My Photobook Project : Recollecting Scattered Memories

Ber-giga-giga bytes foto di laptop tua menyapa saya, “Dhir, kalo kita ngilang aja gimana?”, hah. “Boro-boro upload, kamu ngeliat kita aja gak pernah. Kamu sekarang berubah, tau gak Dhir. Udah daripada gini terus, mending kita putus aja.” Nahlo. 😦 Sama folder foto aja saya diputusin? Hiks. Sakitnya itu disini. sambil megang hard disk di dada

Apaan sih ini tadi? Duh.

Intinya, kalau ada yang mau hitung, mungkin ada ribuan foto di laptop saya, di laptop kamu juga banyak foto kan, iya. kamu. Tiap-tiap foto itu pasti punya ceritanya sendiri, punya kenangannya sendiri. Dan tiap-tiap orang yang ada di foto itu pernah ninggalin kesan tersendiri di hidup kita. Tapi era fotografi digital membuat pengambilan dan penyimpanan gambar begitu mudah. Jepret, masukin laptop, upload, nge-tag, di-comment, udah. Beres. Rasanya we take those precious memory for granted. Ceileh. Tapi beneran deh, memory laptop bisa hilang, facebook dan web penyimpanan foto lain suatu hari bisa gulung tikar, trus nanti apa yang bisa dipamerin ke anak-anak kita, Pa? *eh.

Nah. Trus suatu hari saya nemuin kupon diskon pembuatan photobook di internet, untuk buku foto hardcover 8×11 inchi (kira-kira sebesar buku tulis boxy) setebal 40 halaman, harga normalnya Rp 625.000, berkat kupon itu saya beli seharga Rp. 180.000 saja. Ahaha, insting kewanitaan saya menyala-nyala melihat diskonan yang begitu oke. Cara buatnya tinggal download aplikasi berisi design-design buku foto, buat kolase sesuai keinginan, upload, sederhana. Yang buat gak sederhana adalah : Foto saya ribuan pakdhe 😦

3 bulan saya cicil, bikin folder foto-foto apa yang mau saya masukkan di buku foto, saya edit tipis-tipis, saya susun, dan upload. Susah payah, dengan pengalaman men-design yang setara dengan anak SD. Akhirnya saya bisa menyelesaikannya.

Dan.

Kemudian saya baru sadar.

Saya salah bikin. Saya bikin foto album dengan ukuran 11×11 inchi.

Sakit.

Sakit.

Padahal besok adalah hari terakhir berlakunya kupon saya. 😦

AlhamduliLLAH masih bisa nyimpan dalam bentuk jpg proyek yang gagal sebelumnya. Monggo bisa ditilik. Urut dari halaman 1-40 dan covernya.

Sempat mau nyerah sih, tapi insting kewanitaan saya pula yang mencegah saya untuk menyerah, “eman beb, eman beb, eman beb. sudah bayar.” Dan akhirnya saya sekarang memulai lagi menyusun ratusan foto-foto itu dari awal. Doakan saya bisa ngebut nyelesain, ya..

New Member

So, meet Surti and Tejo. The newest members of our family. Setelah perkutut, nuri, jalak kebo, dara, dan anggora. banyak piaraan banyak rejeki

View on Path

Bingung Tengah Tahun

Sebenernya, serius ini, saya bingung mau nulis apa. Ehm. mungkin lebih tepatnya, nulis kayak gimana. Soalnya kebanyakan nulis yang serius-serius bikin jari ini rada seret buat nulis yang santai-santai. Jadi sebenernya ini blog serius apa santai sih, Dhir? Nah. Good question. Kalo udah gini, ada baiknya dikembalikan lagi ke awal. Alasan kenapa saya buat blog ini. Kemarin, sekitar bulan Oktober-November 2013 bisa dibilang adalah masa-masa galau buat saya. Yah, meskipun nggak sampai ngalay di sosial media dan curhat kesana kemari, tapi setelah diinget lagi, emang itu adalah masa-masa transisi di hidup ssaya, dan entah kenapa perubahan itu selalu berbanding lurus dengan galau di dalam hati. apa yang berubah? status saya. dari anak kuliahan — jadi sarjana beberapa saat jadi sarjana — saya keterima kerja, berubahlah saya jadi Sailormoon karyawati baru beberapa minggu jadi karyawati — saya berubah jadi jomblowati 😦 😦 However, setelah beberapa buku motivasi bertema religi dan berjam-jam browsing quote patah hati dan move on di Pinterest, saya survived.  Ditengah-tengah browsing itu, saya lupa gimana, pokoknya tiba-tiba nyasar ke blog nya Roy Saputra, sebuah nama yang asing, apalagi buat saya yang nggak pernah punya blog, tapi tulisannya yang ringan dan mengalir membuat saya betah lama-lama di blognya, sampai akhirnya saya baca artikel wawancara kak Roy sama Ariev Rahman. Disitu saya mulai kesengsem, gaya mas Ariev yang kocak dengan seru nyeritain pengalaman flashpacking-nya (jalan-jalan dengan gaya backpack tapi dalam jangka waktu yang singkat) membuat saya tertarik pingin nulis. Trus di blog itu, mas ariev mention Mohammad Takdis laki-laki dari Bandung seumuran saya yang berani mengambil langkah gede dalam hidupnya untuk mengejar passionnya, Travelling. A zero to hero story yang bikin saya mikir : kalo nih orang bisa, berarti saya juga bisa. Dan saya buka 2 New Tabs di Google chrome. 1 tab untuk wordpress.com dan dengan tanpa pikir panjang, saya buat nama tengah saya “matantya” sebagai nama blog (which I’m going to regret later on because google hates it, he always say “did you mean “matanya”?”  aaaak. mata lu, Gle.) 1 tab lagi untuk airasia.com dan dengan tanpa pikir panjang juga, saya beli tiket ke Jakarta seharga 700 ribu pulang pergi. Kemudian saya terdiam di depan laptop. What the heck did I just do? yang sesaat kemudian disusul dengan telpon-telponan lama sama ortu buat minta ijin, sama temen kampus yang lagi di jakarta, sama temen di bandung, dan lain-lain. Ribet. Riweh. Too impulsive. But, back then I didn’t realize how that impulsive decision changes me. Sebenernya dari kecil juga saya travelling. Mudik lebaran itu travelling kan? ke hotel bareng keluarga temen kantor bapak juga travelling kan? Tapi yang ini beda. Saya pingin dapet sesuatu dari jalan-jalan kali ini. Saya pingin bawa pulang oleh-oleh yang gak dibeli pake uang. Untuk pertama kalinya, saya pingin jalan-jalan for the sake of “jalan-jalan” itself. Bukan destinasi lagi yang saya cari, tapi perjalanan itu sendiri. From that moment on, I realize that I am no longer a “Tourist”. I became a “Traveller”. Pulang dari Jakarta Bandung, saya duduk lagi di depan laptop dan mulai nulis. Apa aja yang mau saya tulis tentang perjalanan saya. Detil. Semua hal kecil yang seru yang bikin saya ketawa, mulai dari panas-panasan di Monas sampe nyasar syariah ke cafe perlente di Kota Tua, trus seru-seruan di Bandung dan ngerasain deg-deg-an nya terancam gak bisa pulang, yang akhirnya bisa ngerasain banget devine intervention di akhir perjalanan gue. EPIC banget! ((nah jadi pake “gue” kan? gini, sebenernya enakan cerita tuh pake “gue” bukan “saya”, karena dengan pake “gue” saya bisa pake bahasa Indonesia yang baku, tanpa terkesan kaku. Tapi, masalahnya sehari-hari saya nggak pernah sama sekali adress myself as “gue” karena saya tinggal di Sidoarjo, Jawa timur bukan di set FTV. So, later on I use saya. Super saiya)).

this is why I use “saiya” instead of “gue”

Dari situ saya nemu kesenengan baru. Menulis. Meskipun belum banyak yang baca, tapi seneng gitu nerima feedback dari temen-temen, sanak saudara. Ada yang bilang blog ini relaxing lah, ngocol, seru, bisa bantu ngilangin stress, dan lain-lain. It feels so good. Setelah itu adalah masa kupu-kupu (kerja-udahan-pulang-kerja-udahan-pulang). Nggak ada rencana jalan-jalan, karena pulang dari trip perdana itu saya jatuh sakit beberapa hari (dasar gara-gara saya yang masih ngotot diet padahal badan pegel semua). Bosen, saya mulai lirik-lirik ke blog-blog sastra, kayak blog Agus Noor dan lain-lain. Trus pas perjalanan pulang dari tempat kerja tiba-tiba muncul ide, akhirnya untuk pertama kalinya seumur-hidup saya bikin cerita pendek. Dan saya jadi suka nulis cerpen karena nulis cerpen tuh nggak pake mikir, nggak pake nge-cek fakta, nggak pake liat notes-notes selama perjalanan. Nulis cerpen itu enak, bikin pembaca kaget dengan ending cerita kita itu seru, dan yang bikin saya tambah seneng nulis cerpen, ternyata banyak yang suka. Tapi, akhirnya bahasa yang saya gunakan di blog ini jadi semakin baku. Kemudian AlhamduliLLAH, saya diberi rejeki untuk menunaikan ibadah umrah. This is the trip of a lifetime, I would say. Pulang dari sana, rasanya saya kayak celana baru pulang dari permak jeans. Masih sama, tapi penampakannya beda, lebih rapi. People can say goodbye to my super long and wavy hair, I wear hijab now. Dan ternyata berkerudung membuat saya merasa jauh lebih nyaman. Di blog ini saya juga berbagi mengenai perjalanan sewaktu umrah dan kemudian tingkat keseriusan dari blog ini pun meningkat drastis. Trus bingungnya tadi tentang apa, Dhir? Saya bingung mau dibawa kemana hubungan kita? bila kau terus menunda-nunda dan tak pernah katakan cinta? Hemm. Duh. matiin radio. Saya bingung mau dibawa kemana matantya.wordpress.com ini. Pertama kali buat blog, ngelihat tiga senior diatas, saya kepingin jadi buzzer, influencer. Saya kepingin diajak jalan-jalan gratis dan dibayar untuk senang-senang, ditawarin masang iklan ini itu karena pembaca blog saya yang banyak. I aim for the Moon, because even if I miss, I hope to land among the stars. Tapi, untuk menjadi seperti mereka itu nggak gampang. Kepopuleran seperti itu nggak didapet dalam satu malam, yah kecuali saya jadi apoteker pertama yang memberi konseling KB beserta peragaan visualnya ke semua kucing betina di Sidoarjo. Kesuksesan mereka itu berkat konsistensi dan kerja keras.  Pernah dengar SEO (search engine optimization), kan? gimana caranya supaya website kita disayang sama Google dan muncul di halaman awal bila ada yang mencari keyword tertentu. Seorang teman yang mengerti tentang SEO menyarankan saya kalo pingin meningkatkan traffic pengunjung, lebih baik memasang artikel yang satu tema (misal travelling stories saja) dan harus informatif, sehingga menambah pengetahuan pembaca, kalo mau nulis cerpen dan random things lain, mending bikin blog lagi. Nah. Sebenernya itu saran yang bener-bener masuk akal. Tapi, tapi. Mengasuh satu blog ini aja uda keteteran, apalagi lebih. Tapi, tapi, saya kepingin nulis tentang banyak hal selain travelling. Tapi, tapi, nanti blog ini nggak banyak pengunjungnya. Trus gimana? mungkin saya harus kembalikan lagi kesini… *tarik napas

I write because it feels good. I write because it makes me happy. I write because, fortunately, it makes people around me happy, too. Rejeki, umur, jodoh, dan traffic blog itu di tangan Allah. Sekarang yang penting terus konsisten menulis, dan harus menulis sesuai hati intan nuraini.

hembuskan napas Yah sekian postingan tentang bingung tengah tahun saya..terimakasih sudah membaca sampai sini..terimakasih sudah datang di blog ini.. 🙂 

Dan terakhir..

Bingung itu sehat. Karena dengan bingung, berarti seseorang memikirkan sesuatu secara sungguh-sungguh. Semua orang pernah bingung di dalam hidupnya, saya hanya salah satu yang mengakuinya. Bingung itu langkah awal untuk mengerti. Karena bingung selalu dibarengi keingintahuan. Rasa haus akan pemahaman itu sendiri. Saya rasa saya ada di waktu yang tepat untuk bingung. Bingung ketika masih muda, saya rasa jauh lebih baik daripada bingung ketika tua. Bingung itu proses pencarian jalan keluar. Karena orang yang bingung tidak akan berhenti mencari solusi. Gak pernah kan liat orang yang perutnya sakit, bingung pingin ke WC, tapi diem aja? Yang ada orang itu pasti muter otak gimana caranya ke toilet terdekat. Kecuali kalo orang itu lagi jadi moderator debat capres ato lagi salaman pas ijab qabul, sih. Jadi, intinya, berani bingung itu baik.       Cheers for the confusion! and for the good years ahead!

((underlined red words above are links, silahkan klik biar makin greget!))

Pergi ke “Rumah”

Pernah merasa “dirumah” ketika sedang berpergian? Berada di tempat yang pertama kali didatangi tapi entah kenapa terasa dekat di hati. Buat saya, tempat itu adalah Masjidil Haram, Mekkah, Saudi Arabia.

Saya sedang sibuk menikmati pagi, croissant keju, dan susu coklat hangat di selasar pertokoan Bin Dawood, ketika tante-tante rombongan tour saya menyapa. “Mbak Dhira, kok sendirian? ayo naik..”, saya hanya tersenyum dan menolak dengan alasan sarapan yang saya beli belum habis. Iya, saya masih tidak ingin naik ke kamar saya di lantai 6, suasana pagi di kota ini terlalu menarik untuk ditinggalkan demi empuknya kasur hotel.

Rasanya kantuk belum menghampiri saya. Entahlah, sejak saya sampai di kota ini, kantuk jarang silaturahmi. Well, maybe I’m just too excited to be here. Jelas saja, selama ini minimal lima kali sehari saya menghadap kearah sini, dari rumah, dari kantor, dari manapun, saya sibuk memastikan bahwa saya sudah benar menghadap kemari. Menghadap ke kiblat.

and here I am. Enjoying my breakfast just meters away from Ka’bah. 

Jujur, sekarang saya lapar. Sejak disini saya selalu merasa lapar. Banyaknya aktivitas fisik, minimnya waktu istirahat, membuat tubuh saya butuh lebih banyak bahan bakar dari biasanya. Obsessive Corbuzier’s Diet? Haha. I think I’ve left that somewhere in Sidoarjo. Bahkan rasanya sarapan 10 Riyal ini belum cukup mengganti kalori yang hilang karena thawaf sunnah tadi pagi.

oh ya. FYI, friday morning thawaf is a highly recommended activity in Mecca. 

Beneran. Ada rasa puas yang berbeda di hati setelah melaksanakan thawaf di Jum’at pagi. Tapi, memang butuh persiapan fisik dan mental terlebih dulu, karena jika dibandingkan dengan hari lain, akan jauh lebih banyak saudara muslimin dan muslimah yang membanjiri Masjidil Haram di hari yang penuh keutamaan ini.

Pagi tadi, selepas shalat Subuh berjamaah, saya dan rombongan kecil saya bersiap menuju ke area thawaf. Rombongan kecil yang terdiri dari 1 ibu lansia, 3 ibu muda, dan 1 bapak ustadz yang berbaik hati menemani.

Saya tidak menyangka suasananya akan sepadat itu. Benar berbeda dengan hari-hari kemarin. Emm, pernah menonton konser musik Rock? ya, bisa dibayangkan manusia sejumlah itu bergerak bersama, perlahan melawan arah jarum jam.

“Aduh bagaimana nanti budhe ini kalo nggak kuat?”, rasa khawatir sempat melintasi hati, terpikirkan anggota rombongan saya yang sudah 70 tahun keatas. Tapi rasa itu hilang seketika melihat yang bersangkutan tersenyum mengamit lengan saya, “Ayo Mbak Dhira, pantang mundur.”, “Budhe, kuat?”, “InshaAllah.” Kilauan semangat di mata beliau menguatkan saya. Berbekal beberapa botol kecil air zamzam, tasbih, dan buku panduan doa, kita menyejajarkan diri dengan Hajar Aswad, mencium tangan kanan dan melambaikan ke Ka’bah, memulai thawaf dengan membaca “Bismillahi Allahu Akbar”.

Pundak berdempet pundak, umat islam dari berbagai suku bangsa berjalan mengelilingi Ka’bah pagi tadi. Laki-laki, perempuan, muda, tua, besar, kecil, sendirian, atau berbaris beregu, berjalan perlahan, maupun terburu-buru. Kami semua berada disini dengan tujuan yang sama, sebab yang sama, niat yang sama, bahkan melafadzkan bacaan yang sama.

“Ya Tuhan kami, berilah kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat dan lindungi kami dari siksa neraka”.

Dalam keadaan yang benar-benar padat itu, putaran demi putaran perlahan kami jalani. Keadaan selalu bertambah padat ketika mendekati Hajar Aswad, banyak muslimin yang ingin langsung menuju batu dari surga itu dengan memotong jalan dari lingkaran luar, sehingga seringkali rombongan kami hampir terputus karena desakan dari arah luar. Pak Ustadz yang berada paling depan dengan jelas berkata pada saya, “Jangan pake tenaga, dek. Pasrah. Diikuti aja. Jangan dilawan.”

Panik, terhimpit dari berbagai arah, tangan kiri saya refleks merangkul Budhe tadi. Saya hanya takut beliau pingsan kehabisan nafas. Perempuan sepuh pemberani ini tidak sedikitpun membunyikan keluhan, bibirnya tidak berhenti bertasbih, meskipun ada saat-saat dimana kaki ini rasanya tidak melangkah, desakan arus manusia yang begitu kuat menyeret kami yang tanpa perlawanan. SubhanAllah. Jujur, seumur hidup, saya belum pernah merasa se-tidak berdaya itu.

Tapi entah bagaimana caranya, rombongan kami yang terhitung mungil-mungil dibandingkan jamaah dari bangsa-bangsa lain, perlahan berjalan semakin dekat dengan Ka’bah. Lingkaran yang kami putari semakin mengecil, hingga akhirnya, untuk pertama kalinya saya dapat menyentuh Ka’bah.

Kedua tangan saya memegang kain hitam kiswah dengan erat, menyangga badan saya yang tiba-tiba lemas. Ah. Saya tidak bisa menggambarkan rasanya disini. Campur aduk. Haru, senang, sedih, malu, rindu, dan banyak lagi. “Ayo, dek. Lanjut. Gantian sama yang lain.”, ujar Pak Ustadz kepada saya yang lagi mewek.

Sekitar tiga putaran tersisa, dan rasanya semakin banyak orang yang menjalani thawaf pagi ini. Berulang kali terseret arus, saya hampir kehabisan nafas. Ketika saya menengadah untuk menarik nafas panjang, disitu saya melihat sesuatu yang akan sukar saya lupakan.

Puluhan burung dengan berbagai ukuran. Saya kurang tahu pasti jenisnya. Yang jelas, burung-burung itu tidak beranjak dari atas Masjidil Haram. Burung-burung kecil berkelompok terbang membentuk lingkaran yang lebih kecil. Burung-burung Elang dengan anggun dan tanpa mengepakkan sayap berulang kali terbang tenang berputar diatas Ka’bah. SubhanAllah. Mungkin, mereka sedang Thawaf bersama kami. Mungkin juga, itu para Malaikat. Tiba-tiba capek dan sesak yang saya rasakan sebelumnya hilang. Saya merasa sedang menjadi bagian dari sesuatu yang jauh lebih besar daripada diri saya. Saya sedang memutari Ka’bah bersama semua orang ini dan semua burung itu. Dan itu perasaan yang luar biasa.

Tidak ada lagi yang menjadi harapan saya saat itu. Ya Allah, saya ingin kembali. Ijinkan saya pulang ke RumahMu lagi…

Eyang.

Pagi ini..

Beliau sedang duduk disana.

Meja makan, yang meja kerja, yang meja pertemuan. Meja segiempat beralas sulaman..

Tawar putih tanpa pinggiran. ditemani keju serta parutan. menyiapkan sarapan adalah sebuah hiburan..

Hemm. Eyangku, apa kabar hari ini?

.

Siang tadi..

Beliau sedang duduk disana.

Meja rias dengan segala pernik dan foto-foto lama. Foto beliau dan suami ketika muda. Berjejer botol parfum beraneka ukuran dan warna..

Dengan kerudung dan abaya yang selalu padan, kuamati beliau yang sedang berdandan..

ah. cantiknya. Eyang, apa acara hari ini?

.

Sore itu..

Beliau sedang duduk disana.

Kursi dari besi dan karat di depan rumahnya. tua, namun tidak setua dirinya..

sibuk menikmati senja dari teras diujung bukit. selalu setia ditemani segelas teh hangat dan biskuit..

sesekali memantau obrolan keluarga lewat telepon genggam, membubuhkan komentar lucu di foto terbaru sang cicit..

Duh Gusti, berilah Eyang selalu berbahagia, jauhkan dari segala sakit..

.

Malam telah tiba..

Beliau sedang duduk disana.

dibawah remang lampu baca. beliau duduk menundukkan muka. mendoakan kami semua anak cucunya..

semua. hapal diluar kepala. nama panjang lengkap dengan Bin dan Binti nya..

ujian akhir sekolah? penyusunan skripsi ? wawancara kerja? putus cinta? semuanya. semua urusan keluarga secara terperinci dipanjatkan ke Yang Maha Kuasa.

Segala puji bagiMu Tuhan Semesta Alam,

IMG_0100

Selamat Ulang Tahun, Eyang.

🙂

 

 

Raudhah : A Piece of Heaven as A Birthday Gift

raudhah

Suasana Masjid Nabawi Dini Hari

Langit perlahan terang dari sisi kiri Masjid Nabawi, ketika kebab ayam hangat di tangan kanan saya tandas habis. Perut ini terasa lapar setelah semalaman bergadang menanti kesempatan berdoa di Raudhah. Taman surga yang terletak diantara makam Rasulullah dan mimbar beliau itu diharapkan dan dinanti oleh beratus muslimah malam tadi.

Kalau tidak salah, sekitar jam 11 malam saya berangkat dari hotel menuju masjid, dan langsung masuk ke dalam antrian. Antrian ini dibagi berdasarkan suku bangsa. “Yalla! Ibu! Ibu! dhudhuk, ibu!”, seruan tegas para askar penjaga masjid Nabawi dengan burqa hitam menggiring saya langsung ke kubu bangsa Melayu. Untuk para muslimah, tempat yang mustajab untuk memanjatkan doa ini dibuka hanya pada jam-jam tertentu, karena tempatnya berada di shaf laki-laki, sehingga harus dijajarkan dinding temporer dari plastik putih tidak tembus pandang dahulu sebelum jamaah wanita dibolehkan masuk.

Bukannya sengaja saya datang larut malam, sebenarnya karena sebelumnya saya tertidur ba’da sholat ashar, terbangun karena perut lapar dan hati yang kaget karena terlewat sholat maghrib. Sempat merasa kecewa, kenapa tidak terbangun, kenapa tidak ada yang membangunkan, kenapa tidak memasang alarm?. Tapi memang semua ada hikmahnya, tapi itu nanti akan saya ceritakan lagi.

Berbagai shalat sunnah saya dirikan selama mengantri untuk masuk ke Raudha, tahiyatul wudhu, tahiyatul masjid, hajat, taubat, tahajud, dan lain-lain, sebisa saya tidak membuang waktu selama berada di tempat penuh keutamaan ini. Di tengah dzikir saya setelah tahajud, tanpa tanda dan bunyi apapun, payung-payung di masjid Sang Nabi ini membuka dengan perlahan. Saya yang saat itu tepat berada dibawah salah satu payungnya hanya bisa mendongak dan terpana. Begitu lembut. Begitu anggun. Seperti terbuka kembalinya daun Putri Malu ketika sudah tidak ada lagi mata yang melirik. Breathtaking. Tasbih saya pun kontan terhenti di “Subhanallah, Subhanallah, Subhanallah….” yang beberapa menit kemudian berubah menjadi “Astaghfirullah, Astaghfirullah, Astaghfirullah!” karena saya lupa tidak merekam dengan kamera smartphone yang saya bawa. Ah, tapi ya sudahlah insyaAllah otak dan hati saya sudah puas mengabadikan momen indah barusan.

“Ibu!, Ibu!, Jalan! Yalla!”. Sudah saatnya saya masuk. Bingung karena terdesak dari kanan, kiri, dan belakang. Melihat kebawah, karpet yang saya injak tidak lagi berwarna merah, tapi hijau. Ya Allah saya sudah sampai Taman Surga-Mu. Kaki saya membawa saya menuju sisi kiri Raudhah, mendekati dinding hijau. Dibalik dinding hijau itu berbaringlah Nabi Muhammad SAW, serta dua sahabat beliau Khalifah Abu Bakar As-Siddiq r.a dan Khalifah Umar al-Khattab r.a. “Dheg!” Fakta itu menepuk hati saya dengan keras.

Pernah dengar shalawat yang dinyanyikan dalam berbagai bahasa itu? judulnya Neo Shalawat. Saya baru googling. Sering sekali saya memutarnya dalam hati setiap sedang bengong, atau dalam perjalanan pulang dari kantor. Liriknya..

Allahuma shali wassallim ala
Sayidina wa Maulana Muhammad
Adadama bi’iImillahi shalatan
Da’imatan bidawami mulkilahi

Ya Allah curahkan rahmat dan keselamatan
Bagi Nabi junjungan kami Muhammad
Selamanya di dalam keabadian
Kekekalan kerajaanmu ya Allah

Ya Allah Paringi rahmat lan keslametan
Kagem Nabi junjungan kulo Muhammad
Salaminipun wonten ing keselametan
Salaminipun diwelasi Gusti Allah

“Tess..” Tiba-tiba hangat air mata mengalir ke pipi saya. Terus. Tidak berhenti. Puja dan puji yang saya panjatkan, shalawat yang selalu saya senandungkan, semua untuk Beliau, dan Beliau ada disini. Ber-abad jarak memang, tapi entah bagaimana terasa begitu dekat. Begitu rindu..

السلام عليك يا رسول الله

Cepat saya berusaha menenangkan diri. Mengucapkan niat dalam hati, dan mendirikan shalat sunnah mutlaq. Dua rakaat. Sempat teringat yang ustadzah muttawif katakan pada saya tadi pagi, untuk perlahan dan sedikit saja melirik ke pundak kanan dan kiri ketika mengakhiri shalat, agar tidak diusir askar dan kita dapat mendirikan shalat sunnah lagi. Dua rakaat lagi. Kemudian dua rakaat lagi..

Saya sudah bersiap untuk digiring keluar oleh askar, tapi tidak ada seruan apa-apa. Sedikit saya bergeser kebalik tiang masjid, terasa sedikit lebih longgar, disana saya mengeluarkan notebook yang saya bawa dari Tanah Air, berisi lengkap catatan doa yang dititipkan saudara, kerabat, dan kawan. Ingin sarjana, ingin terbebas dari penyakit, ingin momongan, ingin jadi pegawai negeri, ingin dapat jodoh. Alhamdulillah semua doa sudah saya panjatkan. Amanah sudah dilaksanakan.

Sisi kanan dan kiri saya terasa lebih longgar, dihadapan saya terdapat cukup tempat untuk bersujud. Saya dirikan shalat lagi, kali ini shalat taubat. Hati terasa diremas ketika saya larut ke dalamnya sujud terakhir shalat ini. Malu dan sedih. Teringat semua dosa. Air mata kembali berlinang, kali ini lebih deras.

“Khalas?”, ujar wanita berperawakan tinggi dari belakang saya, menanyakan apakah saya sudah selesai. Saya menghapus air mata dan tersenyum, kemudian beringsut ke samping memberikan wanita cantik itu tempat untuk shalat.

Saya menoleh ke kanan dan ke kiri, merasa agak heran kenapa belum diusir keluar untuk bergantian dengan jamaah lain yang sudah mengantri. Kemudian, di barisan depan saya melihat sekumpulan wanita dengan burqa hitam sedang mengobrol, beberapa mendirikan shalat. Tempat disekeliling saya pun terasa jauh lebih longgar. Ya Allah, ternyata saya adalah rombongan jamaah terakhir, tidak ada yang mengantri lagi diluar raudhah, para askar pun sudah beristirahat. Saya melirik jam, Ya Allah ini sudah lewat pukul 3 malam, berarti saya sudah bertambah umur.

Iya, hari ini adalah hari ulang tahun saya. Sudah 23 tahun. “Hemm, sudah 23 tahun ya?”, tiba-tiba hati saya bertanya kepada hati saya sendiri. “Sudah ngapain aja kamu?”, saya bingung menjawabnya. “Sudah bahagiain orang tuamu?”, kemudian saya hanya bisa diam dan menangis. Mata saya terpejam, namun tampak jelas wajah bapak ibuk yang sumringah ketika berpose di foto wisuda saya. Ya Allah..bahagiakanlah mereka, Ya Allah..ampunilah dosa mereka, Ya Allah..sayangilah mereka lebih lebih lebih dari bagaimana mereka menyayangi saya..

Setelah mengucapkan salam kepada Rasul, perlahan saya berjalan keluar dari Raudha. Payung-payung masjid yang tadi tertutup kini sudah terbuka kembali, menguakkan langit Madinah yang cerah tak berawan. Subhanallah, malam ini bulan purnama. Saya sempat panjatkan doa yang ibuk ajarkan sejak kecil setiap melihat bulan purnama. ” Ya Allah, berilah saya kecantikan seperti kecantikan bulan purnama-Mu Ya Allah, begitu terang namun tidak menyilaukan”.

Karena sudah dekat waktu subuh, saya memutuskan untuk tidak kembali ke hotel. Di sekitar saya para khadim (pembersih) mulai sibuk menaikkan tangga dan mem-Brasso lapisan emas di tiang-tiang masjid, menaikkan galon-galon air zam-zam yang kosong kedalam kendaraan pengangkut untuk diisi ulang. Sedangkan saya, mencari tempat yang nyaman untuk bersandar, menyelimutkan pashmina tebal ke punggung, dan menyibukkan diri membaca Al-Quran diterangi cahaya bulan langit Madinah.

.

.

Pagi ini saya duduk sendiri di sebuah foodcourt dekat Masjid Nabawi. Sibuk menambahkan gula ke teh susu hangat yang barusan saya beli. Saya belum kepingin masuk kamar. Saya lebih tertarik melihat segerombolan burung-burung dara yang lalu-lalang kesana kemari, muslimin dan muslimah dengan segala kesibukannya di pagi hari.

Tidak ada rasa kantuk, meski sudah terjaga dari dini hari. Oh, mungkin ini hikmahnya saya tertidur kemarin sore.. agar saya bisa menikmati nikmatnya menghabiskan malam di Masjid Nabawi..

Ya Allah, terimakasih kadonya.. 🙂

Sesungguhnya Allah dan malaikat-malaikat-Nya bershalawat untuk Nabi. Hai orang-orang yang beriman, bershalawatlah kamu untuk Nabi dan ucapkanlah salam penghormatan kepadanya. (QS : Al-Ahzab Ayat : 56)

To the girls who travel: Don’t date a guy who doesn’t travel

I won’t.

The Gypsea Chronicles

Yes, you are the girl with the unkempt room and poor time management. You have many things in your head, most of which are notes-to-self on what your future self should do or go to. You are a dreamer, and that means that if the guy you date isn’t like you, it’s unlikely to work out.

Don’t date a guy who doesn’t travel. He is the guy with the medicine cabinet filled with shaving cream, hair gel and toothbrushes he doesn’t use anymore. His skin is fair and soft like a baby’s, which means he doesn’t go out much or at all. He is intolerant to the sun, when in fact you love every minute you are under it, soaking each ray of sunshine into your now bronze skin. He combs and styles his hair in memorized strokes every morning (as he has been doing this for months, maybe years…

Lihat pos aslinya 956 kata lagi

40th Day

Touching piece :’)

koprolkata

I just finished baking a batch of brownies when I realized, I don’t have anyone particularly worthy to receive them at the moment. So i let the brownies just lie there, cooling itself. The top crystalizing beautifully as the crushed pecans and walnuts gathered moisture from the eggs.

I never really eat the stuff I cook. I somehow always become full during the process. The only times I cook is upon impulse. Whenever a colleague pisses me off, I end up trying a new recipe.

What’s worse is whenever my incompetent boss yells at me, I go home and I start doing excessive cleaning, which I seldom complete until past midnight. And causes me to be late and decide not to go to work the following day. Only giving more fuel for my boss’ to despise me.

I’m sure Aunt Maggie and Gramps were waiting for a slice of my…

Lihat pos aslinya 1.169 kata lagi

13 things I have learned in 2013

Sudah di penghujung tahun 2013. Rasanya ini waktu yg tepat buat introspeksi, kontemplasi, beresolusi dan minum ASI. Eh. I’m tagging my seniors, Ariev Rahman, Moch. Takdis, Arif Abdillah, untuk berdemonstrasi bareng-bareng saya. Eh. Duh. Berikut adalah 13 fakta yang saya pelajari dari acara hot spot di tipi tahun 2013. In no particular order:

  1. Travelling is the best money I can spend. Karena banyak banget yang bisa dipelajari dari berpergian. Tahu besarnya dunia membuat kita sadar betapa kecilnya kita, dan dengan ajaib travelling bisa bikin kita merasa  bangga dan rendah hati di saat yang sama. Dan yang paling saya suka: bisa banyak bawa oleh-oleh yang gak dibeli pake uang,  like pictures, memories, stories, new friends, and new perspective. Travelling bukan tentang jumlah uang, bukan tentang waktu luang. Tapi tentang kemauan. Kalo mau, pasti bisa. Kan tiket promo dan tanggal merah selalu ada.
  2. Apapun yang terjadi, apapun itu layak untuk disyukuri. Toh nikmat itu ujian dan ujian itu nikmat. Dengan limpahan nikmat kemudahan, kesehatan, kenyamanan, kebahagiaan yang kita rasakan sehari-hari, sebenarnya kemampuan bersyukur kita tuh sedang diuji. Sedangkan dengan ujian kesukaran dan musibah yang kita hadapi, sebenernya kita lagi disentil buat mendekatkan diri, dan sentilan itu nikmat yang harus disyukuri, karena berarti Yang Maha Kuasa masih peduli. *AlhamduliLLAH.
  3. Orang yang baik untuk orang yang baik. Belum bertemu jodoh? Berarti kita belum cukup baik. Gitu aja. Jadi berhenti cari jodoh kita bukan Wali Band . Mendingan fokusin tenaga dan waktu buat reparasi diri and be the best possible version of our-self. Berusaha perbaiki hubungan dengan Yang Diatas, dengan keluarga dan sahabat, kenali diri sendiri, discover your true passion and when you start doing things you love, love will find you. Allah itu Maha Adil.
  4. Positive thinking is the key. Husnudzon. Selalu berprasangka baik dengan orang lain, dengan keadaan sekarang, dan yang paling penting dengan skenarioNya, and believe that the best is yet to come. Kan setelah kesukaran pasti ada kemudahan. Toh setelah kesukaran, ada kemudahan. *sampe diulang dua kali kan di Al-Insyirah?
  5. If I tell myself I can do something, I can actually do it. I’ve learned, it’s not who we are that holds us back, it’s who we think we are not. 
  6. My friends are as precious to me as my family. For me, friends are about quality not quantity. I may not have a lot of acquaintances, but I gladly can say I have the most awesome bunch of  people to call best friends. aaakk tium atu-atu*
  7. Berhenti membebani orang lain dengan rahasia atau aib kita. Gak semua orang mampu menaggung beban amanah itu. Gak perlu curhat ke aa’ dan mamah dedeh, lebih parah di media sosial, curhat ke Yang Diatas tuh jauh lebih baik.
  8. Olahraga dan makan sehat itu penting. Pake banget. Kurus itu bonus. Oh dan OCD works for me. *jendela makan 8 jam + puasa senin kamis*
  9. Pacaran itu cuma jomblo yang tersamarkan. Pilihannya kan cuma dua, jadi mantan atau jadi manten. Pacaran yang ujungnya jadi manten ada sih, tapi yang lebih mahal? banyak. cuma jadi mantan? banyak. Kalo emang udah sreg sama calon, datangi aja walinya, jangan putrinya. *kok saya jadi galak gini sih. *tarik napas panjang dulu.
  10. Be with someone who makes you happy. Be the source of your own happiness. Don’t rely on anyone else for it. Pegang kendali dan capai kebahagiaanmu sendiri. Afterall, we are the driver not the passenger in life.
  11. People change, they always will be, and so do you.
  12. Life is a series of lessons. Pelajaran bisa kita dapat darimana saja, dari siapa saja. Dan saya belajar dari Cherybelle tahun ini : Kamu cantik, cantik dari hatimu. For me, sexy is being kinder than expected, being really smart, generous, and thoughtful. ~and travel often. 😉
  13. I’m really really lucky to be where I am.

And if you should count the favors of Allah , you could not enumerate them. Indeed, Allah is Forgiving and Merciful. (An-Nahl : 18)” Thanks for all this lessons 2013. It was a pleasure meeting you.. *cipika cipiki*