My Photobook Project : Recollecting Scattered Memories

Ber-giga-giga bytes foto di laptop tua menyapa saya, “Dhir, kalo kita ngilang aja gimana?”, hah. “Boro-boro upload, kamu ngeliat kita aja gak pernah. Kamu sekarang berubah, tau gak Dhir. Udah daripada gini terus, mending kita putus aja.” Nahlo. 😦 Sama folder foto aja saya diputusin? Hiks. Sakitnya itu disini. sambil megang hard disk di dada

Apaan sih ini tadi? Duh.

Intinya, kalau ada yang mau hitung, mungkin ada ribuan foto di laptop saya, di laptop kamu juga banyak foto kan, iya. kamu. Tiap-tiap foto itu pasti punya ceritanya sendiri, punya kenangannya sendiri. Dan tiap-tiap orang yang ada di foto itu pernah ninggalin kesan tersendiri di hidup kita. Tapi era fotografi digital membuat pengambilan dan penyimpanan gambar begitu mudah. Jepret, masukin laptop, upload, nge-tag, di-comment, udah. Beres. Rasanya we take those precious memory for granted. Ceileh. Tapi beneran deh, memory laptop bisa hilang, facebook dan web penyimpanan foto lain suatu hari bisa gulung tikar, trus nanti apa yang bisa dipamerin ke anak-anak kita, Pa? *eh.

Nah. Trus suatu hari saya nemuin kupon diskon pembuatan photobook di internet, untuk buku foto hardcover 8×11 inchi (kira-kira sebesar buku tulis boxy) setebal 40 halaman, harga normalnya Rp 625.000, berkat kupon itu saya beli seharga Rp. 180.000 saja. Ahaha, insting kewanitaan saya menyala-nyala melihat diskonan yang begitu oke. Cara buatnya tinggal download aplikasi berisi design-design buku foto, buat kolase sesuai keinginan, upload, sederhana. Yang buat gak sederhana adalah : Foto saya ribuan pakdhe 😦

3 bulan saya cicil, bikin folder foto-foto apa yang mau saya masukkan di buku foto, saya edit tipis-tipis, saya susun, dan upload. Susah payah, dengan pengalaman men-design yang setara dengan anak SD. Akhirnya saya bisa menyelesaikannya.

Dan.

Kemudian saya baru sadar.

Saya salah bikin. Saya bikin foto album dengan ukuran 11×11 inchi.

Sakit.

Sakit.

Padahal besok adalah hari terakhir berlakunya kupon saya. 😦

AlhamduliLLAH masih bisa nyimpan dalam bentuk jpg proyek yang gagal sebelumnya. Monggo bisa ditilik. Urut dari halaman 1-40 dan covernya.

Sempat mau nyerah sih, tapi insting kewanitaan saya pula yang mencegah saya untuk menyerah, “eman beb, eman beb, eman beb. sudah bayar.” Dan akhirnya saya sekarang memulai lagi menyusun ratusan foto-foto itu dari awal. Doakan saya bisa ngebut nyelesain, ya..

Iklan

Yogyakarta 1D1N? BISA!

Pulang ke kotamu..
Ada setangkup haru dalam rindu..
Masih seperti dulu..
Tiap sudut menyapaku bersahabat, penuh selaksa makna..
Terhanyut aku akan nostalgi..

Belum selesai pengamen reguler Stasiun Gubeng itu mendendangkan Yogyakarta-nya Kla Project, petugas PPKA sudah menghimbau saya dan penumpang Sancaka Sore lain untuk bersiap-siap disekitar Jalur 6.

Sabtu itu, ditemani daypack enteng dan tas selempang kecil, saya berangkat ke Yogya untuk pulang keesokan harinya. Iya, cuma sehari disitu, disitu itu, kota yang katanya terbuat oleh rindu, yang suasananya, nuansanya, dan orang-orangnya selalu bikin kangen buat kembali.

Emang cukup cuma sehari, Dhir? Lagian kenapa kok bentar amat?

Hemm sebenernya, semua ini karena kata Ayah dia tidak bekerja, sehingga ku tak boleh berpacaran dengannya  Mati Akuu, Ayahku Tau .. *eh, bentar *ngecilin Suara Giri FM. Hemm. Jadi, sebenernya rencana awal adalah, berangkat jumat sore, dan pulang minggu malam, kemudian senin pagi sampai di Sidoarjo langsung mandi dan kerja. 2D2N (dua hari dua malam), pasti cukup buat muterin Yogya. Tapi sayang, sirkumsisi memaksa saya memotong dan memendekkan lama perjalanan jadi tinggal 1D1N (sehari semalam). Dhir, “sirkumstansi” gak sih harusnya? *ssssttt *sambil naruh jari telunjuk di bibir kamuh.

Yah. Jadi pendek deh (jalan-jalannya). Tapi, jangan sedih. Saya….. Nadhira Subiyanto, Ketua Asosiasi Pejalan Nyasar Seluruh Indonesia, akan membagikan tips bagi barangsiapa yang ingin menghabiskan akhir pekan di Yogyakarta. Karena, bagi Saya… Nadhira Subiyanto. Hidup adalah Perebahan. *teeeet. pre-memory. Langsung ke intinya aja, kakaaaak…

  • Kalo suka yang kalem-kalem aja?coba deh PDKT sama Teh Ninih. Eh. Tenang, atuh Aa’ Gym. Jalan-jalan di pusat kota Yogyakarta itu sama sekali gak ngebosenin, kok! Seandainya Aa’ 1D1N aja di Yogya, ini yang bisa Aa’ pilih :
    • Sabtu sore : HUNTING BAKPIA. kenapa hunting? karena lupa pake pengaman. Huss. Bukan. “Hunting” disini karena bakpia yang dicari itu bukan sembarang bakpia. Bakpia yang satu ini sering sukses membuat banyak pengunjung patah hati karena stock yang ga ready sis. BAKPIA KURNIA SARI. iya. belum pernah denger? seringnya kita dioleh-olehin bakpia yang ada nomornya kan, 145, 175, 75, 25, 35, 38, 55, 67, 99. Entah darimana asal nomor-nomor itu, mungkin itu misteri Da Pia Code. Tapi Bakpia kurnia sari ini beda for a reason. Soal rasa berani diadu, bongkar kebiasaan lama! Diameter bakpia nya lebih besar, kulitnya begitu tipis, begitu lembut, begitu kuat. Rasa kejunya itu lho, gurih banget. Enak deh! Enak sampai butuh order minimal 3 hari sebelumnya kalau mau nyicipin kenikmatannya. Ngerik. Mungkin nih ya, mungkin sang pemilik bakpia kurnia sari ingin menjaga keberlangsungan dari pengusaha-pengusaha bakpia lain atau gimana, yang saya tau, sebanyak apapun permintaan, pabrik bakpia beliau tidak akan memproduksi bakpia lebih dari kuota yang ditentukan. Jadi mau gak mau, hanya ada dua cara, menurut Saya…..Nadhira Subiyanto, Ketua Asosiasi Pejajan Pasar Seluruh Indonesia, untuk mencoba Bakpia Kurnia Sari :
        1. Pesan terlebih dahulu. 2-3 hari sebelum keberangkatan, gak ada salahnya telepon ke nomor-nomor dibawah, untuk sistem pembayarannya bagaimana, saya kurang tahu, untuk harganya sekitar 25ribuan. Coba di tanyakan sendiri.— Ruko Permai Pogung Lor No 6. Jln Ringroad Utara Jogjakarta (sebelah ahmad dhani school rock of music). Telp (0274) 625279. — Jln Glagah Sari 91C Jogjakarta. Telp. (0274) 380502 — Jln Glagah Sari 112 Jogjakarta Telp (0274) 375030 (seberangan sama cabang yang satunya. dan iya, kalau disana habis, disini juga.)
        2. Datanglah ke cabang-cabang tersebut pada Jam 07.00 pagi, atau 15.00 sore karena itu adalah waktu-waktu yang mustajabah untuk membeli bakpia. Pada jam tersebut pengantaran bakpia dari pabrik ke counter dilakukan. Kalo akhir pekan, 1-2 jam setelah itu? stock bakal habis, sis.

    Don’t judge Bakpia by its Box.

     

    • Sabtu malam : Nikmati Bersama Suasana Yogya. Santai-santai keliling kota, just soak up the ambeien , dude! Eh. Duh. Typo yang gawat. I mean, ambience yah, suasana. yaelah Dhir, siapa juga yang mau ngisep wasir. Oke *telan Ambeven. Berikut adalah list pilihan enaknya kemana aja Sabtu malam di Yogyakarta :
    1. TUGU JOGJA. Nah. Rasanya gak afdol kalau belum kemari. Monumen setinggi 15 meter yang berdiri tegak di tengah perempatan Jalan Pangeran Mangkubumi, Jalan Jendral Soedirman, Jalan A.M Sangaji dan Jalan Diponegoro ini sudah berusia hampir 3 abad, lho! Dibangun oleh Sri Sultan Hamengkubuwono I, tugu ini selain sebagai simbol persatuan Raja, rakyatnya, dan Yang Maha Kuasa, juga diperuntukkan sebagai patokan arah ketika para raja ingin bersemedi menghadap gunung merapi. Did you know? bila ditarik suatu garis imajiner, Gunung Merapi di Utara, Tugu Jogja di tengah, dan Pantai Selatan membentuk garis lurus. Keren ya? Iya.

      Sudah Tegak Berdiri 3 Abad yang lalu.

    2. MALIOBORO. Iyaa laah. Masih seperti dulu, tiap sudut menyapamu bersahabat. Toko oleh-oleh, tempat nongkrong, semuanya ada di jalan ini. Yang lebih menarik, dan membuat suasana Jalan Malioboro ini lebih hidup, apalagi kalo bukan ‘para musisi jalanan’-nya. Ada yang bermain akustik, ada yang membawa gamelan, ada yang main perkusi kaya Safari Duo, ada yang membawa stereo lengkap dengan penari transeksualnya. Eh, tapi, trust me, they’re really entertaining! Nggak seperti pengamen yang biasa saya lihat di Sidoarjo, pengamen-pengamen disini had some serious skills. Penari banci yang saya ceritakan tadi? seru banget tariannya! Must see!
      Malioboro street

      Suasana di Kota Santri MALIOBORO

       

    • Sabtu malam banget : THE HOUSE OF RAMINTEN. Wajib. Kesini. Why? Tempatnya nyaman, makanannya enak, pelayanannya cepat, dan harganya murah! “Raminten” adalah nama tokoh di seri sitcom Pengkolan yang diperankan oleh Hamzah HS, sang owner. Mengusung tema “unique, antique, elegant”, menurut saya dapet feel yogya-nya! Karena banyaknya pengunjung yang datang ke restoran 24 jam ini, di bagian depan restoran disediakan tempat duduk berderet untuk menunggu meja kosong. Dan. Antriannya panjaang. Gilaa. Saya belum pernah nungguin meja hampir setengah jam untuk makan Sego Kucing seharga seribu rupiah. Tapi, worth it banget! Saya pasti akan kembali kesini lagi untuk coba Ayam Koteka dan Es Perawan Tancep yang sudah ludes habis waktu itu!
      raminten-2

      Foto Raminten dan Yati Pesek di Ruang Tunggu.

      Akhirnya dapat tempat duduk. Zaisu chair ala Jepang nya nyaman banget.

      Akhirnya dapat tempat duduk. Zaisu chair ala Jepang nya nyaman banget.

      Della nya Laper :(

      Della Travellmate saya uda Laper 😦 di depannya udah ada Nasi Gudeg Komplit, Sego Kucing Single Pakte (Pake Telur=2ribu), Sate Usus, Mendoan, Wedang Serai dan Jus Purworukmi

       

    • Minggu Pagi: Jalan-jalan ke Sunmor UGM. Cuci mata! juga cuci tangan sampai siku dengan air mengalir, kemudian jangan lupa membasuh muka, kepala, telinga, dan kaki. Nah. Setelah suci dari hadas kecil, marilah berjalan-jalan santai ke pasar dadakan disekitar lembah Universitas Gajah Mada ini, yaitu di Jalan Notonegoro yang memisahkan antara kampus UGM dengan wilayah Kampus UNY. Jogging tipis-tipis disambi nyemil dan belanja. Mulai dari pernak-pernik aksesoris, kuliner khas jogja, sampai penjual binatang peliharaan semua ada disini.

      Sunday Morning

       

    • Minggu Siang: Jalan-jalan Seru di Taman Sari. Dari Malioboro, situs bekas taman istana Keraton Yogyakarta ini bisa dicapai dengan becak. Mungkin perlu beberapa kali take adegan tawar-menawar yang agak alot. Yah, emang gitu, para tukang becak sekarang suka jual mahal. Yaiyalah, masa’ dideketin dikit, kitanya langsung iya-iya aja? nanti malah kita dikira murahan lagi, dia dong yang usaha deketin kita dulu, kalo emang dia serius, pasti nggak bakal cari yang lain kok. Kan kalo jodoh nggak kemana? EH. Ini kenapa si bapak malah curcol? *bentar, mau puk-puk Pak Becaknya. Nah, balik lagi ke Taman Sari. Saya…….. Nadhira Subiyanto, Ketua Asosiasi Penikmat Cagar Budaya Seluruh Indonesia, akan membagikan tips untuk menikmati Taman Sari :
      1. Datanglah waktu Taman Sari udah buka (antara jam 09.00 – 15.30 WIB). Iyalah say, nanti kamuh dikira abdi dalem..
      2. Kenakan busana yang sopan dan tertutup. Nanti kamuh masuk angin, sayang. Kesehatanmu, loh..
      3. Bawa minuman dingin, pake topi dan sublock. Jangan ampe lupa yah, beib. Akuh takut kamuh kepanasan disana..
      4. Pake GUIDE. Rp 30.000 per orang, mungkin bisa lebih murah kalo mau ditawar dulu. Ini penting. Supaya kita disana nggak muter-muter foto-foto aja, tapi juga bisa bener-bener mengerti dan menghargai situs sejarah ini. Lagian akuh nggak mau kamuh kesasar disana, cinta. Pake guide yah..
      5. Jangan lupa baca postingan berikutnya, “Fakta Unik Taman Sari” yang sekarang masih tahap penggodokan.

        Seperti kata pepatah. Tak Kenal, Maka Ta’aruf. Yuk ta’aruf sama budaya sendiri

    • Minggu Sore : Wisata Kuliner di SENTRA GUDEG. Yogya dikenal juga sebagai “The Big Jackfruit” menyaingi “The Big Apple” New York. Kenapa disebut begitu? Karena kata orang, dia tidak bekerja, sehingga ku tak boleh, berpacaran dengannya! Mati Aku.. Ayahku Tau… *huuus. kok lagu ini lagi sih?? Yah. pokoknya, yogya disebut nangka besar karena kuliner khas yang satu ini. Dibuat dari nangka muda, nangkanya para remaja, yang dibersihkan getahnya sedemikian rupa, kemudian dimasak dalam santan dan rempah-rempah dalam waktu yang lama. Did you know? ada banyak jenis Gudeg. Kalau menurut saya, secara garis besar sih dibagi jadi Gudeg Basah dan Gudeg Kering. Saya lebih menyukai Gudeg Basah, iya, yang ada santan nyemek-nyemek diatasnya. Menurut saya Gudeg Basah tidak terlalu manis dan lebih gurih, cocok untuk lidah Jawa Timur saya, tapi sayang, gudeg jenis ini tidak bertahan lama bila dibawa sebagai oleh-oleh. Biasanya, untuk buah tangan, Jenis Gudeg Kering lebih sering dipilih, karena sudah dimasak dalam waktu yang lebih lama sehingga bisa awet hingga 24 jam, lebih lama lagi kalau masuk lemari es.

      Gudeg Basah. Favorit saya. Entah kenapa, lebih susah dicari di Jogja adanya di Jalan Kaliurang kawasan Barek, Gudeg Batas Kota (Jl. Adisucipto depan Saphir Square) atau mbok-mbok penjual gudeg di pasar-pasar tradisional.

      Gudeg Kering. Lebih Manis. Yang enak di Gudeg Yu Djum (Jl. Wijilan 31) atau Gudeg Bu Slamet (Jl. Wijilan 17)

       

  • Minggu Malem : Masangin di Alun-alun Kidul. Masangin? Minum Tolak Angin Dhir. BUKAN. Masangin adalah singkatan dari MASUK DUA BERINGIN. Jadi, di Keraton Yogyakarta terdapat dua alun-alun, di utara dan di selatan. Alun-alun Kidul (Selatan) ini istimewa, letaknya dibelakang Keraton, tapi dibuat semirip mungkin dengan Alun-Alun Lor (Utara) di bagian depan Keraton. Kenapa? karena kata orang, dia tidak bekerja, sehingga ku tak boleh… *BRAKK. *banting radio. Whoosah. sampai mana tadi? Oh. Dibuat mirip dengan bagian depan Keraton karena sungkan, tidak ingin membelakangi Pantai Selatan yang dijaga oleh Nyi Roro Kidul. Apa hubungan Nyi Roro Kidul dengan Keraton Ngayogyakarta? Nantikan di postingan berikutnya!. OYA. kembali ke MASANGIN, caranya berjalan dengan mata tertutup dimulai sekitar 20 meter didepan kedua pohon beringin dengan tujuan melewati tengah-tengahnya. Kedengaran gampang? Coba sendiri! Konon ada rajah di antara kedua beringin tersebut untuk menolak bala yang akan mendatangi Keraton Yogyakarta. Sehingga, katanya, hanya orang yang bersih hati dan tak berniat buruk yang bisa lolos. Untuk mencoba permainan ini, kita bisa menyewa penutup mata seharga Rp 5.000. Selain itu, suasana Alun-alun ini begitu meriah di malam hari, saya sendiri suka sekali melihat kerlip-kerlip mainan kitiran yang menyala berputar-putar jika dilemparkan keatas. Buat bakar kalori dari kekenyangan makan gudeg, bisa coba naik becak-becak hias memutari Alun-alun Kidul. Muat digenjot 6 orang, becak ini bisa disewa Rp 25.000- 50.000 untuk 2-4 kali putaran. Jangan takut bosen, di becaknya sudah ada built-in speaker dengan jack standar 3.5 mm yang bisa langsung di-cep-kan ke HP untuk mendengar lagu favorit. Sarannya? Yogyakarta-KLA project dong!

    Recommended Activity di Alun-alun Kidul : Masangin Anastasia.

    Cara Seru Nikmatin Alun-alun Kidul : Gowes sambil Nyanyi Rame-Rame

     


Waduh. udah 1780 words. Post ini panjang banget! Ini aja baru share tentang jalan-jalan di pusat kota Jogja buat yang suka jalan-jalan kalem. Padahal masih ada itinerary liburan di Jogja 1D1N buat yang lebih suka jalan-jalan nggak mainstream. Tapi itu di post berikutnya aja ya?

Terimakasih sudah membaca..

PS : Maaf kemarin nggak banyak ambil foto. Semua foto diatas, kecuali yang di RAMINTEN, adalah pinjaman dari blog-blog lain, monggo silahkan klik di fotonya untuk tersambung ke blog ybs.

Matur nuwun 🙂

 

 

New Member

So, meet Surti and Tejo. The newest members of our family. Setelah perkutut, nuri, jalak kebo, dara, dan anggora. banyak piaraan banyak rejeki

View on Path

Bingung Tengah Tahun

Sebenernya, serius ini, saya bingung mau nulis apa. Ehm. mungkin lebih tepatnya, nulis kayak gimana. Soalnya kebanyakan nulis yang serius-serius bikin jari ini rada seret buat nulis yang santai-santai. Jadi sebenernya ini blog serius apa santai sih, Dhir? Nah. Good question. Kalo udah gini, ada baiknya dikembalikan lagi ke awal. Alasan kenapa saya buat blog ini. Kemarin, sekitar bulan Oktober-November 2013 bisa dibilang adalah masa-masa galau buat saya. Yah, meskipun nggak sampai ngalay di sosial media dan curhat kesana kemari, tapi setelah diinget lagi, emang itu adalah masa-masa transisi di hidup ssaya, dan entah kenapa perubahan itu selalu berbanding lurus dengan galau di dalam hati. apa yang berubah? status saya. dari anak kuliahan — jadi sarjana beberapa saat jadi sarjana — saya keterima kerja, berubahlah saya jadi Sailormoon karyawati baru beberapa minggu jadi karyawati — saya berubah jadi jomblowati 😦 😦 However, setelah beberapa buku motivasi bertema religi dan berjam-jam browsing quote patah hati dan move on di Pinterest, saya survived.  Ditengah-tengah browsing itu, saya lupa gimana, pokoknya tiba-tiba nyasar ke blog nya Roy Saputra, sebuah nama yang asing, apalagi buat saya yang nggak pernah punya blog, tapi tulisannya yang ringan dan mengalir membuat saya betah lama-lama di blognya, sampai akhirnya saya baca artikel wawancara kak Roy sama Ariev Rahman. Disitu saya mulai kesengsem, gaya mas Ariev yang kocak dengan seru nyeritain pengalaman flashpacking-nya (jalan-jalan dengan gaya backpack tapi dalam jangka waktu yang singkat) membuat saya tertarik pingin nulis. Trus di blog itu, mas ariev mention Mohammad Takdis laki-laki dari Bandung seumuran saya yang berani mengambil langkah gede dalam hidupnya untuk mengejar passionnya, Travelling. A zero to hero story yang bikin saya mikir : kalo nih orang bisa, berarti saya juga bisa. Dan saya buka 2 New Tabs di Google chrome. 1 tab untuk wordpress.com dan dengan tanpa pikir panjang, saya buat nama tengah saya “matantya” sebagai nama blog (which I’m going to regret later on because google hates it, he always say “did you mean “matanya”?”  aaaak. mata lu, Gle.) 1 tab lagi untuk airasia.com dan dengan tanpa pikir panjang juga, saya beli tiket ke Jakarta seharga 700 ribu pulang pergi. Kemudian saya terdiam di depan laptop. What the heck did I just do? yang sesaat kemudian disusul dengan telpon-telponan lama sama ortu buat minta ijin, sama temen kampus yang lagi di jakarta, sama temen di bandung, dan lain-lain. Ribet. Riweh. Too impulsive. But, back then I didn’t realize how that impulsive decision changes me. Sebenernya dari kecil juga saya travelling. Mudik lebaran itu travelling kan? ke hotel bareng keluarga temen kantor bapak juga travelling kan? Tapi yang ini beda. Saya pingin dapet sesuatu dari jalan-jalan kali ini. Saya pingin bawa pulang oleh-oleh yang gak dibeli pake uang. Untuk pertama kalinya, saya pingin jalan-jalan for the sake of “jalan-jalan” itself. Bukan destinasi lagi yang saya cari, tapi perjalanan itu sendiri. From that moment on, I realize that I am no longer a “Tourist”. I became a “Traveller”. Pulang dari Jakarta Bandung, saya duduk lagi di depan laptop dan mulai nulis. Apa aja yang mau saya tulis tentang perjalanan saya. Detil. Semua hal kecil yang seru yang bikin saya ketawa, mulai dari panas-panasan di Monas sampe nyasar syariah ke cafe perlente di Kota Tua, trus seru-seruan di Bandung dan ngerasain deg-deg-an nya terancam gak bisa pulang, yang akhirnya bisa ngerasain banget devine intervention di akhir perjalanan gue. EPIC banget! ((nah jadi pake “gue” kan? gini, sebenernya enakan cerita tuh pake “gue” bukan “saya”, karena dengan pake “gue” saya bisa pake bahasa Indonesia yang baku, tanpa terkesan kaku. Tapi, masalahnya sehari-hari saya nggak pernah sama sekali adress myself as “gue” karena saya tinggal di Sidoarjo, Jawa timur bukan di set FTV. So, later on I use saya. Super saiya)).

this is why I use “saiya” instead of “gue”

Dari situ saya nemu kesenengan baru. Menulis. Meskipun belum banyak yang baca, tapi seneng gitu nerima feedback dari temen-temen, sanak saudara. Ada yang bilang blog ini relaxing lah, ngocol, seru, bisa bantu ngilangin stress, dan lain-lain. It feels so good. Setelah itu adalah masa kupu-kupu (kerja-udahan-pulang-kerja-udahan-pulang). Nggak ada rencana jalan-jalan, karena pulang dari trip perdana itu saya jatuh sakit beberapa hari (dasar gara-gara saya yang masih ngotot diet padahal badan pegel semua). Bosen, saya mulai lirik-lirik ke blog-blog sastra, kayak blog Agus Noor dan lain-lain. Trus pas perjalanan pulang dari tempat kerja tiba-tiba muncul ide, akhirnya untuk pertama kalinya seumur-hidup saya bikin cerita pendek. Dan saya jadi suka nulis cerpen karena nulis cerpen tuh nggak pake mikir, nggak pake nge-cek fakta, nggak pake liat notes-notes selama perjalanan. Nulis cerpen itu enak, bikin pembaca kaget dengan ending cerita kita itu seru, dan yang bikin saya tambah seneng nulis cerpen, ternyata banyak yang suka. Tapi, akhirnya bahasa yang saya gunakan di blog ini jadi semakin baku. Kemudian AlhamduliLLAH, saya diberi rejeki untuk menunaikan ibadah umrah. This is the trip of a lifetime, I would say. Pulang dari sana, rasanya saya kayak celana baru pulang dari permak jeans. Masih sama, tapi penampakannya beda, lebih rapi. People can say goodbye to my super long and wavy hair, I wear hijab now. Dan ternyata berkerudung membuat saya merasa jauh lebih nyaman. Di blog ini saya juga berbagi mengenai perjalanan sewaktu umrah dan kemudian tingkat keseriusan dari blog ini pun meningkat drastis. Trus bingungnya tadi tentang apa, Dhir? Saya bingung mau dibawa kemana hubungan kita? bila kau terus menunda-nunda dan tak pernah katakan cinta? Hemm. Duh. matiin radio. Saya bingung mau dibawa kemana matantya.wordpress.com ini. Pertama kali buat blog, ngelihat tiga senior diatas, saya kepingin jadi buzzer, influencer. Saya kepingin diajak jalan-jalan gratis dan dibayar untuk senang-senang, ditawarin masang iklan ini itu karena pembaca blog saya yang banyak. I aim for the Moon, because even if I miss, I hope to land among the stars. Tapi, untuk menjadi seperti mereka itu nggak gampang. Kepopuleran seperti itu nggak didapet dalam satu malam, yah kecuali saya jadi apoteker pertama yang memberi konseling KB beserta peragaan visualnya ke semua kucing betina di Sidoarjo. Kesuksesan mereka itu berkat konsistensi dan kerja keras.  Pernah dengar SEO (search engine optimization), kan? gimana caranya supaya website kita disayang sama Google dan muncul di halaman awal bila ada yang mencari keyword tertentu. Seorang teman yang mengerti tentang SEO menyarankan saya kalo pingin meningkatkan traffic pengunjung, lebih baik memasang artikel yang satu tema (misal travelling stories saja) dan harus informatif, sehingga menambah pengetahuan pembaca, kalo mau nulis cerpen dan random things lain, mending bikin blog lagi. Nah. Sebenernya itu saran yang bener-bener masuk akal. Tapi, tapi. Mengasuh satu blog ini aja uda keteteran, apalagi lebih. Tapi, tapi, saya kepingin nulis tentang banyak hal selain travelling. Tapi, tapi, nanti blog ini nggak banyak pengunjungnya. Trus gimana? mungkin saya harus kembalikan lagi kesini… *tarik napas

I write because it feels good. I write because it makes me happy. I write because, fortunately, it makes people around me happy, too. Rejeki, umur, jodoh, dan traffic blog itu di tangan Allah. Sekarang yang penting terus konsisten menulis, dan harus menulis sesuai hati intan nuraini.

hembuskan napas Yah sekian postingan tentang bingung tengah tahun saya..terimakasih sudah membaca sampai sini..terimakasih sudah datang di blog ini.. 🙂 

Dan terakhir..

Bingung itu sehat. Karena dengan bingung, berarti seseorang memikirkan sesuatu secara sungguh-sungguh. Semua orang pernah bingung di dalam hidupnya, saya hanya salah satu yang mengakuinya. Bingung itu langkah awal untuk mengerti. Karena bingung selalu dibarengi keingintahuan. Rasa haus akan pemahaman itu sendiri. Saya rasa saya ada di waktu yang tepat untuk bingung. Bingung ketika masih muda, saya rasa jauh lebih baik daripada bingung ketika tua. Bingung itu proses pencarian jalan keluar. Karena orang yang bingung tidak akan berhenti mencari solusi. Gak pernah kan liat orang yang perutnya sakit, bingung pingin ke WC, tapi diem aja? Yang ada orang itu pasti muter otak gimana caranya ke toilet terdekat. Kecuali kalo orang itu lagi jadi moderator debat capres ato lagi salaman pas ijab qabul, sih. Jadi, intinya, berani bingung itu baik.       Cheers for the confusion! and for the good years ahead!

((underlined red words above are links, silahkan klik biar makin greget!))

Pergi ke “Rumah”

Pernah merasa “dirumah” ketika sedang berpergian? Berada di tempat yang pertama kali didatangi tapi entah kenapa terasa dekat di hati. Buat saya, tempat itu adalah Masjidil Haram, Mekkah, Saudi Arabia.

Saya sedang sibuk menikmati pagi, croissant keju, dan susu coklat hangat di selasar pertokoan Bin Dawood, ketika tante-tante rombongan tour saya menyapa. “Mbak Dhira, kok sendirian? ayo naik..”, saya hanya tersenyum dan menolak dengan alasan sarapan yang saya beli belum habis. Iya, saya masih tidak ingin naik ke kamar saya di lantai 6, suasana pagi di kota ini terlalu menarik untuk ditinggalkan demi empuknya kasur hotel.

Rasanya kantuk belum menghampiri saya. Entahlah, sejak saya sampai di kota ini, kantuk jarang silaturahmi. Well, maybe I’m just too excited to be here. Jelas saja, selama ini minimal lima kali sehari saya menghadap kearah sini, dari rumah, dari kantor, dari manapun, saya sibuk memastikan bahwa saya sudah benar menghadap kemari. Menghadap ke kiblat.

and here I am. Enjoying my breakfast just meters away from Ka’bah. 

Jujur, sekarang saya lapar. Sejak disini saya selalu merasa lapar. Banyaknya aktivitas fisik, minimnya waktu istirahat, membuat tubuh saya butuh lebih banyak bahan bakar dari biasanya. Obsessive Corbuzier’s Diet? Haha. I think I’ve left that somewhere in Sidoarjo. Bahkan rasanya sarapan 10 Riyal ini belum cukup mengganti kalori yang hilang karena thawaf sunnah tadi pagi.

oh ya. FYI, friday morning thawaf is a highly recommended activity in Mecca. 

Beneran. Ada rasa puas yang berbeda di hati setelah melaksanakan thawaf di Jum’at pagi. Tapi, memang butuh persiapan fisik dan mental terlebih dulu, karena jika dibandingkan dengan hari lain, akan jauh lebih banyak saudara muslimin dan muslimah yang membanjiri Masjidil Haram di hari yang penuh keutamaan ini.

Pagi tadi, selepas shalat Subuh berjamaah, saya dan rombongan kecil saya bersiap menuju ke area thawaf. Rombongan kecil yang terdiri dari 1 ibu lansia, 3 ibu muda, dan 1 bapak ustadz yang berbaik hati menemani.

Saya tidak menyangka suasananya akan sepadat itu. Benar berbeda dengan hari-hari kemarin. Emm, pernah menonton konser musik Rock? ya, bisa dibayangkan manusia sejumlah itu bergerak bersama, perlahan melawan arah jarum jam.

“Aduh bagaimana nanti budhe ini kalo nggak kuat?”, rasa khawatir sempat melintasi hati, terpikirkan anggota rombongan saya yang sudah 70 tahun keatas. Tapi rasa itu hilang seketika melihat yang bersangkutan tersenyum mengamit lengan saya, “Ayo Mbak Dhira, pantang mundur.”, “Budhe, kuat?”, “InshaAllah.” Kilauan semangat di mata beliau menguatkan saya. Berbekal beberapa botol kecil air zamzam, tasbih, dan buku panduan doa, kita menyejajarkan diri dengan Hajar Aswad, mencium tangan kanan dan melambaikan ke Ka’bah, memulai thawaf dengan membaca “Bismillahi Allahu Akbar”.

Pundak berdempet pundak, umat islam dari berbagai suku bangsa berjalan mengelilingi Ka’bah pagi tadi. Laki-laki, perempuan, muda, tua, besar, kecil, sendirian, atau berbaris beregu, berjalan perlahan, maupun terburu-buru. Kami semua berada disini dengan tujuan yang sama, sebab yang sama, niat yang sama, bahkan melafadzkan bacaan yang sama.

“Ya Tuhan kami, berilah kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat dan lindungi kami dari siksa neraka”.

Dalam keadaan yang benar-benar padat itu, putaran demi putaran perlahan kami jalani. Keadaan selalu bertambah padat ketika mendekati Hajar Aswad, banyak muslimin yang ingin langsung menuju batu dari surga itu dengan memotong jalan dari lingkaran luar, sehingga seringkali rombongan kami hampir terputus karena desakan dari arah luar. Pak Ustadz yang berada paling depan dengan jelas berkata pada saya, “Jangan pake tenaga, dek. Pasrah. Diikuti aja. Jangan dilawan.”

Panik, terhimpit dari berbagai arah, tangan kiri saya refleks merangkul Budhe tadi. Saya hanya takut beliau pingsan kehabisan nafas. Perempuan sepuh pemberani ini tidak sedikitpun membunyikan keluhan, bibirnya tidak berhenti bertasbih, meskipun ada saat-saat dimana kaki ini rasanya tidak melangkah, desakan arus manusia yang begitu kuat menyeret kami yang tanpa perlawanan. SubhanAllah. Jujur, seumur hidup, saya belum pernah merasa se-tidak berdaya itu.

Tapi entah bagaimana caranya, rombongan kami yang terhitung mungil-mungil dibandingkan jamaah dari bangsa-bangsa lain, perlahan berjalan semakin dekat dengan Ka’bah. Lingkaran yang kami putari semakin mengecil, hingga akhirnya, untuk pertama kalinya saya dapat menyentuh Ka’bah.

Kedua tangan saya memegang kain hitam kiswah dengan erat, menyangga badan saya yang tiba-tiba lemas. Ah. Saya tidak bisa menggambarkan rasanya disini. Campur aduk. Haru, senang, sedih, malu, rindu, dan banyak lagi. “Ayo, dek. Lanjut. Gantian sama yang lain.”, ujar Pak Ustadz kepada saya yang lagi mewek.

Sekitar tiga putaran tersisa, dan rasanya semakin banyak orang yang menjalani thawaf pagi ini. Berulang kali terseret arus, saya hampir kehabisan nafas. Ketika saya menengadah untuk menarik nafas panjang, disitu saya melihat sesuatu yang akan sukar saya lupakan.

Puluhan burung dengan berbagai ukuran. Saya kurang tahu pasti jenisnya. Yang jelas, burung-burung itu tidak beranjak dari atas Masjidil Haram. Burung-burung kecil berkelompok terbang membentuk lingkaran yang lebih kecil. Burung-burung Elang dengan anggun dan tanpa mengepakkan sayap berulang kali terbang tenang berputar diatas Ka’bah. SubhanAllah. Mungkin, mereka sedang Thawaf bersama kami. Mungkin juga, itu para Malaikat. Tiba-tiba capek dan sesak yang saya rasakan sebelumnya hilang. Saya merasa sedang menjadi bagian dari sesuatu yang jauh lebih besar daripada diri saya. Saya sedang memutari Ka’bah bersama semua orang ini dan semua burung itu. Dan itu perasaan yang luar biasa.

Tidak ada lagi yang menjadi harapan saya saat itu. Ya Allah, saya ingin kembali. Ijinkan saya pulang ke RumahMu lagi…

Liz.

eh. emm. dimana aku?

Riuh suara serangga dan burung membangunkanku. Hemm. Aku bisa mencium wangi musim panas di udara. Kusingkirkan topi lebar yang menutupi wajahku. Oh. Ternyata aku tertidur di halaman belakang Royal Lodge. Rasanya barusan adalah tidur siang terpanjang. Aku bermimpi aneh tentang London puluhan tahun mendatang. London di tahun 2014. Haha.

Hai, kalian bisa panggil aku Liz. Cukup Liz saja. Karena aku ingin kalian mengenalku sebagai seorang teman. Yah, setidaknya karena aku tidak memiliki terlalu banyak teman. Umurku 20 tahun, dan selama satu dekade terakhir ini hidupku berubah total. Dulu, waktu senggang selalu kuhabiskan bermain di tepian sungai Thames bersama Margareth, adik kesayanganku. Tapi sejak Paman Edward menolak menjadi raja karena memilih untuk menikahi wanita amerika itu, Ayahku lah yang harus naik tahta. Kemudian tiba-tiba, sepertinya secara otomatis dan ter-koordinasi, semua orang memandangku dengan berbeda. Semuanya. Mereka tersenyum dengan lebih lebar, membungkuk dengan lebih dalam. Tingkah mereka seperti mengatakan “Lihat anak perempuan itu, dia adalah calon Ratu Inggris.”

Hufft. Menjadi Ratu bukan cita-citaku. Siapa yang bisa menikmati duduk dan terlihat anggun berjam-jam di hadapan para Perdana Menteri itu, atau membuat berbagai macam obrolan ringan dengan para utusan negara-negara lain di perjamuan minum teh? Meskipun aku menyukai bagian dimana aku harus travelling ke luar negeri, tapi secara garis besar, menurutku, menjadi seorang Ratu itu bukanlah perkerjaan yang menyenangkan.

Sebentar, kurasa aku mendengar Crawfie memanggil namaku. Emm, maaf, maksudku Miss Crawford. Wanita Skotlandia yang telah mengajariku dan adikku berbagai macam mata pelajaran sejak kami kecil.

“Putri Elizabeth! Tuan Putri, kami telah mencarimu kemana-mana..” Ujarnya sambil terengah. “Raja memanggilmu..”

Ayah? Bukankah siang ini beliau rapat dengan para penasehatnya? Hemm. Sebaiknya aku segera kesana.

“Terimakasih, Crawfie!”, seruku sambil berlalu setelah mengecup pipi wanita itu.

Tidak lama aku sudah sampai di depan ruang pertemuan. Belasan laki-laki setengah baya para Penasehat Kerajaan yang sedang duduk melingkar di sofa-sofa besar berdiri dan membungkuk untuk menyambutku, aku membalas mereka dengan senyuman tipis. Entah kenapa, aku dapat merasakan ketegangan tergambar diwajah mereka. Apa yang terjadi? Apa mereka telah melakukan kesalahan dan membuat Ayah marah? Atau aku yang telah melakukan kesalahan? Apa ya?

Otakku berputar keras mengingat apa kesalahan yang kuperbuat akhir-akhir ini sambil perlahan memutar knop pintu emas itu. Aku membungkuk memberi salam kepada Ayah, “Duduklah disini, Lilibet-ku sayang”, panggil Ayah. Aku menatapnya dengan cemberut, sudah lama aku meminta untuk tidak dipanggil dengan panggilan itu lagi, dan baru saat itu kusadari Ayah tidak sendirian di ruangan ini. Seorang laki-laki berperawakan tinggi berseragam British Army berdiri dan tersenyum menyambutku. “Philip!!!”, teriakku berlari memeluknya, dia membalas pelukanku dengan canggung.

Oh. Philip. Philip. Philip. Darimana aku harus mulai bercerita tentangnya? Tentang cinta pertamaku. Pertama kali ku mengenalnya adalah pada pernikahan Paman George-ku dan Bibi Marina, Putri dari kerajaan Yunani-Denmark, sepupu Philip. Aku masih ingat sekali senyuman lembut Philip waktu itu dengan mudah menenangkan Margareth kecil yang menangis karena terjatuh. Di mataku, Philip tidak seperti Pangeran lain yang kukenal. Pangeran-pangeran sombong dan sok pintar dengan tatapan mata yang tinggi. Kebalikannya, Philip sangat rendah hati dan apa adanya, cerita-cerita serunya mengenai pengalamannya belajar di Prancis, Jerman dan Skotlandia selalu sukses memukau aku dan Margareth.

Philip adalah cicit dari Ratu Victoria. Lahir di Yunani 5 tahun sebelum kelahiranku, namun malangnya, ketika dia masih bayi, keluarganya beserta bangsawan-bangsawan kerajaan lain diusir selama-lamanya dari Yunani oleh para demonstran revolusi paska Perang Greco-Turki. Semenjak itu Philip tinggal dan tumbuh di pinggiran kota Paris bersama orang tua dan empat kakak perempuannya.

“Seorang Pangeran Tanpa Kerajaan” itulah sebutan yang diberikan oleh para Penasehat Ayah. Lelaki-lelaki tua itu memang tidak pernah menyetujui hubunganku dengan Philip. Belum lagi Ibuku yang selalu tampak terganggu ketika melihatku bersama dia. Kuakui, Philip bukanlah lelaki dengan tutur kata paling lembut yang pernah aku temui, gelak tawanya yang keras dan selera humornya yang “unik” seringkali membuat telinga Ibuku gatal.

“Ehm. Elizabeth. Duduklah!”, seruan Ayah langsung membuatku melepaskan pelukanku pada Philip dan duduk di kursi terdekat. “Pemuda ini ingin berpamitan denganmu.” Bagai dapat membaca ekspresi kagetku, Philip langsung menerangkan dengan tenang, “Bukan untuk selamanya, Elizabeth. Aku ditugaskan ke Sisilia untuk beberapa saat, jika engkau berkenan, aku akan tetap berusaha menghubungimu. Karena hal yang ingin kusampaikan kepada Paduka Raja telah kusampaikan, sekarang aku akan mohon diri. Sampai bertemu lagi, Putri Elizabeth.” Setelah membungkuk pada Ayah, dan tersenyum padaku, laki-laki itu beranjak pergi. Meninggalkanku yang kebingungan.

“Ayah, ada apa ini?”, tanyaku pada Ayah yang diam termenung. “Lilibet sayang, aku tahu kau mengenal pemuda itu sejak kecil, tapi apakah kau benar-benar menyayanginya?”, pertanyaan Ayah semakin membuatku bingung. “Tentu saja, Ayah. Tentu saja. Bila suatu hari nanti aku akan menikah, aku akan menikah dengannya.”, jawabku cepat.

“Tapi kau akan menjadi Ratu dari kerajaan Inggris, apakah kau yakin pemuda seperti itu pantas mendampingimu? Lalu bagaimana dengan hubungannya dengan ipar-iparnya para bangsawan Nazi itu? Atau dengan Ibunya yang sekarang masuk Rumah Sakit Jiwa? Bagaimana bisa dia menjadi pendampingmu bila kau menjadi Ratu?,” Suara Ayah mulai meninggi. “Kau pantas untuk seorang Pangeran dengan darah biru murni, seorang Pangeran dengan kekayaan dan kerajaan yang kuat sehingga mampu melindungimu dan rakyatmu. Bukan pemuda seperti dia.”

“Tapi Ayah…”, “Dengarkan Lilibet, barusan pemuda itu datang meminta restu Ayah untuk menikahimu. Sayang sekali, ini bukanlah keputusan yang mudah bagi Ayah..”

Kalimat-kalimat yang kudengar barusan membuatku merasa senang, sedih dan marah disaat yang bersamaan. Tidak dapat kubayangkan menghabiskan sisa hidupku bersama lelaki selain Philip, menjalani kehidupan pernikahan tanpa cinta seperti bibi-bibiku. Aku menarik nafas panjang, mencoba menenangkan diri dan mengatur kata yang akan aku ucapkan.

“Ayah, untuk naik tahta dan mempertahankan kerajaan ini seorang diri adalah suatu beban besar yang sudah Ayah taruh dipundakku. Aku tidak pernah memilih untuk menjadi seorang Ratu, jadi setidaknya biarkan aku memilih siapa yang akan menjadi suamiku.”, aku berusaha menahan tangis . “Philip mungkin bukanlah lelaki yang sempurna di mata Ayah, tapi aku yakin dia adalah lelaki yang sempurna untukku.”

Tidak dapat membendung airmata, aku segera berlari meninggalkan Ayah. Mungkin aku tak sengaja menginjak ujung gaunku, yang kutahu detik berikutnya aku terjatuh dan membenturkan kepalaku ke lantai, semuanya tiba-tiba menjadi gelap, suara Ayah yang memanggil namaku terdengar semakin jauh.

Rasanya ratusan pound beban menggantungi kedua kelopak mataku. Sekuat tenaga aku mencoba untuk membukanya. Perlahan suasana disekitarku mulai terlihat. Serba putih. Disampingku dapat kulihat sesosok lelaki tua dengan wajah familiar memegang tangan kiriku. Sepertinya aku mengenalnya. Mengapa dia menangis?

“Elizabeth? ELIZABETH? dapatkah kamu mendengarku?? Elizabeth-sayang?” “William! Panggilkan dokter, nenekmu sudah tersadar!”

Itu Philip. Iya itu dia. Aku dapat mengenali senyumannya dibalik semua kerutan diwajahnya itu. “Tentu saja, Phil. Kenapa kamu begitu tua?”

“Apa? Apa yang kau bicarakan Liz? haha.. Aku senang kau kembali, aku pikir aku telah kehilanganmu” Ujarnya sambil berulang kali mencium tanganku. Tunggu, kenapa tanganku terlihat begitu kisut.

“Phil, dimana aku?”, “Engkau berada di ICU sayangku, tidakkah kau ingat terbentur pagar tanaman akhir pekan kemarin? apa yang kau rasakan sekarang? kau tidak apa-apa?”

Oh mungkin itu kenapa keningku terasa begitu sakit, tapi entah mengapa melihat lelaki ini disampingku sekarang membuatku merasa begitu damai. “Aku tidak apa-apa, Phil. Barusan aku bermimpi indah..”

 


Hai, Mr. Potato! Ini saya Nadhira.

Tulisan ini saya buat untuk mengikuti Blog Contest Ngemil Eksis Pergi ke Inggris yang diadakan oleh Mr. Potato periode 1-31 Mei 2014.

Syaratnya adalah untuk menulis entri blog bertema “Kenapa saya harus pergi ke Inggris?”

Emm.. Jika cerita pendek diatas belum dapat menjelaskannya, kenapa saya harus ke Inggris? tentu saja, karena saya ingin bertemu dengan Liz. Atau, setidaknya dapat mengintip sedikit kehidupan Beliau dari Buckingham Palace.

Kehidupan British Royal Family selalu menarik bagi saya. Dibalik kesempurnaan citra mereka, tersimpan kehidupan pribadi yang misterius dan dijaga dengan ketat. Saya selalu salut dengan bagaimana mereka dapat menjalani kehidupan sehari-hari dibalik pengamatan mikroskopik media seluruh dunia.

Membaca kisah-kisah mereka, selalu membuat saya ber-imajinasi, bagaimana bila suatu hari nanti saya menjadi salah satu dari British Royal Family? Bertemu dengan seorang pangeran dan tidak sengaja membuatnya jatuh hati? Hahaha. THAT’D BE AWESOME!

And I’ll never be royals (royals)
It don’t run in my blood
That kind of lux just ain’t for us, we crave a different kind of buzz
But let me be your ruler (ruler)
You can call me queen bee
And baby I’ll rule, I’ll rule, I’ll rule, I’ll rule
(MR. POTATO PLEASE) Let me live that fantasy…

Nyemil sebelum snorkling. On my way to Kodingarengkeke, desserted island on South Sulawesi.

Nyemil dulu sebelum snorkling. On my way to Kodingarengkeke, desserted island on South Sulawesi.

 

Eyang.

Pagi ini..

Beliau sedang duduk disana.

Meja makan, yang meja kerja, yang meja pertemuan. Meja segiempat beralas sulaman..

Tawar putih tanpa pinggiran. ditemani keju serta parutan. menyiapkan sarapan adalah sebuah hiburan..

Hemm. Eyangku, apa kabar hari ini?

.

Siang tadi..

Beliau sedang duduk disana.

Meja rias dengan segala pernik dan foto-foto lama. Foto beliau dan suami ketika muda. Berjejer botol parfum beraneka ukuran dan warna..

Dengan kerudung dan abaya yang selalu padan, kuamati beliau yang sedang berdandan..

ah. cantiknya. Eyang, apa acara hari ini?

.

Sore itu..

Beliau sedang duduk disana.

Kursi dari besi dan karat di depan rumahnya. tua, namun tidak setua dirinya..

sibuk menikmati senja dari teras diujung bukit. selalu setia ditemani segelas teh hangat dan biskuit..

sesekali memantau obrolan keluarga lewat telepon genggam, membubuhkan komentar lucu di foto terbaru sang cicit..

Duh Gusti, berilah Eyang selalu berbahagia, jauhkan dari segala sakit..

.

Malam telah tiba..

Beliau sedang duduk disana.

dibawah remang lampu baca. beliau duduk menundukkan muka. mendoakan kami semua anak cucunya..

semua. hapal diluar kepala. nama panjang lengkap dengan Bin dan Binti nya..

ujian akhir sekolah? penyusunan skripsi ? wawancara kerja? putus cinta? semuanya. semua urusan keluarga secara terperinci dipanjatkan ke Yang Maha Kuasa.

Segala puji bagiMu Tuhan Semesta Alam,

IMG_0100

Selamat Ulang Tahun, Eyang.

🙂

 

 

Parade Budaya dan Bunga Surabaya 2014

Mendung gelap yang menggelayut di atas pusat kota Surabaya sore itu, Minggu (4/5/2014), tidak mengurungkan niat tiga orang wanita untuk berlari-lari kecil menyeberangi Jalan Basuki Rahmat. Hujan rintik-rintik itu seketika menjadi jauh lebih deras, ketika rombongan tiga wanita itu, Ibuk, Mbak Nadia dan saya, sampai di depan Hotel Citihub untuk menonton Parade Budaya dan Bunga 2014.

Rupanya determinasi Ibuk untuk menonton pawai meskipun cuaca tidak mendukung juga dimiliki oleh ratusan warga Surabaya lainnya. Suasana waktu itu agak absurd menurut saya, ratusan orang berjejer untuk menunggu pawai dengan senyum yang sedikit dipaksakan, kegirangan tapi kehujanan. “Lhoalah, udan rek“, ujar ibu disamping saya sambil memakaikan tas plastik ke kepalanya dan anak balita nya. Iya, kebanyakan dari kami tidak memiliki kenikmatan berteduh di bawah payung. Helm, jas hujan, bahkan koran dijadikan pelindung dari hujan sore itu.

Pawai yang dinantikan datang, kendaraan-kendaraan pawai yang megah dan bertabur bunga itu kebanyakan ditutup oleh terpal agar alat-alat elektronik di dalamnya tidak rusak, para penari yang sudah berdandan cantik itu berjalan beriringan sambil menggunakan payung, gitapati dengan hak tinggi dan baju gemerlap itupun memandu orkes barisan dibelakangnya dengan tertunduk. But, the show must go on.

Setelah menemukan sapu tangan untuk menutupi bagian atas lensa fix Canon 50 mm f/1.8 yang saya bawa, saya buru-buru memburu foto, berikut suasana Pawai Budaya Dan Bunga Surabaya 2014 yang tertangkap oleh kamera saya..

Behind The Scene.

Behind The Scene.

Please Spread My Wings.

Please Spread My Wings.

The Anticipation.

The Anticipation.

Happy Birthday, Surabaya.

Happy Birthday, My City.

Udan, Rek.

Udan, Rek.

Cuma Senyum yang Belum Luntur.

Senyum yang Belum Luntur.

Please, don't rain on my parade..

Please, don’t rain on my parade..

The Thirsty Eagle.

The Thirsty Eagle.

The Face of Parade.

The Face of Parade.

The Blower Father.

The Blower Father.

The Dancing Daughters.

The Dancing Daughters.

The Fishermen.

The Fishermen.

The Wifes.

The Wifes.

The Kingly Smile.

The Kingly Smile.

The Queen.

The Queen.

The Drag Queen.

The Drag Queen.

The Other Drag Queen.

The Other Drag Queen.

The Amused Crowd.

The Amused Crowd.

The Dancer.

The Dancer.

The Flirty Monkey.

The Flirty Monkey.

The Ferocious Lion.

The Ferocious Lion.

The Strength.

The Strength.

Penonton Setia.

The Loyal Audience,

10 Cara Menikmati Pawai Budaya

Banyak cara dapat dilakukan untuk melestarikan budaya suatu daerah, salah satunya dengan mengadakan Pawai Budaya tahunan. Seperti yang diselenggarakan oleh Dinas Pemuda, Olahraga, Kebudayaan dan Pariwisata (Disporabudpar) Kabupaten Sidoarjo untuk memperingati hari ulang tahun daerahnya, Februari lalu, yang tertangkap oleh kamera saya.

Tapi, bagaimana sebenarnya cara kita menikmati Pawai Budaya itu? Nah. Here is 10 ways to enjoy a cultural parade. My version :

1. Enjoy the opening ceremony. Upacara pembukaan suatu pawai biasanya dihiasi dengan para pejabat yang necis dan datang terlambat, pidato pembukaan, pemukulan gong, dll. Tapi yang paling worth it untuk dinanti adalah berbagai macam pertunjukkan kebudayaan yang tampil setelah prosesi-prosesi barusan. Mulai dari tari tradisional, reog, hingga marching band yang memainkan lagu pembukaan.

Tips : Early bird gets the worm. Early spectator gets the best view! Lebih baik berangkat 1-2 jam sebelum parade dimulai, selain untuk menghindari kemacetan, juga untuk memastikan kita dapat spot yang bagus untuk menikmati upacara pembukaan.

5

Pembuka Pawai

2. Join the parade. Bila cuaca dan suasana mendukung, mengekor iring-iringan pawai budaya adalah pilihan yang seru. Baik dengan berjalan kaki bersama para peserta, atau dengan sepeda motor, kita bisa menikmati suasana pawai dari mata para peserta.

Tips : Comfort shoes and outfit is the key. Mari bersimpati dan membiarkan pakaian berlapis, aksesoris kepala, hak tinggi, dan make-up tebal itu dipakai oleh para peserta saja.

3

Simpati

3. Sit back and relax. Tidak jarang pihak penyelenggara pawai menyediakan tribun untuk para penonton. Selain aman dan tidak menguras tenaga, keuntungan lain adalah terkadang para peserta pawai melakukan atraksi spesial ketika melewati tribun penonton.

Tips : Geared yourself up with portable fan and umbrella. Suhu negara tropis yang panas dan lembab serta sengatan matahari dapat secara signifikan mengurangi kenyamanan menonton pawai.

4

Detailed Art.

4. Stand up with the crowd. Pilih trotoar paling nyaman, dan nikmati suasana. Simple.

Tips : Park your vehicle nicely. Bisa diparkir di lapangan parkir terdekat, atau sedimikian rupa sehingga tidak menghalangi jalannya parade. And pay attention to road sign. adakah tanda S atau P dicoret?

222

Jaranmu inggirno sik.

5. Take different point of view, take pedestrian bridgeNah, this is my personal favorite. Dari atas jembatan penyeberangan, kita bisa melihat suasana pawai secara keseluruhan.

Tips : Keep your personal belongings safe. Saya pribadi mengulang frase ini dalam hati : ” Dompet, Hape, Kamera”, ketika bepergian ke tempat yang rawan pencopetan untuk memastikan barang-barang tersebut masih tersimpan aman di dalam tas. Please don’t put anything on your pocket, kecuali beberapa lembar uang ribuan untuk membeli minuman dingin. Ingat Pesan Bang Napi: “Kejahatan bisa terjadi bukan saja karena ada niat pelakunya , tapi juga karena ada kesempatan. Waspadalah, waspadalah!”

22

Dijaga Bang Napi.

6. Take some epic selfies. Foto bersama para peserta dengan berbagai konstum seru dapat menjadi kenang-kenangan tersendiri. Ah. Yuk minta duduk diatas kepala reog!

Tips : Take selfies BEFORE the parade starts, ketika make-up dan mood para peserta masih terjaga dengan baik.

6

Senyum tipis, masih manis.

7. Go people watching, you people watcher! Beberapa mungkin belum familiar dengan istilah “People Watching”, tapi saya yakin semua sudah pernah melakukan sebelumnya. Menurut wikipediaPeople watching or crowd watching is the act of observing people and their interactions, usually without their knowledge. Duduk santai dan menikmati perilaku orang-orang disekitar itu menyenangkan bagi saya. Dari situ saya menebak-nebak latar belakang mereka, hubungan yang mereka miliki dengan orang disampingnya dan lain-lain. Beberapa berakhir jadi inspirasi dari cerita pendek yang saya buat.

Tips : Eavesdrooping is not necessary. Cukuplah Bu Ani yang disadap pembicaraannya, tidak perlu kita ikut menguping pembicaraan orang tak dikenal.

1

I wonder, what are you wondering?

8. Enjoy the culinary experiences. Ada gula, pasti ada semut. Jika ada crowd, pasti ada penjual makanan disekitarnya. Hemm. Apa yang lebih enak dari Rujak Manis setelah panas-panas menonton pawai?

Tips : Sanitize your hands, please. Oke, tips ini datang dari saya, seorang apoteker yang beberapa kali terserang Demam Typhoid. Believe me, I‘ve learned to sanitize my hands the hard way. Mungkin karena tangan saya terlihat bersih, sehingga menepukkan tangan satu dua kali ke bagian belakang celana jeans sambil membaca Basmalah saya rasa sudah cukup untuk mulai menikmati hidangan. Tapi saya salah, begitu banyak bakteri berdiam di tangan kita, dari uang lembaran, dari stang sepeda motor, dari bersalaman, dari mana saja, karena itu saya sarankan untuk membawa hand sanitizer yang dapat dibeli di convenient store terdekat. Berikut cara pakainya yang benar menurut World Health Organization : (lakukan semua langkahnya dalam waktu 15 detik ya, karena lebih dari itu alkoholnya akan menguap.)

Ingin sehat dan selamat, cuci tangan. Telungkupkan dua tangan bergantian. Megatup dan mengunci, lalu putar ibu jari. terakhir gosok-gosok ujung jari. *ini ada lagunya

9. Let’s hunt some photoBerburu foto adalah cara yang mengasyikkan untuk menikmati pawai budaya suatu daerah. Foto-foto diatas ditangkap oleh kamera amatir saya Februari 2014 lalu di Alun-alun Sidoarjo.

Begitu banyak obyek dan angle menarik yang bisa ditangkap oleh kamera, contohnya :

-suasana pawai (letak penonton terhadap iring-iringan pawai, cuaca ketika pawai berlangsung),
-ekspresi peserta pawai (ekspresi senang, atau bahkan ekspresi bosan menunggu mulainya pawai),
-persiapan peserta (misal ibu yang mengahpus keringat dari putri cantiknya yang sudah full make-up, atau guru yang sedang briefing regu drumbandnya),
-detil keunikan kostum (kostum secara keseluruhan, atau fokus ke pernik kecil yang menarik perhatian),
-kendaraan pawai,
-para pejabat pembuka pawai,
-gerakan dinamis gitapati, dll

Oh, and did I mentioned that sometimes carrying camera around and looking sharp when taking pictures give us some advantages? Keuntungan kelihatan seperti wartawan antara lain : dipersilahkan maju kedepan untuk dapat spot yang oke, para peserta willingly pose and smile for us, diajak kenalan sama para wartawan lain.

Tips : Get your weapons ready, hunters! Baterai kamera yang sudah fully charged, memori kamera yang memadai, tripod, dll.

12

A camera is a save button for minds eye.

10. Just enjoy the parade with loved ones. Lebih baik rempong bersama-sama, daripada senang-senang tapi sendiri. Ya kan? Ajak orang tua, saudara, tetangga, sahabat, atau gebetan masing-masing untuk meng-apresiasi budaya sendiri. Kalau bukan kita, siapa lagi?

11

And when it rains on your parade, look up rather than down. Without the rain, there would be no rainbow. ~Gilbert K. Chesterton

Meja Segilima : Pemilihan Umum

Sore ini cafe ku ramai sekali. Para pemain golf papan atas Republik-ku sedang mengadakan pertandingan persahabatan di lapangan sebelah, sedang aku disini sibuk mencatat pesanan para perempuan muda istri para golfer itu.

Tidak mudah memang menjawab semua pertanyaan mereka. “Coffee ini ada cafein-nya?” Iya, Bu. “Latte ini berapa kalorinya?” Belum saya hitung, Bu. “Saya hanya minum skimmed milk. Ini susu apa?” Sapi, Bu.

Tapi yang kusuka dari kehebohan mereka adalah mereka terlihat cantik dengan semua pernak-pernik itu. Anjing Poodle di tangan kiri, telepon genggam canggih di tangan kanan, kemudian selang beberapa saat mengambil potret diri yang sambil menyeruput kopi atau sambil memandang jauh ke lapangan golf. Ah. Moleknya.

Tiba-tiba anjing kecil putih itu menggeram. Sontak pemiliknya kaget. Sesuatu telah membuat anjing itu gusar. Kulihat seorang lelaki baru saja memasuki cafe ku. Oh, pantas saja. Aki datang.

Aki terlihat lebih necis hari ini. Jas beludru coklat muda berpadu dengan kaos hitam tampa kerah. Siapa yang menyangka dukun ini bisa begitu stylish?

Seperti biasa, dia mengambil tempat di meja segilima di ujung ruangan. Menunggu kroni-kroni nya mengisi sisa empat kursi yang kosong. Sebentar. Dia melambai padaku.

1 Skinny Cinnamon Dolce Latte. 1 Americano. 1 Espresso Machiato. Semua untuk 15 menit lagi. Dan 1 Sumatra untuknya. Kemudian dia menyodorkan kartu kredit emas dengan limit selangit-nya kepadaku.

Aku bertepuk-tangan dalam hati. Dia bahkan sudah tahu apa yang akan dipesan oleh yang lain dan kapan mereka akan datang. Tapi kenapa hanya 4 kopi ya?

Tepat 15 menit kemudian Pak Buaya, Engkong, dan wanita berkerudung pujaan ku datang bersamaan. Oh. Hari ini pria dengan logat batak itu tidak datang. Hemm aneh sekali. Jarang mereka memulai rapat kecil mereka jika belum lengkap lima kursi di meja itu terisi. Mungkin ada sesuatu yang rumit akan dibahas kali ini.

Aku penasaran apa yang mereka perbincangkan. Lebih baik segera kuantarkan kopi-kopi yang sudah dipesankan Aki tadi.

Pembicaraan serius mereka terhenti ketika aku mendekat untuk menyajikan kopi di meja segilima itu. Sekilas mimik kaget kulihat di wajah mereka, seakan menanyakan bagaimana kutahu apa yang ingin mereka pesan. Aku hanya tersenyum dan melirik si Aki. Dia tersenyum balik.

Aku kembali ke belakang counter dan kembali menerka-nerka lanjutan pembicaraan mereka. Terkadang suara mereka meninggi. Tapi apa yang mereka bicarakan aku tetap tak bisa mengerti.

Mereka membicarakan angka-angka. Apakah itu koordinat? jumlah suara? nomor partai? Aha! Ini pasti ada hubungannya dengan Pemilihan Umum esok hari. Aku semakin bersemangat mengamati percakapan ini.

Diantara 5 kepala yang biasanya berhadap-hadapan di meja segilima, Pak Buaya yang punya andil dalam ketatanegaraan. Kalian lihat itu yang diacung-acungkan tangan kanannya. Itu termometer suhu politik Republik-ku. Kurasa Pak Buaya lebih sibuk akhir-akhir ini. Dia nampak tidak serapi biasanya, kaos berkerah bergambar buaya favoritnya itu kisut disana-sini. Yah. Bagaimanapun tidak mudah mengatur belasan partai di Republik.

Aku masih membantu mengambil gambar para istri pemain golf ini, ketika kulihat Pak Buaya bergegas keluar cafe dengan bersungut-sungut. Sejurus kemudian tiga orang yang tesisa di Meja Segilima itu menyusulnya.

Apa yang barusan terjadi? Ku bertanya pada bibir dan telinga cangkir mereka.

Tidak seperti biasa, selisih pendapat terjadi diantara mereka. Engkong mengajukan nama yang dapat memperbaiki Republik dari segi ekonomi. Namun, nama tersebut dinilai memiliki aura yang kurang baik menurut Aki. Sang dukun memiliki penerawangan tersediri terhadap siapa yang akan membawa Republik ini menjadi sebuah negara maju. Kemudian nama-nama tersebut disanggah habis-habisan oleh wanita berhijab sang Ratu Media, menurutnya akan susah mengembalikan citra politikus-politikus tadi dimata masyarakat, masa lalunya dinilai terlalu kelam.

Sebenarnya, semua keputusan mengenai politik akan dikembalikan lagi ke Pak Buaya, namun dia sendiri juga bimbang. Padahal jumlah suara yang diinginkan tinggal dipesan, tapi permasalahannya kandidat yang mumpuni tidak dia temukan. Agaknya dia mulai frustasi memegang kemudi politik Republik ini.

Akhirnya setelah perdebatan intens, ditemukanlah suatu titik tengah. Sebuah nama yang dapat memajukan perekonomian Republik, disukai masyarakat, dan memiliki kharisma. Tapi memang perlu banyak usaha untuk memenangkannya, karena itu mereka berempat segera membagi tugas dan melaksanakan bagian masing-masing.

Oh. Susah juga ya. Ngomong-ngomong besok aku nyoblos siapa ya.. Hemm. Apa ini? Secarik kertas tipis terjatuh dibawah meja segilima. Ada sebuah nama tertulis disana. Nah! Mungkin ini yang akan memenangkan pemilihan umum besok!

.

Hah. Tapi mana mungkin. Presiden ini sudah mati. Apa maksud ditulisnya nama ini? Apa antek beliau yang akan jadi Presiden? Atau seorang yang diam-diam berhubungan dengan beliau? Atau jangan-jangan sebenarnya beliau belum mati? Pemikiranku sudah kemana-mana. Aku tahu tidak ada yang tidak mungkin bila berurusan dengan orang-orang di Meja Segilima.

Ah. tunggu ada tulisan kecil dibalik kertas ini.

Ini namaku. Kenapa mereka mencoblos namaku?

Seketika kurasakan perih menusuk tengkukku. Seketika semua gelap. Hal terakhir yang kudengar adalah dentang cangkir yang kupegang jatuh ke lantai, dan sebuah bisikan pelan,

“Kamu sudah tahu terlalu banyak.”

Raudhah : A Piece of Heaven as A Birthday Gift

raudhah

Suasana Masjid Nabawi Dini Hari

Langit perlahan terang dari sisi kiri Masjid Nabawi, ketika kebab ayam hangat di tangan kanan saya tandas habis. Perut ini terasa lapar setelah semalaman bergadang menanti kesempatan berdoa di Raudhah. Taman surga yang terletak diantara makam Rasulullah dan mimbar beliau itu diharapkan dan dinanti oleh beratus muslimah malam tadi.

Kalau tidak salah, sekitar jam 11 malam saya berangkat dari hotel menuju masjid, dan langsung masuk ke dalam antrian. Antrian ini dibagi berdasarkan suku bangsa. “Yalla! Ibu! Ibu! dhudhuk, ibu!”, seruan tegas para askar penjaga masjid Nabawi dengan burqa hitam menggiring saya langsung ke kubu bangsa Melayu. Untuk para muslimah, tempat yang mustajab untuk memanjatkan doa ini dibuka hanya pada jam-jam tertentu, karena tempatnya berada di shaf laki-laki, sehingga harus dijajarkan dinding temporer dari plastik putih tidak tembus pandang dahulu sebelum jamaah wanita dibolehkan masuk.

Bukannya sengaja saya datang larut malam, sebenarnya karena sebelumnya saya tertidur ba’da sholat ashar, terbangun karena perut lapar dan hati yang kaget karena terlewat sholat maghrib. Sempat merasa kecewa, kenapa tidak terbangun, kenapa tidak ada yang membangunkan, kenapa tidak memasang alarm?. Tapi memang semua ada hikmahnya, tapi itu nanti akan saya ceritakan lagi.

Berbagai shalat sunnah saya dirikan selama mengantri untuk masuk ke Raudha, tahiyatul wudhu, tahiyatul masjid, hajat, taubat, tahajud, dan lain-lain, sebisa saya tidak membuang waktu selama berada di tempat penuh keutamaan ini. Di tengah dzikir saya setelah tahajud, tanpa tanda dan bunyi apapun, payung-payung di masjid Sang Nabi ini membuka dengan perlahan. Saya yang saat itu tepat berada dibawah salah satu payungnya hanya bisa mendongak dan terpana. Begitu lembut. Begitu anggun. Seperti terbuka kembalinya daun Putri Malu ketika sudah tidak ada lagi mata yang melirik. Breathtaking. Tasbih saya pun kontan terhenti di “Subhanallah, Subhanallah, Subhanallah….” yang beberapa menit kemudian berubah menjadi “Astaghfirullah, Astaghfirullah, Astaghfirullah!” karena saya lupa tidak merekam dengan kamera smartphone yang saya bawa. Ah, tapi ya sudahlah insyaAllah otak dan hati saya sudah puas mengabadikan momen indah barusan.

“Ibu!, Ibu!, Jalan! Yalla!”. Sudah saatnya saya masuk. Bingung karena terdesak dari kanan, kiri, dan belakang. Melihat kebawah, karpet yang saya injak tidak lagi berwarna merah, tapi hijau. Ya Allah saya sudah sampai Taman Surga-Mu. Kaki saya membawa saya menuju sisi kiri Raudhah, mendekati dinding hijau. Dibalik dinding hijau itu berbaringlah Nabi Muhammad SAW, serta dua sahabat beliau Khalifah Abu Bakar As-Siddiq r.a dan Khalifah Umar al-Khattab r.a. “Dheg!” Fakta itu menepuk hati saya dengan keras.

Pernah dengar shalawat yang dinyanyikan dalam berbagai bahasa itu? judulnya Neo Shalawat. Saya baru googling. Sering sekali saya memutarnya dalam hati setiap sedang bengong, atau dalam perjalanan pulang dari kantor. Liriknya..

Allahuma shali wassallim ala
Sayidina wa Maulana Muhammad
Adadama bi’iImillahi shalatan
Da’imatan bidawami mulkilahi

Ya Allah curahkan rahmat dan keselamatan
Bagi Nabi junjungan kami Muhammad
Selamanya di dalam keabadian
Kekekalan kerajaanmu ya Allah

Ya Allah Paringi rahmat lan keslametan
Kagem Nabi junjungan kulo Muhammad
Salaminipun wonten ing keselametan
Salaminipun diwelasi Gusti Allah

“Tess..” Tiba-tiba hangat air mata mengalir ke pipi saya. Terus. Tidak berhenti. Puja dan puji yang saya panjatkan, shalawat yang selalu saya senandungkan, semua untuk Beliau, dan Beliau ada disini. Ber-abad jarak memang, tapi entah bagaimana terasa begitu dekat. Begitu rindu..

السلام عليك يا رسول الله

Cepat saya berusaha menenangkan diri. Mengucapkan niat dalam hati, dan mendirikan shalat sunnah mutlaq. Dua rakaat. Sempat teringat yang ustadzah muttawif katakan pada saya tadi pagi, untuk perlahan dan sedikit saja melirik ke pundak kanan dan kiri ketika mengakhiri shalat, agar tidak diusir askar dan kita dapat mendirikan shalat sunnah lagi. Dua rakaat lagi. Kemudian dua rakaat lagi..

Saya sudah bersiap untuk digiring keluar oleh askar, tapi tidak ada seruan apa-apa. Sedikit saya bergeser kebalik tiang masjid, terasa sedikit lebih longgar, disana saya mengeluarkan notebook yang saya bawa dari Tanah Air, berisi lengkap catatan doa yang dititipkan saudara, kerabat, dan kawan. Ingin sarjana, ingin terbebas dari penyakit, ingin momongan, ingin jadi pegawai negeri, ingin dapat jodoh. Alhamdulillah semua doa sudah saya panjatkan. Amanah sudah dilaksanakan.

Sisi kanan dan kiri saya terasa lebih longgar, dihadapan saya terdapat cukup tempat untuk bersujud. Saya dirikan shalat lagi, kali ini shalat taubat. Hati terasa diremas ketika saya larut ke dalamnya sujud terakhir shalat ini. Malu dan sedih. Teringat semua dosa. Air mata kembali berlinang, kali ini lebih deras.

“Khalas?”, ujar wanita berperawakan tinggi dari belakang saya, menanyakan apakah saya sudah selesai. Saya menghapus air mata dan tersenyum, kemudian beringsut ke samping memberikan wanita cantik itu tempat untuk shalat.

Saya menoleh ke kanan dan ke kiri, merasa agak heran kenapa belum diusir keluar untuk bergantian dengan jamaah lain yang sudah mengantri. Kemudian, di barisan depan saya melihat sekumpulan wanita dengan burqa hitam sedang mengobrol, beberapa mendirikan shalat. Tempat disekeliling saya pun terasa jauh lebih longgar. Ya Allah, ternyata saya adalah rombongan jamaah terakhir, tidak ada yang mengantri lagi diluar raudhah, para askar pun sudah beristirahat. Saya melirik jam, Ya Allah ini sudah lewat pukul 3 malam, berarti saya sudah bertambah umur.

Iya, hari ini adalah hari ulang tahun saya. Sudah 23 tahun. “Hemm, sudah 23 tahun ya?”, tiba-tiba hati saya bertanya kepada hati saya sendiri. “Sudah ngapain aja kamu?”, saya bingung menjawabnya. “Sudah bahagiain orang tuamu?”, kemudian saya hanya bisa diam dan menangis. Mata saya terpejam, namun tampak jelas wajah bapak ibuk yang sumringah ketika berpose di foto wisuda saya. Ya Allah..bahagiakanlah mereka, Ya Allah..ampunilah dosa mereka, Ya Allah..sayangilah mereka lebih lebih lebih dari bagaimana mereka menyayangi saya..

Setelah mengucapkan salam kepada Rasul, perlahan saya berjalan keluar dari Raudha. Payung-payung masjid yang tadi tertutup kini sudah terbuka kembali, menguakkan langit Madinah yang cerah tak berawan. Subhanallah, malam ini bulan purnama. Saya sempat panjatkan doa yang ibuk ajarkan sejak kecil setiap melihat bulan purnama. ” Ya Allah, berilah saya kecantikan seperti kecantikan bulan purnama-Mu Ya Allah, begitu terang namun tidak menyilaukan”.

Karena sudah dekat waktu subuh, saya memutuskan untuk tidak kembali ke hotel. Di sekitar saya para khadim (pembersih) mulai sibuk menaikkan tangga dan mem-Brasso lapisan emas di tiang-tiang masjid, menaikkan galon-galon air zam-zam yang kosong kedalam kendaraan pengangkut untuk diisi ulang. Sedangkan saya, mencari tempat yang nyaman untuk bersandar, menyelimutkan pashmina tebal ke punggung, dan menyibukkan diri membaca Al-Quran diterangi cahaya bulan langit Madinah.

.

.

Pagi ini saya duduk sendiri di sebuah foodcourt dekat Masjid Nabawi. Sibuk menambahkan gula ke teh susu hangat yang barusan saya beli. Saya belum kepingin masuk kamar. Saya lebih tertarik melihat segerombolan burung-burung dara yang lalu-lalang kesana kemari, muslimin dan muslimah dengan segala kesibukannya di pagi hari.

Tidak ada rasa kantuk, meski sudah terjaga dari dini hari. Oh, mungkin ini hikmahnya saya tertidur kemarin sore.. agar saya bisa menikmati nikmatnya menghabiskan malam di Masjid Nabawi..

Ya Allah, terimakasih kadonya.. 🙂

Sesungguhnya Allah dan malaikat-malaikat-Nya bershalawat untuk Nabi. Hai orang-orang yang beriman, bershalawatlah kamu untuk Nabi dan ucapkanlah salam penghormatan kepadanya. (QS : Al-Ahzab Ayat : 56)

Sekarang Semarang : another impulsive trip.

Dek, yuk sekarang ke Semarang. Kamu yang nyetir, berani ya! ~Ibu, Liburan Natal 2013


Hah?

saya yang baru pulang ngantor naruh tas kerja sambil melongo.

Sekarang? “Iya dek, itu udah Ibu packing kopernya.”

Nyetir? “Hehe. Kamu berani ya!” (kalimat berikut berakhiran tanda seru ya anak-anak, bukan tanda tanya. Jadi, ini adalah contoh kalimat perintah dengan susunan S-P-O…)

Widih.

Naga-naganya kemampuan nyetir saya yang pernah satu tempat les mengemudi sama Paul Walker bakal diuji ulang sama emak, Sang Gymkhana. Aduh. Tarik nafas bentar, kemudian seperti yang sudah-sudah, gak pake perhitungan weton dan perhitungan tanggal baik, saya langsung bilang : BERANGKAT BUK!

dan berangkatlah kita ke keras haribaan Pantura.

tertanggal 24 Desember 2013, menjelang tengah malam, Christmas Night kali ini dihabiskan di dalam mobil oleh ibuk saya, kakak saya, dan juara bertahan lomba mirip Megan Fox yang sedang anggun bertengger di balik kemudi. Kita bertiga termangu terjebak dibalik pantat truk trailer, somewhere in the middle of Tuban.

M a c e t p a r a h.

Parah. pake banget, pake supir yang pada turun ngeluarin ember, buka baju trus nari india nyuci kaca truk. segitu macetnya! Setelah dua jam berselang, barulah kita mulai pamer paha diranjang. Padat Merayap tanPa Harapan Di antrian panJang. hus.

Udah jenuh aku mendengar manisnya kata cinta lebih baik sendiri nyetir, mata udah berat, dan saya akhirnya menyerah. Kakak, yang seharian tadi habis capek muter-muter Surabaya nganterin sang kekasih, akhirnya uda dapet cukup istirahat dan cukup fit buat gantiin.

whoosaah. masih 200-an kilometer lagi, dan waktu udah menunjukkan pukul 1 malam, dan saya bertanggung jawab sebagai navigator-obat antingantuk-tempat curhat selama total 10 jam kakak nyetir. Bukannya sekali, sering ku mencoba tapi ku gagal lagi lobang dan gelombang di aspal Pantura mengagetkan kita dan memaksa mata ini lebih awas dari sebelumnya.

adzan subuh berkumandang tepat saat mulai memasuki Kabupaten Pati, kemudian berhentilah para Kafillah dalam perjalanan ke barat ini di Masjid Agung Pati. Masjid Baitunnur.

Camera 360

Camera 360

Sudah banyak jemaah yang datang. Bapak parkir juga sudah ganteng bertugas.

baru menginjakkan kaki melewati pagar masjid, saya langsung kena culture shock. yup. My normal dose of culture shock. Setiap ke Jawa Tengah, pasti ngeVetyVerain ini. *eh. ngalamin ding. Alam, Alam ya?. bukan kakaknya. Duh.

melihat saya datang, bapak penjaga masjid langsung berdiri dari bangku kayunya, mengucap salam dan tersenyum manis, semanis padanan sarung dan baju kokonya, lalu tanpa ditanya menunjukkan arah tempat wudhu wanita dengan ibu jari, tentunya dalam bentukan bahasa Jawa yang paling halus, Krama Inggil. Dan saya, peranakan Jawa-Madura yang tidak cakap dalam bercakap Jawa ataupun Madura, dan yang masih setengah ngantuk-suntuk gara-gara perjalanan panjang barusan, hanya bisa melongo sebentar.

Butuh sepersekian detik buat otak ini mencerna gestur ramah yang overwhelming ini, sebuah gestur yang jarang sekali saya dapat di Jawa Timur. Dan respon yang keluar hanya “Hah, Oh, emm nggih pak, iya terimakasih” ditambah sedikit senyum canggung dan anggukkan kepala. Oh iyaya beneran nih udah di Jawa tengah. Ujar saya dalam hati.

and now don’t get me started with the mosque. This mosque is gr!eat Arsitekturnya, kenyamanannya, kebersihannya, suasanannya, semuanya. Entah kenapa masjid ini membuat saya merasa arrivedRasa santai dan lega yang dirasa ketika sudah sampai tujuan, saya rasakan disini, padahal tujuan saya yang sebenarnya masih berjarak beberapa jam lagi. Ah. Segala Puji BagiNya.

Camera 360

Kempling. *tempat wudhunya!

Camera 360

Sayap kiri Masjid Baitunnur yang terhubung dengan tempat wudhu wanita.

Camera 360

Suasana dalam Masjid Baitunnur yang nyaman ber-penyejuk ruangan.

Camera 360

Sang Mutakif (orang yang ber-Itikkaf)

Sehabis sholat subuh berjamaah, berlanjutlah perjalanan kami ke barat  mencari kitab suci. Sekitar pukul 7 pagi kami tiba di Kota Semarang. Venice van JavaBeuh. Keren kan julukannya? kenapa dibilang mirip kota Venesia? Bukan, bukan karena rakyatnya mancung dan pinter main bola kaya rakyat Itali. Bukan, bukan karena tukang becaknya sekarang genjot Gondola. Bukan deh bukan, pokoknya bukan. duh emang istri saya sekarang sudah bukan berapa sih, Dok? *Nah. itu BUKAAN Dir. istri sapa mau lahiran?. 

Semarang itu Venisia nya Jawa karena..

132031706410_0000149 132031723910_0000149 OLYMPUS DIGITAL CAMERA

(foto dari sini dan sinu)

karena Rob. iya, bener banget. Rob Kardashian. *tidak! eh, Robert Pattinson. *tidak! tidak! bisa babi! bisa babi!

Rob adalah banjir yang diakibatkan oleh air laut yang pasang yang menggenangi daratan, merupakan permasalahan yang terjadi di daerah yang lebih rendah dari muka air laut. (wikipedia).

Semarang kaline banjir, jok sumelang rak dipikir.. inget lagu yang sering dinyanyiin Tia AFI dulu?

Nah, tapi selama belasan lebaran saya mudik ke semarang, belum pernah tuh terganggu dengan Rob ini, mungkin karena jaman saya sudah dibangun reservoir atau penampungan air besar di depan stasiun. (emm ukuran kolam penampungan air nya besar.red).

Beside that, Semarang is an AWESOME city. Campuran yang pas antar kota metropolitan dan kota budaya. Dan yang paling saya suka adalah : SEMARANG PEOPLE LOVE TO EAT. yes. they do. kuliner disini banyak banget. tidak pandang tempat, di trotoar pinggir jalan, di rooftop hotel, di cafe di atas bukit, di mana aja, asalkan masakannya enak. pasti banyak banget yang dateng. Tips saya :

if you are looking for a place to eat in Semarang, drive downtown, look for the crowdest restaurant/cafe/warung. particularly, look where Tionghoa people are eating. I can bet that place sells good food.

yang saya suka :
mtf_KGxwZ_166??????????

NASI LIWET a.k.a NASI AYAM
sederhana, tapi enaknya bikin saya kangen ke Semarang lagi.
tempatnya di depan sekolah swasta, bukanya kalo pagi.

??????????

KUE MOCHI. ini versi originalnya. dijual dalam kotak bambu (besek) dan kata ibuk, rasanya gak pernah berubah dari ibu kecil. belinya di dekat stasiun.
g

grill and grill (?). cafe yang ada di dekat rumah sakit terkenal di Semarang ini enak buat nongkrong, suasanya cozy, desain interiornya unik banget, makanannya pun okee. lumayan lah buat yang kepingin bergaul di Semarang.

??????????

TAHU PETIS ini legendaris banget. nget. nget. warungnya buka setelah maghrib, dan kalau datang kemaleman dikit pasti nih tahu udah ludes kejual. tahunya garing crispy, dan yang seru kita bisa isi fillingnya sendiri dengan petis. Petis dengan taburan dan aroma bawang putih yang luar biasa. oh ya, jangan lupa mam nya pake cabe hijau nya ya. tempatnya di tengah kota.
??????????

NAGA. atau NASI GANDUL. jangan lewatin menu ini kalo ke Semarang. sebenarnya Naga ini asli dari Pati, tapi banyak juga yang jual di Semarang. Kuah kaldu yang ringan ditambah empal daging, telur bacem dan teman-temannya, enak banget!??????????TAHU GIMBAL. ini jajan siang favorit saya, apalagi kalo ditemenin sama dawet duren. lokasinya di dekat simpang lima, kalau gak salah Segitiga Emas nama “foodcourt” nya. Jadi Tahu Gimbal ini hampir sama seperti Tahu Tek di Sidoarjo, bedanya disini petisnya tidak terlalu kuat, dan ada GIMBAL nya. (bukan, bukan rontokkan rambut mbah Surip). Ada udang di balik Gimbal. itu. enak. pemirsa.

Sekian. sekelumit kuliner semarang favorit saya, yang di-review secara singkat, padat, dan kurang akurat. *Maaf ya, nih saya tambahin biar tambah Accurate.

My Kind of Sundays.

Hari minggu. Hari yang paling pendek dalam seminggu.

Ya gak sih?

Cepet banget lewatnya. Kayak gebetan yang baru diprospek eh tiba tiba kirim undangan.

Well. Tapi hari-hari minggu saya di tahun 2014 ini lebih kayak celana yang sering saya lihat dipakai sama perempuan-perempuan di mall jaman sekarang. Pendek dan rawan masuk angin sih, tapi nyenengin.

Post ini ditulis sehabis ritual gosok-menggosok Minyak Ban Leng andalan ke paha kiri atas selesei. Paha kiri saya yang naas menahan berat badan waktu kepeleset di deket air terjun Cuban Baung kapan hari.

Sambil kusuk-kusuk barusan, saya tersadar. Rasanya sebulan kebelakang hari minggu saya selalu epic. Selalu.

Dan beneran. Setelah check folder foto Path dan camera 360. Iya. Setiap minggu. Tanpa jeda pariwara.

Ada aja dokumentasi saya lagi di sungai, gunung, sawah, lautan… Simpanan kejayaan. Kini ibu sedang lara. Merintih dan berdoa…. *ini lagu apa yak.

Nah. Post ini adalah tribute to my epic sundays. My kind of Sundays.

PS : sebenernya saya mau bikin post satu-satu tiap jalan-jalan yang saya jalan-jalani. Mau sih, tapi malu. Malu soalnya saya masih banyak alasan..eh urusan..eh kerjaan..eh. Yah. Pokoknya niat itu setengah dari amalan kan? Nah. Saya uda niat untuk memperpanjang caption-caption di foto-foto berikut menjadi postingan-postingan yang epic. Se-epic weekends saya. Semoga niat ini cepet terkabul a.k.a ter-tessy.

Amin.

Yah diitung aja deh ini semacam trailer posts saya kedepannya. Oke kan?. *mulai pijitin bapak supir trailer-nya.

Siaaaap?

Oke kita mulai dari Grup Dut!

P.P.S : note to self : posting bukan kehamilan Nadhira, gak perlu kamu tunda-tunda!

mtf_KGxwZ_166[1]

25 – 27 Des 2013. Long weekend.
Tempat : Semarang.
Perihal : mengunjungi nenek, kuliner di semarang, reuni teman lama, jalan-jalanin mama.
Pulangnya lewat pantura sempat mampir ke RA Kartini Jepara dan Goa Akbar Tuban

4 Jan 2013 Tempat : Restoran Apung Perihal : lunch bareng anak kantor. Biasa? Kagak. Namanya nih Apung ya? Padahal tuh resto mancep tanah. Ga ada kolam, ga ada apa-apa. Trus kita tanya yang terapung apa mas? Ke waiternya. Dia senyum. Kemudian petir menyambar. Awan hitam datang. Suasana mencekam. Hujan deras mengguyur. Kemudian? Kita terapung. *jeng jeng jeng.

4 Jan 2013
Tempat : Restoran Apung
Perihal : lunch bareng anak kantor. Biasa? Kagak. Namanya nih Apung ya? Padahal tuh resto mancep tanah. Ga ada kolam, ga ada apa-apa. Trus kita tanya yang terapung apa mas? Ke waiternya. Dia senyum. Kemudian petir menyambar. Awan hitam datang. Suasana mencekam. Hujan deras mengguyur. Kemudian? Kita terapung. *jeng jeng jeng.

mtf_KGxwZ_207

12 Januari 2014

Tempat : SIDOARJO (Alun-alun, Pemancingan Minapolitan, Bebek Kerto, Pazkul, NAV)

Perihal : Main. (aja)

Berhubung saya dianugerahi teman-teman yang agak wajar, ya begini main saya sama mereka. Kalo orang lain, sekali keluar main itu ke cafe aja, mancing aja, hunting foto aja, karaoke aja, makan-makan aja, jalan-jalan aja, main ding-dong aja, atau jaja miharja. Tapi saya dan 3 kawan karib ngelakuin SEMUANYA. Puas? Lemas.

mtf_KGxwZ_180

14 Januari 2014
Tempat: Kediaman.
Perihal : Arisan keluarga besar bahagia.
Besar. Sebesar 68 kepala. Anak-turun dari satu pasang suami-istri. Moh. Rifai (Alm.) dan Siti Honaina (Alm.). Didampingi OM (paman ya, paman. bukan Orkes melayu.red) saya menyumbangkan sebuah lagu dengan sumbang. Bintang Kehidupan oleh Nike Ardila. Sontak, semua gembira.

Camera 360

19 Januari 2014
Tempat : Sungai di Sidoarjo. Tepatnya desa Ketingan, Sidoarjo.
Perihal : NYADRAN LAUT. bisa dibaca di sini 
Berawal dari penasaran, berakhir dengan kepanasan. di sungai. bareng para nelayan. Epic loh. 15 tahun tinggal di Sidoarjo, saya belum pernah tahu ada acara tahunan ini, bahkan belum pernah nyadar kalo banyak nelayan di Sidoarjo, bahkan belum pernah ngeh kalo rumah saya itu hanya sejam dari laut lepas. *duh. maaf. *malu.

25 Januari 2014
Tempat : Kediaman Yenyen. Porong, Sidoarjo.
Perihal : Yenyen & Una’s Engagement Party.
Masih inget kawan-kawan saya yang agak wajar tadi? Nah, ini foto sebagian dari mereka, dalam versi tidak gembel, sedang mendatangi momen bahagia seorang kawan. Setelah 7 tahun berpacaran, mulai momen ini kedepannya Yenyen dan Una akan berpacaran dengan pakai cincin kembaran (bertunangan.red). Semoga cepat menikah ya. Amin. 🙂

Camera 360

31 Januari 2014
Tempat : Pamorbaya. Pantai Timur Surabaya.
Perihal : Jalan-jalan bareng mama, kakak, pacar kakak, dan makyuk the super housemaid.
Dan. Pacar kakak ternyata juga baru sadar kalo laut hanya berjarak setengah jam dari rumahnya di kawasan Rungkut. Haha. Dari jalan-jalan ini, fix saya menambahkan 1 lagi di List Harapan. Catch Sunrise on the East-est Shore of Surabaya. Isn’t it sounds great, to pack breakfast, leave home before subuh, book a boat, and enjoy the rising sun with a cup of hot coffee in hand, off shore. Memang masih banyak sampah plastik berseliweran disana-sini, dan jembatan bambu yang biasa dipakai berfoto sudah rusak dimakan usia, tapi look at the brightside, wildlife disini masih lumayan bagus, burung-burung liar yang bergerombol mencari makan, bahkan pak nahkoda kapal (ceileh) bilang kalau beruntung kita bisa lihat segerombolan monyet-monyet liar. wow. bisa-lah dicatat untuk jadi spot foto paska-wedding saya besok. oya! dan mengendarai (?) kapal itu menyenangkan! I mean, take the steering wheel (?) and drive (?) the boat is so much fun! apalagi lumayan banyak belokan di sungai yang dilewati sebelum akhirnya sampai ke laut.
oya! CP nya bisa hubungi Pak Grama 081553750700

mtf_KGxwZ_247

2 Januari 2014
Tempat : Gunung Bromo, Alun-alun kota Batu
Perihal : Pengalaman pertama membuat Open Trip
ada senangnya, ada serunya, banyak deg-deg-annya. haha. nanti deh saya ceritakan lebih lengkap tentang perjalanan saya ini. tapi the highlight is, just yesterday I enjoyed the sea breeze, the hot and bright sun off shore, dan besoknya saya sudah berada 2770 meter diatas permukaan laut! haha. kalo Weather-lag itu ada, weekend ini saya pasti sudah Weather-lag.

Camera 360

9 Januari 2014
Tempat : Tambang Pasir di Gempol, Air Terjun Cuban Baung di Pasuruan.
Perihal : Jogging Minggu Pagi. (aja.)
wajarnya minggu pagi jogging dimana sih emang? GOR, Alun-alun, atau jalanan-bebas-mobil di tengah kota. Hemm. Saya dan 5 kawan saya yang agak wajar menghabiskan minggu pagi lari-larian di tambang pasir. sounds lame? nope, if you see that this hidden place is overlooking Gunung Penanggungan, dan karena siang itu cerah banget, kita bisa lihat Gunung Gajahmungkur, dan Kompleks Gunung Arjuno di belakangnya. Kenapa saya bilang “hidden place“? karena, tempat ini dekat aja, duh kalau lancar setengah jam kali dari kamar tidur saya, dan saya baru tau ada spot se-awesome ini!. Lebih awesome-nya lagi saya juga baru tau ada “hidden waterfall” di belakang kebun raya purwodadi bernama Air Terjun Cuban Baung. Duh. Duh. dan menurut saya air terjun yang gak jauh-jauh banget dari rumah ini lebih keren dari Air Terjun Dolo di Kediri, Cuban Pelangi, Cuban Rondo, dan beberapa cuban lain yang pernah saya datangi di masa perkuliahan saya dulu. Lebih keren gimana? Ah besok yaa saya ceritakan.

<

p style=”text-align:center;”>16 Januari 2014
Tempat : Mercure Grand Mirama Hotel Surabaya
Perihal : untuk pertama kalinya saya menangkap buket bunga yang dilemparkan oleh pengantin. iya, gestur ritual di pernikahan-pernikahan yang sering kita lihat di tipi itu. “we are calling all the singles in the room to come forward”, said the MC. serta merta refleks simpatik dan motorik saya membawa badan ini maju ke depan panggung. depan sendiri, ditemani senyum di gigi, dan perasaan awkward di dalam hati. haha. 3, 2, 1, lempar! dan kemudian refleks simpatik dan motorik saya pula yang serta merta menyamber buket mawar pink yang nyaris ditangkap saingan saya cece bridesmaid di samping saya. Hap. dan hening sebentar. (mungkin karena the bride lebih kepingin sahabat karibnya mendapat buket bunga itu). dan saya hanya bisa nyengir manja.
respon ibuk : “waduh, berarti habis ini ibuk harus cepet siap-siap.”
hahaha. sebenernya sih bukan superstition itu yang bikin saya senang, tapi angpau setengah juta yang ternyata menyertainya buket ini. Hahaha. Terimakasih cece dan koko. semoga langgeng dan samara!

Meja Segilima (bersambung)

Pernah dengar Republik-ku?

iya Republik anu,

Republik yang banyak rakyatnya, banyak pejabatnya, dan banyak masalahnya. tapi, apa pernah tahu kalau tidak terlalu banyak kepala yang dibutuhkan untuk mengaturnya? cukup lima saja. lima kepala. saling berhadapan di meja segilima.

meja di cafe ku ini memang bentuknya nyeleneh-nyeleneh. Tidak ada yang melingkar atau menyegi-empat. Kebanyakan seginya tiga, lima, atau tujuh. Ganjil. memang.

mungkin karena bentuk mejaku, lima orang itu memilih kesini dan minum kopi. mungkin karena kopiku, mereka merapat disini. kurang jelas. yang jelas aku tahu ada masalah yang lebih besar dibalik kerut di dahi mereka ketika menyeruput kopi. masalah yang caffeine tidak bisa bantu selesaikan. masalah yang bahkan heroin tidak bisa enyahkan.

iya, masalah Republik-ku.

bagaimana aku bisa tahu? karena aku ini bukan cuma pencuri dengar. aku ini barista. lihat telinga cangkir itu? itu telingaku. Biji-biji kopi yang kugiling ini biji-biji mataku. Bibirku bibir cangkir yang mereka cumbu ditiap sesap kopi itu.

aku dengar semua, aku lihat semua, aku rasakan mereka.

sebenarnya harinya tidak tentu, kadang saat terang purnama menerpa padang golf di sebelah cafe-ku, kadang siang bolong ketika cafe ku sedang ramai-ramainya. mereka berlima berhadap-hadapan, dan berbicara. hei jangan kau kira aku mengerti benar pembicaraan mereka. mereka berbicara angka, dan aku hanya menerka-nerka.

tampilan mereka sederhana. wajar dan biasa. dua orang terlihat seperti bapak-bapak yang sering kita temui sedang duduk sabar menanti istri di dalam gerai sebuah pusat perbelanjaan, dua orang lagi berpakaian santai seperti pulang berkebun atau memancing, dan satu wanita berhijab dengan masker selalu menutupi sebagian besar wajahnya.

dari yang kudengar. bapak dengan kaos kerah bergambar buaya, Pak Buaya aku menamainya, adalah orang politik. tapi yang kutahu dia bukan konstituen, bukan kader, bukan legislator. Dia seorang wirausahawan alat kesehatan. Produsen termometer sepertinya, karena dia yang paling lihai memainkan termometer suhu politik Republik. Kadang diangin-anginkan agar dingin, kadang dibiarkan saja agar stabil. Tapi dari apa yang kudengar di percakapan awal tahun mereka kemarin, tahun ini termometer itu akan diselipkan diantara ketiaknya. Biar memanas, katanya. Oh. Pemilu.

kemudian ada Engkong. aku memanggilnya seperti itu karena jika dulu aku lahir di keluarga Tionghoa, aku yakin kakek-ku akan tampak seperti dia. Senyum hangat yang tinggal empat selalu menyertai order Americano tanpa gula-nya. Hei, mungkin aku tidak boleh menceritakan ini kepadamu, tapi kurasa dialah laki-laki yang sering menghimbau kita mencintai produk-produk dalam negeri. Pertama aku merasa ragu, tidak mungkin pria sekaya itu berwujud seperti ini, seperti Engkong yang baru selesai merapikan kebun tetangga. Oh, dan sudahkah kubercerita bahwa dia selalu diantar becak langganannya? meskipun dengan penampilannya yang sederhana, aku yakin aku sempat mengintip dompet negara menyembul di saku belakang celananya.

Pasar. Dia penguasanya. Harga kebutuhan pokok dimainkan semudah dia memainkan rokok klobot kulit jagungnya. Bahan bakar minyak, cabai, daging sapi, semua yang bisa dijual, semua yang dapat dibeli, diaturnya sesuka hati.

Namun, wanita berhijab itu selalu menarik perhatianku, maskernya sekilas membuat ku terkecoh. tapi dari kerling di matanya, lengkung busur sulaman alisnya, aku tahu aku mengenalinya. entah dimana. dia wanita cantik yang belum pernah kulihat kecantikannya. berulang kali aku berusaha membuat percakapan dengannya, tapi dia selalu menunduk dan diam saja, namun sekali dulu pernah kudengar dia berkata sesuatu, detik itulah kutahu penyanyi favoritku sedang bersembunyi dibalik hijab dan masker itu.

Media adalah taman bermainnya. baik yang tercetak dan yang elektronik. sadarkah kamu betapa mudahnya opini masyarakat Republik terbentuk oleh apa yang dibaca dan ditonton sehari-hari? nah, karena itulah menurutku perempuan ini yang terhebat diantara lima orang ini. siapa dan bagaimana ingin di-citra-kan, kapan dan kenapa harus diberitakan, semua dia yang tentukan. kalian pikir siapa yang akhir-akhir ini membuat kita jadi lebih simpati terhadap komodo yang mati daripada saudara-saudara yang hampir enam bulan mengungsi? atau jadi lebih ambil pusing soal komentar Instagram bu Ani daripada isu penyadapan dari negara tetangga?

sosok lelaki dengan kaos polo berkerah berwarna cerah, dan celana khaki selutut, ku berani bertaruh kamu tidak akan mengenalinya. penampilannya necis, wangi parfum eropa yang sering dipakai pelanggan-pelanggan VIP-ku. potongan rambut yang rapi serta bulu-bulu wajah yang tercukur bersih. laki-laki ini tampak sangat smart, tampak ber-mil-mil jauhnya dari aroma menyan, rambut gondrong, brewok panjang dan aura angker yang biasa menyertainya, bahkan lebih jauh lagi dari penggilan akrabnya.

Aki ini, begitu aku memanggilnya, bertanggung jawab terhadap hal-hal yang tidak dapat dipertanggung jawabkan siapa-siapa, mengatur hal-hal yang dulunya aku pikir tidak dapat diatur. entah siapa atau apa yang merewanginya, setahuku dia-lah yang menambah dan mengurangi titik banjir di Jakarta, dan yang bikin aku sedih, kemarin kudengar dia membuat masalah dengan Sang Batara Kala, dan hari ini abu turun di kotaku.

yang terakhir, seorang laki-laki dengan aksen kental yang tidak mampu dia tutupi. seorang laki-laki yang berurusan dengan masalah hukum selama dia hidup. tahukah kamu dimana buku undang-undang itu berdasar? buku harian masa kecilnya. hukum Republik bisa dia tegakkan, maupun dia bengkokkan. dia kembangkan, dia hapuskan. dia jalankan, atau dia runtuhkan. di pihaknya-lah pihak kepolisian, pihak pengadilan, dan pihak kejaksaan Republik ini. siapa harus di-bui? siapa diberi remisi? siapa perlu ditinjau kembali? semua tergantung ujung obrolan di dasar cangkir kopi. ah. tunggu sebentar. berbicara tentang cangkir. sudah bertumpuk cangkir kopi menungguku untuk dicuci. sebentar.

sebentar. besok akan kuceritakan lagi…

To the girls who travel: Don’t date a guy who doesn’t travel

I won’t.

The Gypsea Chronicles

Yes, you are the girl with the unkempt room and poor time management. You have many things in your head, most of which are notes-to-self on what your future self should do or go to. You are a dreamer, and that means that if the guy you date isn’t like you, it’s unlikely to work out.

Don’t date a guy who doesn’t travel. He is the guy with the medicine cabinet filled with shaving cream, hair gel and toothbrushes he doesn’t use anymore. His skin is fair and soft like a baby’s, which means he doesn’t go out much or at all. He is intolerant to the sun, when in fact you love every minute you are under it, soaking each ray of sunshine into your now bronze skin. He combs and styles his hair in memorized strokes every morning (as he has been doing this for months, maybe years…

Lihat pos aslinya 956 kata lagi