Liz.

eh. emm. dimana aku?

Riuh suara serangga dan burung membangunkanku. Hemm. Aku bisa mencium wangi musim panas di udara. Kusingkirkan topi lebar yang menutupi wajahku. Oh. Ternyata aku tertidur di halaman belakang Royal Lodge. Rasanya barusan adalah tidur siang terpanjang. Aku bermimpi aneh tentang London puluhan tahun mendatang. London di tahun 2014. Haha.

Hai, kalian bisa panggil aku Liz. Cukup Liz saja. Karena aku ingin kalian mengenalku sebagai seorang teman. Yah, setidaknya karena aku tidak memiliki terlalu banyak teman. Umurku 20 tahun, dan selama satu dekade terakhir ini hidupku berubah total. Dulu, waktu senggang selalu kuhabiskan bermain di tepian sungai Thames bersama Margareth, adik kesayanganku. Tapi sejak Paman Edward menolak menjadi raja karena memilih untuk menikahi wanita amerika itu, Ayahku lah yang harus naik tahta. Kemudian tiba-tiba, sepertinya secara otomatis dan ter-koordinasi, semua orang memandangku dengan berbeda. Semuanya. Mereka tersenyum dengan lebih lebar, membungkuk dengan lebih dalam. Tingkah mereka seperti mengatakan “Lihat anak perempuan itu, dia adalah calon Ratu Inggris.”

Hufft. Menjadi Ratu bukan cita-citaku. Siapa yang bisa menikmati duduk dan terlihat anggun berjam-jam di hadapan para Perdana Menteri itu, atau membuat berbagai macam obrolan ringan dengan para utusan negara-negara lain di perjamuan minum teh? Meskipun aku menyukai bagian dimana aku harus travelling ke luar negeri, tapi secara garis besar, menurutku, menjadi seorang Ratu itu bukanlah perkerjaan yang menyenangkan.

Sebentar, kurasa aku mendengar Crawfie memanggil namaku. Emm, maaf, maksudku Miss Crawford. Wanita Skotlandia yang telah mengajariku dan adikku berbagai macam mata pelajaran sejak kami kecil.

“Putri Elizabeth! Tuan Putri, kami telah mencarimu kemana-mana..” Ujarnya sambil terengah. “Raja memanggilmu..”

Ayah? Bukankah siang ini beliau rapat dengan para penasehatnya? Hemm. Sebaiknya aku segera kesana.

“Terimakasih, Crawfie!”, seruku sambil berlalu setelah mengecup pipi wanita itu.

Tidak lama aku sudah sampai di depan ruang pertemuan. Belasan laki-laki setengah baya para Penasehat Kerajaan yang sedang duduk melingkar di sofa-sofa besar berdiri dan membungkuk untuk menyambutku, aku membalas mereka dengan senyuman tipis. Entah kenapa, aku dapat merasakan ketegangan tergambar diwajah mereka. Apa yang terjadi? Apa mereka telah melakukan kesalahan dan membuat Ayah marah? Atau aku yang telah melakukan kesalahan? Apa ya?

Otakku berputar keras mengingat apa kesalahan yang kuperbuat akhir-akhir ini sambil perlahan memutar knop pintu emas itu. Aku membungkuk memberi salam kepada Ayah, “Duduklah disini, Lilibet-ku sayang”, panggil Ayah. Aku menatapnya dengan cemberut, sudah lama aku meminta untuk tidak dipanggil dengan panggilan itu lagi, dan baru saat itu kusadari Ayah tidak sendirian di ruangan ini. Seorang laki-laki berperawakan tinggi berseragam British Army berdiri dan tersenyum menyambutku. “Philip!!!”, teriakku berlari memeluknya, dia membalas pelukanku dengan canggung.

Oh. Philip. Philip. Philip. Darimana aku harus mulai bercerita tentangnya? Tentang cinta pertamaku. Pertama kali ku mengenalnya adalah pada pernikahan Paman George-ku dan Bibi Marina, Putri dari kerajaan Yunani-Denmark, sepupu Philip. Aku masih ingat sekali senyuman lembut Philip waktu itu dengan mudah menenangkan Margareth kecil yang menangis karena terjatuh. Di mataku, Philip tidak seperti Pangeran lain yang kukenal. Pangeran-pangeran sombong dan sok pintar dengan tatapan mata yang tinggi. Kebalikannya, Philip sangat rendah hati dan apa adanya, cerita-cerita serunya mengenai pengalamannya belajar di Prancis, Jerman dan Skotlandia selalu sukses memukau aku dan Margareth.

Philip adalah cicit dari Ratu Victoria. Lahir di Yunani 5 tahun sebelum kelahiranku, namun malangnya, ketika dia masih bayi, keluarganya beserta bangsawan-bangsawan kerajaan lain diusir selama-lamanya dari Yunani oleh para demonstran revolusi paska Perang Greco-Turki. Semenjak itu Philip tinggal dan tumbuh di pinggiran kota Paris bersama orang tua dan empat kakak perempuannya.

“Seorang Pangeran Tanpa Kerajaan” itulah sebutan yang diberikan oleh para Penasehat Ayah. Lelaki-lelaki tua itu memang tidak pernah menyetujui hubunganku dengan Philip. Belum lagi Ibuku yang selalu tampak terganggu ketika melihatku bersama dia. Kuakui, Philip bukanlah lelaki dengan tutur kata paling lembut yang pernah aku temui, gelak tawanya yang keras dan selera humornya yang “unik” seringkali membuat telinga Ibuku gatal.

“Ehm. Elizabeth. Duduklah!”, seruan Ayah langsung membuatku melepaskan pelukanku pada Philip dan duduk di kursi terdekat. “Pemuda ini ingin berpamitan denganmu.” Bagai dapat membaca ekspresi kagetku, Philip langsung menerangkan dengan tenang, “Bukan untuk selamanya, Elizabeth. Aku ditugaskan ke Sisilia untuk beberapa saat, jika engkau berkenan, aku akan tetap berusaha menghubungimu. Karena hal yang ingin kusampaikan kepada Paduka Raja telah kusampaikan, sekarang aku akan mohon diri. Sampai bertemu lagi, Putri Elizabeth.” Setelah membungkuk pada Ayah, dan tersenyum padaku, laki-laki itu beranjak pergi. Meninggalkanku yang kebingungan.

“Ayah, ada apa ini?”, tanyaku pada Ayah yang diam termenung. “Lilibet sayang, aku tahu kau mengenal pemuda itu sejak kecil, tapi apakah kau benar-benar menyayanginya?”, pertanyaan Ayah semakin membuatku bingung. “Tentu saja, Ayah. Tentu saja. Bila suatu hari nanti aku akan menikah, aku akan menikah dengannya.”, jawabku cepat.

“Tapi kau akan menjadi Ratu dari kerajaan Inggris, apakah kau yakin pemuda seperti itu pantas mendampingimu? Lalu bagaimana dengan hubungannya dengan ipar-iparnya para bangsawan Nazi itu? Atau dengan Ibunya yang sekarang masuk Rumah Sakit Jiwa? Bagaimana bisa dia menjadi pendampingmu bila kau menjadi Ratu?,” Suara Ayah mulai meninggi. “Kau pantas untuk seorang Pangeran dengan darah biru murni, seorang Pangeran dengan kekayaan dan kerajaan yang kuat sehingga mampu melindungimu dan rakyatmu. Bukan pemuda seperti dia.”

“Tapi Ayah…”, “Dengarkan Lilibet, barusan pemuda itu datang meminta restu Ayah untuk menikahimu. Sayang sekali, ini bukanlah keputusan yang mudah bagi Ayah..”

Kalimat-kalimat yang kudengar barusan membuatku merasa senang, sedih dan marah disaat yang bersamaan. Tidak dapat kubayangkan menghabiskan sisa hidupku bersama lelaki selain Philip, menjalani kehidupan pernikahan tanpa cinta seperti bibi-bibiku. Aku menarik nafas panjang, mencoba menenangkan diri dan mengatur kata yang akan aku ucapkan.

“Ayah, untuk naik tahta dan mempertahankan kerajaan ini seorang diri adalah suatu beban besar yang sudah Ayah taruh dipundakku. Aku tidak pernah memilih untuk menjadi seorang Ratu, jadi setidaknya biarkan aku memilih siapa yang akan menjadi suamiku.”, aku berusaha menahan tangis . “Philip mungkin bukanlah lelaki yang sempurna di mata Ayah, tapi aku yakin dia adalah lelaki yang sempurna untukku.”

Tidak dapat membendung airmata, aku segera berlari meninggalkan Ayah. Mungkin aku tak sengaja menginjak ujung gaunku, yang kutahu detik berikutnya aku terjatuh dan membenturkan kepalaku ke lantai, semuanya tiba-tiba menjadi gelap, suara Ayah yang memanggil namaku terdengar semakin jauh.

Rasanya ratusan pound beban menggantungi kedua kelopak mataku. Sekuat tenaga aku mencoba untuk membukanya. Perlahan suasana disekitarku mulai terlihat. Serba putih. Disampingku dapat kulihat sesosok lelaki tua dengan wajah familiar memegang tangan kiriku. Sepertinya aku mengenalnya. Mengapa dia menangis?

“Elizabeth? ELIZABETH? dapatkah kamu mendengarku?? Elizabeth-sayang?” “William! Panggilkan dokter, nenekmu sudah tersadar!”

Itu Philip. Iya itu dia. Aku dapat mengenali senyumannya dibalik semua kerutan diwajahnya itu. “Tentu saja, Phil. Kenapa kamu begitu tua?”

“Apa? Apa yang kau bicarakan Liz? haha.. Aku senang kau kembali, aku pikir aku telah kehilanganmu” Ujarnya sambil berulang kali mencium tanganku. Tunggu, kenapa tanganku terlihat begitu kisut.

“Phil, dimana aku?”, “Engkau berada di ICU sayangku, tidakkah kau ingat terbentur pagar tanaman akhir pekan kemarin? apa yang kau rasakan sekarang? kau tidak apa-apa?”

Oh mungkin itu kenapa keningku terasa begitu sakit, tapi entah mengapa melihat lelaki ini disampingku sekarang membuatku merasa begitu damai. “Aku tidak apa-apa, Phil. Barusan aku bermimpi indah..”

 


Hai, Mr. Potato! Ini saya Nadhira.

Tulisan ini saya buat untuk mengikuti Blog Contest Ngemil Eksis Pergi ke Inggris yang diadakan oleh Mr. Potato periode 1-31 Mei 2014.

Syaratnya adalah untuk menulis entri blog bertema “Kenapa saya harus pergi ke Inggris?”

Emm.. Jika cerita pendek diatas belum dapat menjelaskannya, kenapa saya harus ke Inggris? tentu saja, karena saya ingin bertemu dengan Liz. Atau, setidaknya dapat mengintip sedikit kehidupan Beliau dari Buckingham Palace.

Kehidupan British Royal Family selalu menarik bagi saya. Dibalik kesempurnaan citra mereka, tersimpan kehidupan pribadi yang misterius dan dijaga dengan ketat. Saya selalu salut dengan bagaimana mereka dapat menjalani kehidupan sehari-hari dibalik pengamatan mikroskopik media seluruh dunia.

Membaca kisah-kisah mereka, selalu membuat saya ber-imajinasi, bagaimana bila suatu hari nanti saya menjadi salah satu dari British Royal Family? Bertemu dengan seorang pangeran dan tidak sengaja membuatnya jatuh hati? Hahaha. THAT’D BE AWESOME!

And I’ll never be royals (royals)
It don’t run in my blood
That kind of lux just ain’t for us, we crave a different kind of buzz
But let me be your ruler (ruler)
You can call me queen bee
And baby I’ll rule, I’ll rule, I’ll rule, I’ll rule
(MR. POTATO PLEASE) Let me live that fantasy…

Nyemil sebelum snorkling. On my way to Kodingarengkeke, desserted island on South Sulawesi.

Nyemil dulu sebelum snorkling. On my way to Kodingarengkeke, desserted island on South Sulawesi.

 

Iklan

2 thoughts on “Liz.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s