera merasakan nikmatnya kelulusan.” nah lho. iya lah, orang jalan-jalan nya pas masih Ospek, ya masih lama wisudanya.

Yang gue suka dari Kebun Binatang Bandung :

  • rindang, banyak pohon.
  • Binatang nya lumayan lengkap, mulai macan sampai cucak rawa ada di sini.
  • Bisa jadi alternatif seru buat piknik bareng temen-temen.
  • Tempat nya di tengah kota. Bagus nih buat paru-paru kota Bandung.
  • Banyak yg bisa dijadiin objek foto. Cocok buat hunting.
  • Kalo rada nekat, bisa kok foto deketan ama gajah yang lagi makan tebu. Unyu banget gajahnya.
  • Camera 360

    Dhira, Dea, dan Bona Gajah Kecil Berbelalai Panjang yg sekarang udah masuk masa pubertas.

Yang rada gue sesalin dari Kebun Binatang Bandung :

  • agak jorok, banyak sampah. Tapi mungkin karena itu masih pagi jadi bapak bersih-bersih nya baru mulai kerja. (husnudzon).
  • Gak ada penunjuk jalan yang cukup. Jadi kita bisa kesasar kalo ga tanya orang. Dan ada kemungkinan gede kita ga liat beberapa jenis hewan disana karena kita gak tau jalan kekandangnya.
  • Nama binatang dan keterangan asal-muasal nya banyak yang gak ada, yang ada pun kurang menarik dan informatif.
  • Banyak binatang yang gue rasa kandangnya gak proporsional sama dia. Contohnya nih tapir yang sendirian kandangnya jauh lebih gede dari 5 beruang madu. Jadi gue kasian liat beruang-beruang itu mondar-mandir di kandangnya yang kecil kaya kesurupan.
  • Banyak binatang yang sendirian, singa, orang utan, macan dll pada keliatan lemes sendirian di kandang betonnya yang sempit. Gue ngerasa kaya liat binatang lagi dihukum penjara. Mestinya menurut gue kandang dan jumlah binatangnya mesti disesuaikan sama habitat asli dia. Kalo binatang yang hidupnya berkelompok, mestinya jumlah di Kebun Binatang Bandung ini lebih dari satu.

Dua jam kita puter-puter disana. Uda capek, kita mutusin untuk nongkrong dan nyobain jajanan khas bandung. Pilihan jatuh ke yoghurt Cisangkuy, dan Pasar Cisangkuy.

Yoghurt Cisangkuy tempatnya enak, gue pilih Lychee Special Juice seharga 18.000. emm rasanyaaa..enak kaya yoghurt leci.

Camera 360

Camera 360

suasana di kota santri. eh. di Yoghurt Cisangkuy.

abis itu kita ke Pasar Cisangkuy di sebelahnya, nih lebih mirip food court bergengsi daripada pasar. Ada yg pernah ke eat & eat di Surabaya? Nah tempatnya mirip deh. Gue pesen Lumpia Basah Ayam disana. Gak seperti lumpia yang gue bayangin, ini lebih kaya eseng-eseng kecap toge telur ma ayam, trus ditaruh diatas kulit lumpia putih. Mam nya pake sumpit. Hemm unik kan?

Camera 360

salah satu pojokan di Pasar Cisangkuy.

 

Tepat habis sholat dhuhur disana, hujan mulai turun..

waktu itu gue gak nyadar kalo trip yang seru ini sebentar lagi bakal berakhir dengan lebih seru….